Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Fakta Terbaru Erupsi Gunung Anak Krakatau, 8 Bandara Tutup hingga PJJ
Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi (Dok. esdm.go.id)
  • Gunung Anak Krakatau erupsi menerus sejak 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, memunculkan gemuruh, dentuman, dan semburan merah menyerupai air mancur lava.
  • Aktivitas yang berstatus Level III Siaga sejak Juli 2026 menghasilkan abu vulkanik yang terdeteksi menyebar ke Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.
  • Sebaran abu membatalkan tiga penerbangan di Bandara Radin Inten II Lampung; warga dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer, sementara potensi tsunami belum teridentifikasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
22 Desember 2018

Erupsi sebelumnya membentuk kembali tubuh Gunung Anak Krakatau, yang kini dinilai masih relatif kecil.

16 Desember 2023

Gunung Anak Krakatau memasuki jeda erupsi yang cukup lama.

2 Juli 2026

Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dan status aktivitasnya dinaikkan menjadi Level III (Siaga).

5 September 2026

Erupsi menerus terjadi sejak pukul 23.07 WIB dengan suara gemuruh, lontaran batu pijar, dan abu vulkanik. Penerbangan di Bandara Internasional Radin Inten II Lampung dibatalkan akibat sebaran abu; evaluasi juga menyatakan belum ada potensi keruntuhan yang dapat memicu tsunami.

6 September 2026

Abu vulkanik terdeteksi menyebar ke Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

hingga saat ini

Badan Geologi terus memantau aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus disertai suara gemuruh, dentuman, semburan merah menyerupai air mancur lava, lontaran batu pijar, aliran lava, dan abu vulkanik.
  • Who?
    Badan Geologi Kementerian ESDM memantau aktivitas erupsi; BMKG memantau sebaran abu; masyarakat, wisatawan, dan penerbangan terdampak oleh peringatan serta abu vulkanik.
  • Where?
    Erupsi terjadi di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Abu terdeteksi di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.
  • When?
    Erupsi menerus tercatat sejak 5 September 2026 pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung pada 6 September 2026 pukul 04.40 WIB. Aktivitas erupsi kembali terjadi sejak 2 Juli 2026.
  • Why?
    Erupsi terjadi dalam rangkaian aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang berstatus Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Hingga 5 September 2026, belum ada potensi keruntuhan yang memicu tsunami.
  • How?
    Abu menyebar melalui ruang udara pada ketinggian hingga 20.000 dan 50.000 kaki. Tiga penerbangan di Bandara Radin Inten II dibatalkan, sementara zona larangan aktivitas diberlakukan dalam radius 3 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Anak Krakatau meletus terus pada 5 September 2026. Gunung itu mengeluarkan suara gemuruh, batu panas, abu, dan cahaya merah seperti air mancur. Abu pergi ke Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Tiga pesawat di Lampung dibatalkan supaya aman. Sekarang gunung masih siaga, dan orang tidak boleh dekat dalam 3 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah peningkatan aktivitas Anak Krakatau, respons pemantauan menunjukkan kesiapsiagaan yang terukur: Badan Geologi terus mengevaluasi kondisi gunung, BMKG menyediakan citra sebaran abu, dan pembatalan penerbangan dilakukan demi keselamatan penumpang serta kru. Evaluasi juga belum menemukan potensi keruntuhan skala pemicu tsunami, sementara pembatasan radius aktivitas memberi perlindungan jelas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, mengakibatkan sebaran abu vulkanik di lima provinsi, dan mengakibatkan gangguan ratusan penerbangan.

Badan Geologi menyebut fenomena erupsi tersebut merupakan jenis lava fountain atau air mancur lava yang disertai lontaran material vulkanik. Saat ini, status Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Masyarakat yang mendapati abu vulkanik di wilayahnya diimbau tetap tenang dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Warga juga diminta mengikuti informasi serta arahan resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sementara, berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 06.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki teramati ke arah Timur Laut-selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta perairan sekitarnya.

Sedangkan, sebaran dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki teramati ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten.

Berikut fakta-fakta terbaru erupsi Gunung Anak Krakatau yang memiliki ketinggian sekitar 157 meter di atas permukaan laut (Mdpl) itu.

1. Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus dan air mancur lava

Erupsi Gunung Anak Krakatau semburkan lava pijar (X.com/badangeologi_)

Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, yang disertai suara gemuruh.

Erupsi menerus adalah aktivitas vulkanik gunung api mengeluarkan material magmatik seperti lava, gas, abu, atau material pijar, secara terus-menerus tanpa jeda yang signifikan dalam jangka waktu tertentu.

