Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
25 Tahun Accor Dampingi Anak Rentan Menata Masa Depan Lewat ATFAC
Anak-anak asuh ATFAC mengikuti latihan taekwondo di Sanggar ATFAC, Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (24/7/2026). (IDN Times/Zahira Hilman)

Jakarta, IDN Times - Selama 25 tahun terakhir, Accor Indonesia melalui program A Trust For A Child (ATFAC) mendampingi anak-anak dari keluarga rentan agar tetap mengenyam pendidikan, memperoleh kesehatan, hingga memiliki bekal memasuki dunia kerja. 

Social Program Manager ATFAC, Tonton Heryanto, mengatakan program tersebut lahir dari kepedulian para pimpinan Accor terhadap banyaknya anak yang hidup di jalanan Jakarta. Kepedulian itu kemudian ditularkan kepada para staf dan diformalkan menjadi Yayasan Peduli Tunas Bangsa pada 14 Februari 2001. 

“Bagaimana kita membuat satu program yang sifatnya berkelanjutan dan hasilnya betul-betul bisa dirasakan oleh kelompok sasaran. Bagaimana caranya program ini sampai akhir betul-betul bisa membantu anak sampai di dunia kerja,” kata Tonton dalam agenda ATFAC 25th Anniversary di sanggar binaan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (24/7/2026).

1. Dampingi anak asuh lewat pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan sosial

Tonton Heryanto, Social Program Manager ATFAC, dalam agenda ATFAC 25th Anniversary di sanggar binaan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (24/7/2026). (IDN Times/Zahira Hilman)

Menurut Tonton, sejak awal ATFAC dirancang sebagai program pendampingan jangka panjang. Anak-anak yang bergabung diwajibkan bersekolah di pendidikan formal, kemudian mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri di sanggar sepulang sekolah. 

Dia menjelaskan, ATFAC memiliki tiga program utama, yakni pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial. Di bidang pendidikan, anak-anak mengikuti kelas bahasa Inggris, matematika, komputer, hingga pengkajian setiap pekan. Mereka juga dilatih public speaking, mendapatkan kegiatan olahraga seperti taekwondo dan tari. 

“Di pendidikan itu anak di sini semuanya harus terdaftar di sekolah formal. Jadi di sini gak ada anak jalanan. Pulang sekolah kemudian ada tambahan pendidikan di sini. Ada kelas bahasa Inggris, matematika, dan komputer. Setiap Senin ada pengajian yang bukan hanya membaca kitab suci, tapi juga mengkaji dan melatih anak berani berbicara,” jelas Tonton. 

Selain pendampingan akademik, anak-anak juga dibekali keterampilan digital melalui pelatihan Microsoft Word, Excel, hingga Canva. Sementara di bidang kesehatan, hotel-hotel Accor di Jabotabek secara bergiliran menyediakan makanan bergizi gratis setiap minggu yang telah berjalan sejak 2004.

2. Konseling jadi ruang aman bagi anak-anak untuk bercerita

Anak-anak asuh ATFAC di Sanggar ATFAC, Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (24/7/2026). (IDN Times/Zahira Hilman)

Selain pendidikan dan kesehatan, ATFAC juga menyediakan layanan sosial berupa pendampingan dan konseling. Menurut Tonton, banyak anak yang datang dengan persoalan keluarga yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar keterbatasan ekonomi. 

“Di sini itu wilayah prostitusi, jadi sangat rentan sekali anak-anak remaja itu. Jadi begitu banyak permasalahan ketika kita mengenal anak itu. Tidak hanya sekadar ‘oh mereka tidak mampu’, tidak sebatas itu. Ternyata di dalamnya orang tuanya entah ke mana, kemudian kakaknya seperti apa. Pokoknya lumayan kompleks,” beber Tonton. 

Karena itu, Tonton membuka ruang konseling bagi anak-anak untuk berbagi persoalan yang mereka hadapi. Pendampingan tersebut juga diberikan kepada anak yang menjadi korban kekerasan seksual. 

“Kadang-kadang ada salah satu anak juga di sini yang jadi korban pelecehan seksual, benar-benar nge-drop. Kemudian didampingi, alhamdulillah dia sekarang sudah ceria lagi, sudah bergaul lagi. Dulu sangat menutup diri,” tutur dia.

