Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6.000 Bencana per Tahun, BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Melalui Pendidikan
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan dan membuka acara Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten", yang digelar oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026). (Dok. BNPB Indonesia)
  • BNPB mencatat Indonesia menghadapi 15–20 bencana per hari yang ditangani lintas pihak, dengan total tahunan termasuk penanganan daerah mencapai 5.000–6.000 kejadian.

  • Kesiapsiagaan perlu menjadi pembelajaran berkelanjutan karena bencana geologi tidak dapat dihentikan; pengurangan risiko bergantung pada bangunan tahan gempa dan kesiapan manusia.

  • BNPB mendorong SPAB melalui sekolah tahan bencana, SOP evakuasi jelas, serta pendidikan dan simulasi rutin agar peserta didik mampu merespons peringatan dini dengan tenang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2006

Gempa Yogyakarta menewaskan lebih dari 6.000 orang dalam guncangan berdurasi 5,3 detik.

tiga tahun terakhir

BNPB mencatat 15 hingga 20 bencana per hari yang memerlukan dukungan penanganan pemerintah pusat, daerah, dan lintas sektor. Total kejadian bencana dapat mencapai 5.000 hingga 6.000 per tahun jika termasuk penanganan mandiri pemerintah daerah.

Tahun 2026

Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana yang diselenggarakan BNPB bersama Pemerintah Provinsi Banten.

13 Oktober 2026

BNPB membuka Sharing Session di Kota Serang, Banten, mengenai penerapan SPAB dan respons peringatan dini terhadap ancaman gempa, megathrust, dan letusan gunung api.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BNPB memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan melalui penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana dan Aksi Merespon Peringatan Dini menghadapi gempa, megathrust, serta letusan gunung api.
  • Who?
    BNPB, Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari, LRB/MDMC PP Muhammadiyah, Pemerintah Provinsi Banten, serta sekolah dan lembaga pendidikan terlibat dalam agenda ini.
  • Where?
    Sharing Session berlangsung di Kota Serang, Banten, dengan sasaran penguatan kesiapsiagaan bagi sekolah dan lembaga pendidikan di Banten serta wilayah rawan bencana lainnya.
  • When?
    Agenda tersebut digelar pada Selasa, 13 Oktober 2026, sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana Tahun 2026.
  • Why?
    Langkah ini dilakukan karena Indonesia mencatat sekitar 5.000 hingga 6.000 kejadian bencana per tahun, sementara gempa, aktivitas vulkanik, dan ancaman geologi lainnya berisiko menimbulkan dampak terhadap keselamatan jiwa.
  • How?
    BNPB mendorong sekolah tahan bencana, regulasi dan SOP evakuasi yang jelas, pendidikan kebencanaan dalam pembelajaran harian, serta simulasi evakuasi rutin agar peserta didik mampu merespons peringatan dini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BNPB bilang Indonesia bisa punya 5.000 sampai 6.000 bencana tiap tahun. Abdul Muhari mengajak sekolah belajar siap saat gempa dan gunung meletus. Sekolah perlu gedung kuat, aturan keluar yang jelas, dan latihan rutin. Anak-anak di Banten diharap bisa tetap tenang dan tahu jalan aman saat bahaya datang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penguatan kesiapsiagaan melalui lingkungan pendidikan menunjukkan pendekatan yang semakin terarah dalam menghadapi risiko bencana. Dengan memadukan bangunan yang lebih aman, SOP evakuasi yang jelas, dan pembelajaran sehari-hari, sekolah dapat menjadi ruang pembentukan kebiasaan respons yang tenang dan terlatih bagi peserta didik sejak dini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat kapasitas kesiapsiagaan kebencanaan di lingkungan pendidikan, sebagai langkah krusial dalam menekan risiko dampak bencana geologi, seperti gempa bumi, megathrust, dan letusan gunung api.

BNPB mencatat dalam tiga tahun terakhir, setidaknya 15 hingga 20 kali kejadian bencana setiap hari, yang membutuhkan dukungan penanganan langsung dari pemerintah pusat, daerah dan lintas sektor lembaga lainnya. Apabila diakumulasikan secara keseluruhan bersama penanganan mandiri oleh pemerintah daerah, total kejadian bencana di Indonesia mencapai 5.000 hingga 6.000 kejadian dalam setahun.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, saat memberikan sambutan sekaligus membuka Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten" yang digelar Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026).

