Sekolah di New York Batasi Penggunaan Gawai dan AI Bagi Siswa

- Departemen Pendidikan Kota New York memberlakukan pedoman baru mulai 7 September 2026 untuk membatasi teknologi digital demi mengutamakan interaksi langsung dalam pembelajaran.
- Sekitar 600 ribu siswa TK hingga SMP dilarang memakai AI; murid sampai kelas tiga SD dilarang menggunakan gawai mandiri, sementara chatbot pendamping emosional dilarang di semua jenjang.
- Guru tidak boleh memakai AI untuk menilai tugas, kelulusan, atau penanganan psikologis; siswa SMA dapat menggunakan AI setelah kursus literasi teknologi, meski penerapannya dinilai menantang.
Jakarta, IDN Times - Departemen Pendidikan Kota New York resmi menerbitkan aturan baru terkait pengetatan penggunaan teknologi digital di lingkungan sekolah. Pedoman baru tersebut mulai berlaku efektif saat para siswa kembali ke ruang kelas pada Senin (7/9/2026).
Langkah strategis ini diambil guna memastikan kegiatan belajar mengajar kembali mengedepankan interaksi antarmanusia secara langsung.
1. Pembatasan gawai dan kecerdasan buatan bagi siswa usia dini
Sekitar 600 ribu siswa, mulai dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah pertama (SMP), dilarang menggunakan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI). Selain itu, penggunaan layar gawai secara mandiri juga dilarang total bagi murid hingga kelas tiga sekolah dasar (SD).
Dinas pendidikan merekomendasikan batas waktu penggunaan layar maksimal 45 menit per hari untuk siswa SMP. Di samping itu, penggunaan chatbot sebagai pendamping emosional murid dilarang keras di semua tingkatan pendidikan.
“Kami memasang batasan untuk melindungi hubungan antarmanusia, rasa ingin tahu, dan kreativitas yang sangat penting dalam membantu anak-anak berkembang,” ujar Kanselir Sekolah New York, Kamar Samuels, dikutip dari The Star.
2. Larangan penilaian tugas siswa menggunakan teknologi AI
Pedoman ini secara tegas melarang para tenaga pengajar memanfaatkan AI untuk memeriksa maupun menilai tugas sekolah para siswa. Sistem otomatisasi tersebut juga tidak boleh dijadikan sebagai penentu kelulusan akademis atau penanganan psikologis murid.
Kendati demikian, para guru tetap diizinkan menggunakan teknologi cerdas tersebut untuk menyusun rencana pengajaran, menerjemahkan dokumen, serta membalas surat dinas. Pengecualian juga diberikan pada penggunaan buku elektronik terverifikasi serta perangkat bantu bagi murid difabel.
“Industri teknologi ingin kita percaya bahwa pendidikan usia dini berbasis kecerdasan buatan itu penting, tetapi kami tidak memandangnya demikian,” ucap Wali Kota New York, Zohran Mamdani.
3. Aturan khusus bagi siswa SMA
Siswa tingkat sekolah menengah atas (SMA) masih diperbolehkan memanfaatkan AI setelah mereka menuntaskan kursus literasi teknologi. Namun, pembatasan tetap diberlakukan guna melatih kemampuan berpikir kritis para pelajar.
Kebijakan baru ini langsung mendapat apresiasi dari berbagai komunitas orang tua murid yang menentang campur tangan teknologi secara berlebihan di dalam kelas. Meski demikian, Dewan Kota New York menilai implementasi pembatasan aplikasi pintar di lapangan masih akan menghadapi sejumlah tantangan teknis.
“Ini tentu sebuah langkah maju, namun saya masih memiliki banyak pertanyaan terkait penerapannya,” ungkap Ketua Komite Pendidikan Dewan Kota, Eric Dinowitz.


