Dalam laporannya, Badan Geologi menyebut erupsi masih berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 04.40 WIB, suara gemuruh dan dentuman pun masih terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau Pasauran.

Erupsi yang terjadi kali ini menghasilkan fenomena jenis lava fountain atau air mancur lava yang menyembur berwarna merah. Erupsi ini merupakan fenomena yang umum terjadi pada aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Namun, aktivitas erupsi ini dapat menjadi ancaman bahaya, karena aliran lava yang disertai lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

2. Aktivitas erupsi sudah berlangsung sejak Juli 2026

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, Senin (24/8/2026). (Dok. Magma ESDM).

Badan Geologi juga mencatat Gunung Anak Krakatau sebelumnya mengalami erupsi pada 2 Juli 2026, setelah mengalami jeda erupsi cukup lama sejak 16 Desember 2023.

Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan menjadi Level III (Siaga). Setelah itu, seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga 5 September 2026.

Erupsi tipe strombolian adalah jenis letusan gunung berapi yang bersifat eksplosif ringan hingga sedang, dengan interval waktu yang relatif teratur dan berulang.

3. Abu vulkanik menyebar di lima provinsi

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga warga di Jakarta Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Anata Siregar)

Badan Geologi merekomendasikan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Untuk memantau pergerakan abu vulkanik, BMKG juga menyediakan citra satelit khusus sebaran abu vulkanik Anak Krakatau.

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terdeteksi menyebar ke enam provinsi pada Minggu (6/9/2026), yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Berdasarkan citra satelit Himawari-9 yang dianalisis BMKG, abu pada ketinggian hingga 20 ribu kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Sedangkan, abu pada ketinggian hingga 50 ribu kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.

4. Abu vulkanik berdampak pada ratusan penerbangan

Suasana Bandara Soekarno Hatta di terminal domestik Minggu (6/9/2026) pukul 03.29 WIB. Sebanyak 33 penerbangan internasional dan domestik terganggu akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. (IDN Times/Sunariyah)

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah berdampak langsung terhadap ratusan penerbangan internasional maupun lokal. Seperti penerbangan di Bandara Internasional Radin Inten II Lampung dibatalkan pada Sabtu, 5 September 2026, setelah abu vulkanik menyebar ke ruang udara yang dilalui jalur penerbangan.

General Manager Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, mengatakan keputusan tersebut diambil untuk menjaga keselamatan penumpang dan kru pesawat. Tiga penerbangan yang dibatalkan yaitu TransNusa 5205 rute Cengkareng (CGK)-Lampung (TKG), TransNusa 5206 rute Lampung (TKG)-Jakarta (CGK), dan Lion Air 242 rute Cengkareng (CGK)-Lampung (TKG).

Sebanyak 764 penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta juga terganggu akibat penghentian operasional bandara tersebut sampai Minggu (6/9/2026) pukul 18.00 WIB.

Belasan penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali juga mengalami pembatalan dan penyesuaian jadwal penerbangan, dampak peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Minggu.

Communication & Legal Division Head Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Gede Eka Sandi Asmadi, mengatakan per Minggu sekitar pukul 10.00 Wita, kedatangan penerbangan yang dibatalkan 5 rute, dan 12 rute penerbangan dalam kategori dibatalkan dan terlambat keberangkatannya.

5. Potensi adanya tsunami dinilai rendah

Ilustrasi zona evakuasi tsunami (unsplash.com)

Badan Geologi menyatakan kondisi tubuh gunung yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018, masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi hingga 5 September 2026, tubuh Gunung Anak Krakatau dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Namun, perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif. Dengan status masih Level III (Siaga), Badan Geologi melarang masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun pihak lain memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

6. Dinas Pendidikan terapkan PJJ seluruh sekolah di Jakarta

Ilustrasi sekolah jarak jauh (freepik.com/jcomp)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai Senin (7/9/2026), untuk seluruh satuan pendidikan di Jakarta, menyusul adanya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mencapai wilayah DKI Jakarta.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana, mengatakan, penerapan PJJ bukan berarti kegiatan pendidikan dihentikan. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan.

Menurut Nahdiana, untuk memastikan pelaksanaan PJJ berjalan dengan baik, Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan seluruh satuan pendidikan dan melakukan pendampingan, pemantauan pelaksanaan proses pembelajaran serta memberikan alternatif apabila terjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran.

“Keselamatan dan kesehatan anak-anak adalah prioritas. Kami juga mengimbau orang tua mendampingi anak selama belajar dari rumah dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi,” ucap dia, Minggu (6/9/2026).