1. Catatan historis kebencanaan Indonesia perlu diatasi dengan pembelajaran mitigasi keberlanjutan

Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan dan membuka acara Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten", yang digelar oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026). (Dok. BNPB Indonesia)

Abdul Muhari mengungkapkan catatan historis kebencanaan Indonesia menunjukkan tingginya frekuensi ancaman bencana setiap tahunnya. Untuk mengatasi tingginya potensi risiko bencana tersebut, ia menekankan, mitigasi dan kesiapsiagaan tidak boleh dianggap sebagai agenda sekilas, melainkan sebuah proses pembelajaran berkelanjutan sepanjang hidup.

Bencana alam seperti aktivitas vulkanik maupun pergerakan lempeng tektonik, kata Muhari, merupakan dinamika alam yang tidak bisa dihentikan manusia, sehingga fokus utama penanggulangan bencana terletak pada upaya pengurangan dampak risiko bagi keselamatan jiwa manusia.

"Kejadian bencananya sendiri tidak bisa kita hentikan. Gunung Krakatau butuh meletus agar tubuhnya tumbuh, dan gempa bumi terjadi demi menjaga stabilitas kerak bumi. Namun, yang wajib kita lakukan sebagai manusia adalah mengurangi dampak risikonya. Karena itu, kunci utamanya terletak pada pembangunan infrastruktur gedung yang tahan gempa serta kesiapan manusianya," ucap dia.

2. Tiga pilar utama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)

Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan dan membuka acara Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten", yang digelar oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026). (Dok. BNPB Indonesia)

Pada diskusi tersebut, BNPB turut menekankan tiga pilar utama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Pertama, ketersediaan fasilitas sekolah tahan bencana. Kedua, regulasi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi yang jelas. Ketiga, integrasi pendidikan kebencanaan ke dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Muhari mencontohkan gempa Yogyakarta pada 2006 yang memakan korban jiwa lebih dari 6.000 orang itu, hanya dalam guncangan berdurasi 5,3 detik. Singkatnya durasi guncangan gempa membuktikan keselamatan masyarakat sangat bergantung pada ketahanan fisik struktur bangunan, dan kecepatan simulasi evakuasi yang telah terlatih secara naluriah.

3. Pentingnya membangun budaya simulasi evakuasi berkala tanpa panik

Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari memberikan sambutan dan membuka acara Sharing Season bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten", yang digelar oleh Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026). (Dok. BNPB Indonesia)

Mengenai pelatihan simulasi, kata Muhari, BNPB juga menegaskan pentingnya membangun budaya simulasi evakuasi yang dilakukan secara berkala, dan dalam kondisi yang nyaman tanpa kepanikan, terutama bagi peserta didik di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dengan pendekatan latihan yang terstruktur dan rutin, harapannya, siswa mampu membentuk memori jangka panjang (long-term memory), serta dapat berpikir jernih saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya.

"Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) bertujuan membentuk kemampuan berpikir jernih di tengah situasi sekitar yang panik. Jika simulasi tidak dilatih sejak dini dan secara berkala, manusia cenderung terjebak dalam psikologi massa, dan hanya ikut-ikutan berlari ke mana orang banyak pergi tanpa tahu apakah arah tersebut aman atau tidak," kata dia.

Muhari menegaskan edukasi kebencanaan tidak perlu kurikulum khusus yang rumit, melainkan bisa disisipkan langsung dalam mata pelajaran sehari-hari seperti fisika, matematika, hingga agama.

Perlu diketahui, pelaksanaan agenda ini menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2026 yang diselenggarakan BNPB, atas sinergi dengan Pemerintah Provinsi Banten.

Acara ini melibatkan kolaborasi lintas sektor ini, yang diharapkan seluruh sekolah dan lembaga pendidikan di Banten dan wilayah rawan bencana lainnya, dapat segera memperkuat penerapan SPAB serta SOP evakuasi mandiri, demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh menghadapi bencana dan keadaan darurat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article