Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/Tim van der Kuip)
  • Toxic masculinity di tempat kerja dapat muncul lewat penolakan menunjukkan kelemahan, penekanan emosi, dan anggapan dominasi sebagai kekuatan, sehingga komunikasi serta kolaborasi tim terganggu.
  • Bias gender terlihat ketika kontribusi perempuan diremehkan, sementara sikap menolak kritik, perubahan, dan pembelajaran baru dapat menghambat kreativitas, inovasi, serta perkembangan tim.
  • Budaya yang mengukur nilai diri dari kerja berlebihan dan mengabaikan keseimbangan hidup berisiko memicu stres, burnout, penurunan produktivitas, dan hubungan sosial yang terganggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam dunia kerja yang penuh dinamika, masih terdapat berbagai sikap dan pola perilaku yang sering muncul tanpa disadari, terutama yang berkaitan dengan konsep maskulinitas beracun atau yang kerap disebut sebagai toxic masculinity. Fenomena ini tidak hanya merugikan lingkungan kerja, tetapi juga menghambat perkembangan individu dan tim secara keseluruhan.

Toxic masculinity seringkali tidak terlihat secara kasat mata karena dianggap sebagai hal biasa atau wajar. Padahal, sikap tersebut mampu menimbulkan dampak negatif yang serius, baik secara emosional maupun produktivitas kerja. Beberapa bentuknya muncul dalam bentuk meremehkan rekan kerja perempuan, menolak menunjukkan kerentanan, hingga merasa berhak mendominasi percakapan atau pengambilan keputusan.

Untuk menciptakan ruang yang adil dan produktif, yuk simak ketujuh toxic masculinity yang sering tidak disadari di tempat kerja di bawah ini. Jangan dilewatkan, ya!

1. Menolak menunjukkan kelemahan

ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/Christian Velitchkov)

Salah satu bentuk toxic masculinity yang sering muncul di lingkungan kerja adalah keengganan untuk menunjukkan kelemahan. Banyak laki-laki diajarkan sejak kecil bahwa menampilkan emosi atau kelemahan dianggap sebagai tanda kelemahan, sehingga mereka merasa harus selalu terlihat kuat dan tangguh. Sikap ini terbawa ke dunia kerja, di mana ekspresi jujur seperti rasa takut, cemas, atau bahkan ketidakpahaman terhadap tugas dianggap tabu untuk ditunjukkan.

Dalam jangka panjang, sikap menolak kerentanan dapat menimbulkan budaya kerja yang penuh kepalsuan. Rekan kerja yang merasa harus terus menutupi kelemahannya akan kesulitan untuk belajar dari kesalahan atau meminta bimbingan. Padahal, menunjukkan kerentanan bukan berarti lemah, melainkan tanda keberanian untuk mengakui keterbatasan diri. Dengan membuka ruang untuk berbagi perasaan atau kesulitan, lingkungan kerja justru akan menjadi lebih suportif dan inklusif.

2. Meremehkan kontribusi perempuan

ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/linkedinsalesnavigator)

Perilaku meremehkan kontribusi perempuan juga merupakan salah satu wujud toxic masculinity yang sering luput dari perhatian. Dalam banyak kasus, ide atau gagasan yang disampaikan perempuan diabaikan atau dianggap kurang berbobot dibandingkan dengan rekan laki-laki, meskipun isinya sama atau bahkan lebih berkualitas. Ketidaksetaraan semacam ini menunjukkan adanya bias gender yang tertanam dalam pola pikir sebagian besar individu di tempat kerja.

Jika dibiarkan, sikap meremehkan perempuan akan menghambat perkembangan tim dan menciptakan ketidakadilan yang nyata. Perempuan akan merasa suaranya tidak dihargai, sehingga enggan untuk berbicara atau berinisiatif dalam forum profesional. Hal ini tentu berpengaruh buruk terhadap produktivitas serta keragaman perspektif yang sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.

3. Menganggap dominasi sebagai kekuatan

ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/phyoemin)

Banyak orang masih meyakini bahwa dominasi adalah simbol kekuatan di tempat kerja. Sikap ini terlihat dari cara seseorang selalu ingin berbicara paling keras, mengambil keputusan tanpa mendengar pendapat tim, atau menunjukkan sikap otoriter. Padahal, kepemimpinan sejati justru muncul dari kemampuan untuk mendengar, menghargai, dan berkolaborasi dengan orang lain. Mengutamakan dominasi hanya akan menimbulkan ketegangan dan mematikan semangat kerja sama.

