Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta Banjir Padang dan Mitigasinya Menurut Ahli Bencana
Ilustrasi Banjir. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Hujan lebat pada 10 Oktober 2026 memicu banjir di Padang, berdampak hampir 500 warga dan lebih dari 120 rumah di Kuranji, Koto Tangah, serta Nanggalo.

  • Tanggul Sungai Lapau Munggu jebol, jalan terputus, dan rumah rusak di Kuranji; tim gabungan mengevakuasi 238 jiwa tanpa laporan korban meninggal.

  • Daryono mendorong mitigasi terpadu dari hulu hingga hilir, mencakup penanganan tanggul, audit sungai, peringatan dini, tata ruang aman, dan kesiapsiagaan warga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sabtu (10/10/2026)

Hujan lebat memicu banjir di sejumlah kawasan Kota Padang sekitar pukul 12.52 WIB. Hampir 500 warga terdampak, lebih dari 120 rumah terendam, dan tanggul Sungai Lapau Munggu jebol.

Sabtu sore hingga malam

Air banjir berangsur surut. Potensi banjir susulan, longsor, dan pohon tumbang tetap diwaspadai jika hujan lebat kembali terjadi.

Minggu pagi

Kepala BPBD Kota Padang menyatakan tidak ada korban meninggal dunia akibat banjir.

1–4 Minggu

Daryono merekomendasikan survei pascabanjir, audit tanggul dan sungai, perbaikan infrastruktur kritis, serta evaluasi sistem peringatan dini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Banjir melanda sejumlah kawasan Kota Padang, merendam lebih dari 120 rumah, merusak rumah dan jalan, serta menjebol tanggul Sungai Lapau Munggu di Kuranji.
  • Who?
    Hampir 500 warga terdampak, termasuk 245 jiwa di Kuranji, 208 jiwa di Koto Tangah, dan 45 jiwa di Nanggalo. Tim gabungan mengevakuasi 238 jiwa.
  • Where?
    Banjir terjadi di Kota Padang, Sumatra Barat, terutama Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Lokasi terdampak di Kuranji meliputi Guo, Lapau Munggu, serta akses sekitar PDAM Guo.
  • When?
    Banjir terjadi pada Sabtu, 10 Oktober 2026, sekitar pukul 12.52 WIB. Air mulai berangsur surut sejak Sabtu sore hingga malam.
  • Why?
    Hujan lebat meningkatkan limpasan air dan debit sungai hingga melampaui kapasitas alur di sejumlah lokasi. Jebolnya tanggul Sungai Lapau Munggu turut memperparah genangan di Kuranji.
  • How?
    Sistem pemantauan mendeteksi kenaikan muka air, sirene banjir diaktifkan, dan evakuasi dilakukan dengan perahu serta kendaraan operasional. Petugas menangani kondisi darurat, sementara risiko banjir susulan masih diwaspadai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Hujan sangat deras membuat Kota Padang banjir pada Sabtu. Hampir 500 orang dan lebih dari 120 rumah kena air. Di Kuranji, tanggul Sungai Lapau Munggu jebol dan jalan putus. Petugas menolong 238 orang dengan perahu. Air mulai surut dan tidak ada yang meninggal, tapi warga masih harus hati-hati jika hujan deras datang lagi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Respons darurat di Padang memperlihatkan fungsi penting pemantauan muka air, sirene peringatan, dan kerja tim gabungan yang berhasil mengevakuasi 238 warga tanpa laporan korban meninggal. Peristiwa ini juga menyediakan dasar evaluasi yang jelas, dari perbaikan tanggul hingga penguatan kesiapsiagaan dan tata kelola risiko dari hulu ke hilir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Hujan deras memicu banjir di sejumlah kawasan Kota Padang, Sumatra Barat pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Kecamatan Kuranji menjadi salah satu kawasan yang terdampak cukup parah, dengan puluhan rumah terendam, kerusakan bangunan, hingga akses jalan yang terputus.

Berdasarkan catatan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, banjir terjadi setelah hujan deras yang menyebabkan kenaikan debit sungai di sejumlah kawasan. Tanggul di aliran Sungai Lapau Munggu, Kuranji, juga dilaporkan jebol, sehingga memerlukan penanganan segera.

Berikut hal yang perlu diketahui mengenai banjir di Kota Padang dan upaya mitigasinya.

1. Hampir 500 warga terdampak banjir di tiga kecamatan

Ilustrasi banjir Ciledug Indah (IDN Times/Muhamad Iqbal)

Banjir di Kota Padang terjadi pada Sabtu, 10 Oktober 2026 sekitar pukul 12.52 WIB, akibat hujan deras, yang meningkatkan limpasan air dan debit sungai hingga melampaui kapasitas alur di sejumlah lokasi.

Sebanyak 245 jiwa terdampak di Kecamatan Kuranji, terutama di kawasan Guo dan Lapau Munggu. Sebanyak 60 rumah terendam di wilayah tersebut. Sementara itu, di Kecamatan Koto Tangah terdapat 208 jiwa terdampak, terdiri dari 75 jiwa di Lubuk Minturun dan 133 jiwa di Koto Panjang Ikua Koto. Adapun Kecamatan Nanggalo mencatat 45 jiwa terdampak.

Secara keseluruhan, hampir 500 warga terdampak dan lebih dari 120 rumah terendam di sejumlah kawasan Kota Padang. Di Kuranji, empat rumah dilaporkan rusak sedang dan satu rumah rusak berat. Akses jalan masyarakat di sekitar PDAM Guo juga terputus, sedangkan tanggul di aliran Sungai Lapau Munggu dilaporkan jebol.