7. Delapan bandara ditutup sementara

Suasana Bandara Soekarno Hatta di terminal domestik Minggu (6/9/2026) pukul 03.29 WIB. Sebanyak 33 penerbangan internasional dan domestik terganggu akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. (IDN Times/Sunariyah)

Berdasarkan keterangan resmi Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG, ada delapan bandara di sekitar Gunung Anak Krakatau yang operasionalnya terdampak, sebagai berikut:

1. CGK - Soekarno Hatta, Tangerang, Banten: CLOSED pukul 02.08 - 17.30 WIB

2. HLP - Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur: CLOSED pukul 07.20 - 18.00 WIB

3. TKG - Radin Inten II, Lampung: CLOSED pukul 04.18 - 14.00 WIB

4. BDO - Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat: CLOSED pukul 12.07 - 16.00 WIB

5. RTO - Budiarto, Curug, Tangerang, Banten: CLOSED pukul 06.48 - 17.30 WIB

6. PCB - Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten: CLOSED pukul 10.05 - 14.00 WIB

7. TFY - Taufik Kiemas, Pesisir Barat, Lampung: CLOSED pukul 11.30 - 15.00 WIB

8. PXA - Atung Bungsu, Demo, Sumatra SELATAN: CLOSED pukul 13.34 - 17.00 WIB.

8. Pemerintah buat hujan buatan untuk bersihkan abu vulkanik

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga warga di Jakarta Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Anata Siregar)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Minggu (6/9/2026), untuk menekan dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Operasi penyemaian awan menyasar tiga wilayah terdampak utama, yaitu DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.

Kepala BNPB, Suharyanto, mengonfirmasi Armada pesawat OMC telah disiagakan penuh dari Pangkalan Udara Pondok Cabe. Operasi ini ditargetkan mampu memulihkan kualitas udara dan aktivitas warga.

“Hari ini juga kita melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Jadi pesawatnya sudah siap di Pondok Cabe,” kata Suharyanto dalam konferensi pers daring, Minggu.

Suharyanto menjelaskan, BNPB menyiapkan dua skenario teknis dalam operasi udara tersebut. Metode utama berfokus memicu curah hujan deras guna membilas endapan abu di area permukiman.

Apabila potensi awan hujan minim, BNPB bersama BMKG mengalihkan strategi ke teknik penyemprotan air (water mist). Metode ini terbukti efektif mengikat serta menjatuhkan partikel abu halus dari udara.

Suharyanto berharap operasi intensif hingga Minggu malam dapat mempercepat pemulihan kondisi lingkungan di seluruh wilayah terdampak.

9. Tidak ada korban jiwa

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengarah ke barat Selat Sunda, Minggu (6/9/2026). (Dok. BMKG)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan belum ada laporan korban jiwa akibat erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Minggu (6/9/2026). Kondisi tersebut diketahui berdasarkan laporan sementara dari sejumlah wilayah yang terdampak.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pihaknya telah melakukan konferensi video dengan para kepala pelaksana BPBD di daerah terdampak, untuk memantau perkembangan situasi. Dari laporan tersebut, belum ditemukan adanya korban jiwa.

“Semua melaporkan bahwa tidak ada korban jiwa, sementara yang dilaporkan dampak secara fisik untuk kerusakan ini terus masih dilakukan pendataan,” kata Suharyanto dalam konferensi pers daring, Minggu.

10. Presiden Prabowo minta masyarakat pakai masker dan kacamata

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga Depok, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Umi Kalsum)

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, menyatakan Presiden Prabowo Subianto terus memantau pergerakan erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, Kepala Negara menginstruksikan seluruh jajaran memprioritaskan keselamatan warga.

"Pertama, Bapak Presiden dan Pemerintah memantau secara cermat perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, beserta setiap potensi dampaknya. Seluruh pemantauan dilakukan berdasarkan data dan rekomendasi lembaga teknis yang berwarna. Kemudian, keselamatan dan keamanan masyarakat adalah prioritas utama dari Bapak Presiden dan Pemerintah," ujar Qodari dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9/2026).

Qodari menyampaikan instruksi langsung Presiden Prabowo bagi wilayah terdampak abu vulkanik. Warga diminta disiplin mengenakan masker dan pelindung mata ketika terpaksa beraktivitas di luar rumah.

"Bapak Presiden dan Pemerintah mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan waspada selama vulkanik masih turun. Seluruh warga yang berdampak dapat menjalankan langkah berikut. Pertama, gunakan masker penutup hidung dan mulut," kata dia.

"Yang kedua, lindungi mata dengan kacamata, melindungi saat beraktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela, tutup rapat tempat penampungan air bersih, kemudian minum air putih yang cukup, serta cuci tangan dan wajah setelah beraktivitas. Warga yang membutuhkan bantuan dapat langsung menghubungi layanan darurat," lanjut dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article