Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Celluma Hadir di Indonesia, Bawa Cara Baru Memahami Kulit Sehat

Celluma Hadir di Indonesia, Bawa Cara Baru Memahami Kulit Sehat
Suasana peluncuran Celluma (Dok. Redo Marketing Indonesia)
  • Celluma, perangkat terapi cahaya berbasis photobiomodulation dari riset NASA, resmi hadir di Indonesia melalui PT Redo Marketing Indonesia pada Aruna International Summit 2026 di Jakarta.
  • Teknologi ini menekankan pemahaman kesehatan kulit hingga tingkat sel, dengan energi cahaya memicu respons biologis, bukan sekadar mengejar tampilan glowing.
  • Celluma Indonesia Advisory Board dibentuk untuk menjembatani teknologi global dengan kebutuhan dermatologis lokal, mengedepankan bukti ilmiah, etika, keselamatan pasien, serta penggunaan perangkat yang tepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Dunia perawatan kulit kini nggak cuma bicara soal apa yang terlihat di cermin. Perkembangan teknologi membawa perhatian lebih jauh, hingga ke tingkat sel yang menjadi dasar berbagai proses kesehatan dan regenerasi kulit.

Salah satu teknologi yang hadir dengan pendekatan tersebut adalah Celluma, perangkat terapi cahaya yang dikembangkan dari riset biostimulasi cahaya NASA untuk astronot. Celluma resmi hadir di Indonesia melalui PT Redo Marketing Indonesia, sekaligus memperkenalkan Celluma Indonesia Advisory Board yang beranggotakan para dokter senior di bidang dermatologi. Peluncuran itu dilaksanakan di Aruna International Summit 2026 pada 4–6 September 2026 bertempat di Hotel Raffles Jakarta

Kehadiran Advisory Board ini menjadi langkah untuk memastikan teknologi photobiomodulation (PBM) dapat diterapkan secara tepat dan relevan dengan kebutuhan kulit masyarakat Indonesia.

  1. 1. Bukan cuma soal glow, tapi apa yang terjadi di balik kulit

    ilustrasi perawatan kulit (pexels.com/Engin Akyurt)
    ilustrasi perawatan kulit (pexels.com/Engin Akyurt)

    Selama ini, istilah kulit sehat sering dikaitkan dengan tampilan yang glowing, cerah, atau bebas masalah. Namun, pendekatan berbasis sains melihat kesehatan kulit dari sisi yang lebih dalam.

    Dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E, FINSDV, anggota Celluma Indonesia Advisory Board, mengatakan penting untuk memahami bagaimana energi cahaya berinteraksi dengan sel kulit dan menghasilkan respons biologis.

    “Kami tidak berhenti pada pertanyaan what the device does on the skin. Lebih jauh, kami ingin memahami what happens inside the cell, bagaimana energi cahaya berinteraksi dengan cellular chromophores, dan bagaimana interaksi tersebut diterjemahkan menjadi respons biologis,” ujarnya.

    Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi titik pertemuan antara science, teknologi, dan praktik klinis. Dengan begitu, photobiomodulation tidak hanya hadir sebagai tren kecantikan, tetapi juga sebagai teknologi yang mekanismenya dapat dipahami dan didukung oleh bukti ilmiah.

  2. 2. Tren Longevity bikin cara pandang soal kulit ikut berubah

    Ilustrasi klinik kecantikan (freepik.com/Holiak)
    Ilustrasi klinik kecantikan (freepik.com/Holiak)

    Perawatan kulit juga mulai bergerak dari sekadar memperbaiki tampilan menuju upaya mempertahankan fungsi dan kesehatan kulit dalam jangka panjang.

    Dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, Kepala Departemen Dermatologi RSPNN sekaligus anggota Celluma Indonesia Advisory Board, mengatakan perubahan tersebut sejalan dengan tren longevity yang berkembang secara global.

    “Tren longevity yang tengah menjadi tren global bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara berpikir baru: bagaimana menjaga kulit tetap sehat dan berfungsi baik selama mungkin, bukan sekadar menutupi tanda usia,” kata dr. Ruri.

    Dalam konteks ini, “glow” juga memiliki arti yang lebih luas. Bukan hanya tentang kulit yang terlihat berkilau, tetapi juga dapat menjadi gambaran dari kondisi kulit yang sehat.

    “Yang ingin saya sampaikan lewat forum ini, kulit yang sehat selalu dimulai dari dalam, dari unit terkecilnya. Dan yang kita butuhkan adalah bukti ilmiah, pendekatan yang berpijak pada ilmu dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

    Ia berharap pendekatan tersebut bisa mendorong hadirnya standar perawatan kulit yang lebih rasional, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

  3. 3. Celluma hadir lebih dekat dengan kebutuhan Indonesia

    WhatsApp Image 2026-09-04 at 15.01.42.jpeg
    Suasana peluncuran Celluma (Dok. Redo Marketing Indonesia)

    Kehadiran Celluma di Indonesia tidak hanya ditandai dengan peluncuran perangkat, tetapi juga pembentukan Celluma Indonesia Advisory Board. Forum ini menjadi jembatan antara perkembangan teknologi global dengan realitas dermatologis di Indonesia.

    Dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, IFAAD, Direktur Medis Senopati Skin Center sekaligus anggota Advisory Board, mengatakan perkembangan teknologi estetika dan kedokteran regeneratif perlu tetap berjalan bersama bukti ilmiah, etika, dan keselamatan pasien.

    “Sebagai advisory board, komitmen kami adalah menjembatani sains dengan realitas dermatologis di Nusantara,” ujarnya.

    Menurutnya, para dokter juga perlu memahami cara menggunakan perangkat, mengetahui indikasinya, serta mampu mengoptimalkan penggunaannya dalam praktik sehari-hari.

    Sementara itu, Vanda Wulandari, National Sales Manager PT Redo Marketing Indonesia, mengatakan Celluma memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya hadir di Indonesia. Teknologi ini disebut telah didukung 15 tahun data klinis, FDA Clearance, dan Medical CE Mark. Celluma juga telah hadir di hampir 100 negara dengan lebih dari 35.000 perangkat digunakan di seluruh dunia.

    “Celluma datang bukan tanpa bukti, dan bukan tanpa perjalanan panjang. Bagi kami, ini bukan sekadar peluang bisnis. Ini adalah amanah,” ujar Vanda.

    Celluma Indonesia Advisory Board sendiri terdiri dari dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, IFAAD; dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV; serta dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E, FINSDV.

Share Article
Editorial Team

Related Articles