Menganggap dominasi sebagai ukuran kekuatan pada akhirnya merugikan banyak pihak. Rekan kerja yang merasa ditekan atau tidak diberi kesempatan menyampaikan pandangan akan kehilangan motivasi. Situasi ini bisa berujung pada menurunnya kinerja tim secara keseluruhan. Pemimpin maupun anggota tim seharusnya mampu memahami bahwa kekuatan sejati berasal dari kerja sama yang saling mendukung, bukan dari sikap mendominasi.

4. Mengukur nilai diri dari produktivitas berlebihan

ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/Mina Rad)

Toxic masculinity di tempat kerja juga sering terlihat dari kecenderungan untuk mengukur nilai diri berdasarkan produktivitas yang berlebihan. Seseorang merasa baru dihargai ketika mampu bekerja lebih lama, mengambil lebih banyak tugas, dan terus-menerus menunjukkan kesibukan. Pola ini tidak hanya membahayakan kesehatan mental dan fisik, tetapi juga menciptakan standar tidak sehat yang memengaruhi seluruh tim.

Budaya kerja yang menilai individu hanya dari seberapa sibuk ia terlihat, pada akhirnya melahirkan kelelahan kolektif. Pekerja yang merasa harus terus membuktikan dirinya dengan produktivitas berlebihan berisiko mengalami kelelahan kronis (burnout). Tempat kerja yang sehat seharusnya menekankan keseimbangan antara kualitas kerja dan kesejahteraan karyawan, bukan hanya kuantitas. Dengan mengubah pola pikir ini, semua pihak dapat lebih fokus pada hasil yang berkelanjutan.

5. Mengabaikan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan

ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/priscilladupreez)

Bentuk lain dari toxic masculinity adalah mengabaikan pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Banyak orang masih menganggap bahwa semakin lama seseorang berada di kantor atau semakin sedikit ia memiliki waktu untuk keluarga, maka semakin besar dedikasi yang ditunjukkan. Pandangan ini lahir dari budaya patriarki yang menilai keberhasilan laki-laki hanya dari prestasi profesional, sementara aspek kehidupan pribadi sering diabaikan.

Mengabaikan keseimbangan ini membawa dampak serius, baik untuk kesehatan mental maupun hubungan sosial. Individu yang tidak memiliki waktu cukup untuk diri sendiri, keluarga, atau aktivitas di luar pekerjaan cenderung lebih cepat mengalami stres. Dalam jangka panjang, produktivitas justru menurun karena kelelahan emosional yang menumpuk. Menyadari pentingnya keseimbangan hidup adalah langkah krusial untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.

6. Menekan ekspresi emosional

ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/Lala Azizli)

Toxic masculinity juga sering terlihat dari kebiasaan menekan ekspresi emosional di lingkungan kerja. Emosi seperti sedih, takut, atau kecewa sering dianggap tidak pantas ditunjukkan, terutama oleh laki-laki, karena dianggap berlawanan dengan citra kuat dan rasional. Akibatnya, banyak pekerja memilih untuk menyembunyikan perasaan mereka, meskipun hal tersebut berpotensi menimbulkan stres dan konflik batin.

Ketika ekspresi emosional ditekan, komunikasi yang sehat dalam tim akan terganggu. Rekan kerja mungkin terlihat tenang di luar, tetapi menyimpan perasaan yang sebenarnya bisa meledak sewaktu-waktu. Mengizinkan ruang bagi ekspresi emosional justru akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih empatik dan terbuka. Dengan cara ini, hubungan profesional menjadi lebih jujur dan mendukung satu sama lain.

7. Menolak perubahan dan pembelajaran baru

ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/Javad Esmaeili)

Sikap menolak perubahan dan pembelajaran baru juga termasuk dalam kategori toxic masculinity. Banyak orang yang merasa dirinya sudah cukup tahu atau tidak perlu belajar hal baru karena ingin mempertahankan posisi dominan. Padahal, dunia kerja terus berubah, dan kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kunci kesuksesan. Ketidakmauan untuk menerima kritik atau mencoba pendekatan baru membuat individu tertinggal dan menghambat perkembangan tim.

Ketika seseorang bersikap kaku terhadap perubahan, maka kreativitas dan inovasi di lingkungan kerja akan terhambat. Tim menjadi sulit berkembang karena terjebak dalam pola lama yang tidak relevan dengan kebutuhan zaman. Sebaliknya, keterbukaan terhadap pembelajaran baru menunjukkan kerendahan hati dan kemauan untuk tumbuh. Menolak perubahan hanya akan memperkuat pola toxic masculinity yang merugikan banyak pihak.

Dengan saling menghormati kontribusi setiap individu serta mendukung keseimbangan hidup, tempat kerja dapat menjadi ruang yang mendorong pertumbuhan semua pihak. Perubahan ini memang membutuhkan waktu, tetapi langkah kecil dari setiap individu mampu membawa dampak besar bagi masa depan lingkungan kerja yang lebih positif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article