Dalam penanganan darurat, sistem pemantauan tinggi muka air mendeteksi kenaikan debit sungai dan sirene peringatan banjir diaktifkan. Tim gabungan juga telah mengevakuasi 238 jiwa menggunakan perahu penyelamatan dan kendaraan operasional.

Berdasarkan keterangan Kepala BPBD Kota Padang yang dikutip media pada Minggu pagi, tidak dilaporkan adanya korban meninggal dunia.

Meski air berangsur surut sejak Sabtu sore hingga malam, potensi banjir susulan, longsor, dan pohon tumbang masih perlu diwaspadai apabila hujan lebat kembali terjadi.

2. Temuan penting dari analisis kebencanaan

Ilustrasi dampak banjir bandang di Lebak, Banten. (IDN Times/Khairul Anwar)

Daryono mengidentifikasi tiga hal penting dari kejadian banjir di Kota Padang yang perlu menjadi perhatian dalam evaluasi kebencanaan.

Pertama, tanggul Sungai Lapau Munggu jebol. Kondisi ini menunjukkan besarnya dampak banjir tidak hanya dipengaruhi intensitas hujan dan debit sungai, tetapi juga ketahanan infrastruktur pengendali banjir.

Kedua, kerusakan jalan dan rumah di Kuranji. Kerusakan tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya aliran banjir dengan energi dan kemampuan erosi yang cukup besar di lokasi tertentu. Namun, penyebab kerusakan perlu dipastikan melalui survei lapangan.

Ketiga, potensi dampak berantai. Tanggul yang rusak dapat memperluas genangan, kerusakan jalan dapat menghambat evakuasi, sedangkan gangguan akses ke infrastruktur air bersih berpotensi mempersulit pelayanan masyarakat.

3. Strategi mitigasi banjir yang perlu dilakukan

Ilustrasi banjir (IDN Times/Hilmansyah).

Daryono menyebutkan mitigasi banjir perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari kawasan hulu DAS, sepanjang alur sungai, hingga permukiman di hilir.

1. Mitigasi darurat

  • Evakuasi warga dari bantaran sungai, genangan berarus deras, dan sekitar tanggul rusak.

  • Pantau hujan dan tinggi muka air melalui informasi BMKG, sensor sungai, BPBD, dan laporan warga.

  • Amankan tanggul jebol melalui pemeriksaan dan penanganan darurat oleh petugas. Jauhi area yang berisiko runtuh.

  • Tutup akses jalan dan jembatan rusak hingga dinyatakan aman oleh petugas.

  • Penuhi kebutuhan pengungsi, seperti air bersih, makanan, sanitasi, obat-obatan, dan layanan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

2. Mitigasi jangka pendek (1–4 Minggu)

  • Survei pascabanjir untuk memetakan genangan, erosi, sedimentasi, dan kerusakan.

  • Audit tanggul dan sungai guna mengidentifikasi titik lemah, penyempitan alur, sedimentasi, dan potensi luapan.

  • Perbaiki infrastruktur kritis, seperti tanggul, jalan, jembatan, dan fasilitas air bersih, sesuai tingkat risiko.

  • Evaluasi sistem peringatan dini agar informasi dari hulu cukup cepat diterima warga untuk evakuasi.

  • Petakan permukiman berisiko tinggi, terutama di dekat sungai, tanggul rusak, dan jalur arus banjir.

3. Mitigasi jangka panjang

  • Kelola DAS berbasis risiko melalui rehabilitasi lahan kritis, konservasi tanah dan air, serta pengendalian perubahan tata guna lahan.

  • Tata ruang berdasarkan peta bahaya dengan membatasi pembangunan di sempadan sungai dan mempertimbangkan relokasi jika risiko terlalu tinggi.

  • Perkuat ketahanan sungai melalui evaluasi normalisasi, penguatan tanggul, pengendalian erosi, dan penyediaan ruang retensi banjir.

  • Perkuat sistem peringatan dini berbasis DAS dengan mengintegrasikan prakiraan hujan, pengukuran curah hujan, tinggi muka air, dan penyebaran informasi.

  • Bangun kesiapsiagaan warga melalui penyediaan jalur evakuasi, titik kumpul aman, simulasi berkala, dan perlindungan kelompok rentan.

4. Daryono tekankan mitigasi banjir harus dilakukan dari hulu hingga hilir

Ilustrasi Banjir Doc. IDN Times

Banjir Kota Padang pada 10 Oktober 2026 menunjukkan bahwa hujan lebat dapat memicu peningkatan debit sungai secara cepat dan menimbulkan dampak serius ketika kapasitas alur serta ketahanan infrastruktur pengendali banjir tidak memadai.

Dalam perspektif manajemen risiko bencana, kejadian ini mengingatkan bahwa kerusakan infrastruktur pengendali banjir dapat menjadi faktor penguat dampak. Karena itu, perlindungan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan tanggul, tetapi juga memerlukan tata ruang yang aman, sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan warga.

Daryono menegaskan, mitigasi banjir tidak boleh hanya dilakukan setelah air meluap. Pengurangan risiko harus dimulai dari kawasan hulu DAS, dilanjutkan dengan penguatan infrastruktur sungai dan penataan permukiman, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di hilir.

Banjir mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi risiko korban jiwa dan kerugian besar dapat dikurangi melalui mitigasi yang tepat, peringatan dini yang efektif, serta evakuasi yang cepat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article