3. Meisya, anak asuh yang nyaris mundur, kini menemukan rumah kedua di ATFAC

Meisya Wulandari (18), salah satu anak asuh ATFAC, saat ditemui di sanggar binaan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (24/7/2026). (IDN Times/Zahira Hilman)

Salah satu anak asuh Tonton, Meisya Wulandari, bergabung dengan ATFAC pada 2023. Namun, ia mengaku sempat ingin mengundurkan diri karena persoalan keluarga yang dihadapinya. Akan tetapi, keputusannya berubah setelah berbincang dengan Tonton. 

“Saya bilang kalau awalnya mau memundurkan diri. Terus akhirnya bapak minta buat cerita. Bapak bilang, ‘kamu tuh di sini bisa ngelakuin hal yang mungkin di rumah kamu belum bisa ngelakuin atau kamu gak punya akses buat ngelakuin itu’,” kenang Meisya. 

Keputusan itu menjadi titik balik bagi Meisya. Dia mulai mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari taekwondo, bermain gitar, belajar public speaking, hingga kelas komputer. Menurut Meisya, kesempatan untuk mencoba banyak hal membuat dirinya berani menunjukkan kemampuan yang sebelumnya tidak pernah ia sadari. 

“Aku beruntung banget bisa dikasih akses sama beliau untuk belajar, untuk mengembangkan kemampuan yang ada di dalam diri aku. Terus juga berbagi cerita, berbagi kemampuan,” ujar dia. 

“Kadang kayak rasanya gak mau pulang ke rumah karena menurut aku udah jadi rumah kedua. Pak Tonton, Mbak Tika, teman-teman yang lainnya sudah kayak keluarga sendiri. Mungkin ketika aku di rumah gak bisa cerita sama bapak sama mama, tapi masih ada Pak Tonton sama Mbak Tika di sini,” lanjut Meisya dengan mata berkaca-kaca. 

Berkat pendampingan itu, Meisya kini tercatat dua kali meraih predikat best student ATFAC, serta menyumbang tiga medali emas taekwondo dalam beberapa kejuaraan sejak 2023.

4. Lahirkan alumni yang berprestasi dari bidang kesehatan hingga field facilitator

Tonton Heryanto, Social Program Manager ATFAC dan Meisya Wulandari, anak asuh ATFAC, dalam agenda ATFAC 25th Anniversary di sanggar binaan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (24/7/2026). (IDN Times/Zahira Hilman)

Pendampingan yang dilakukan ATFAC turut menghasilkan berbagai capaian. Pada 2012, program ini telah memberikan beasiswa kepada 100 anak asuh. Sebanyak 16 anak lulus SMA, dengan 12 di antaranya bekerja di jaringan hotel Accor, satu di kantor pusat Accor, dua di rumah sakit, dan satu di pabrik Denso.Selain itu, dua anak memperoleh beasiswa pendidikan tinggi di bidang kedokteran dan perhotelan. 

Setahun berikutnya, capaian itu kian bertambah. Pada 2013, tercatat 27 anak lulus SMA, dengan 16 di antaranya bekerja di jaringan hotel Accor, enam di berbagai perusahaan swasta, dan empat lainnya melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri. Satu anak asuh turut mendapat beasiswa pendidikan tinggi di jurusan Kesejahteraan Sosial. 

Salah satu alumni yang kini kembali mengabdi adalah Atika. Berawal sebagai anak asuh, ia kini menjadi ATFAC Jakarta Field Facilitator setelah menyelesaikan pendidikan magister. Bagi Tonton, setiap anak memiliki potensi yang bisa berkembang ketika diberi kesempatan dan pendampingan yang tepat. Hal itu pula yang ia tanamkan kepada Meisya dan anak asuh lainnya. 

“Saya bilang, kalian berhak untuk balas dendam terhadap kehidupan yang pernah membuat kalian susah. Kalau mau balas dendam saya support. Apa yang kamu butuhkan, apa yang kamu inginkan, yang saya bisa bantu. Yang penting mereka punya motivasi untuk berubah,” pungkas Tonton.

Editorial Team

Related Article