Jakarta, IDN Times — Studi menunjukkan sebanyak 8 dari 10 anak Indonesia usia 4–12 tahun memiliki asupan eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA) di bawah tingkat minimum yang direkomendasikan FAO/WHO. Kondisi kekurangan gizi ini dipicu oleh perubahan pola konsumsi saat anak memasuki usia sekolah dasar, di mana mereka cenderung berhenti minum susu dan beralih ke minuman bercita rasa lainnya.
Dokter Spesialis Anak, dr. Shyrien Amalina MSc, SpA, menjelaskan bahwa kecukupan asam lemak esensial seperti arachidonic acid (AA) dan DHA tetap krusial bagi anak usia sekolah hingga remaja untuk mendukung fungsi otak.
“Kecukupan asam lemak esensial Arachidonic Acid (AA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA) tetap penting bagi anak usia sekolah dan remaja untuk mendukung proses pembelajaran serta pematangan fungsi otak. Meski perkembangan otak berlangsung paling pesat pada 1.000 hari pertama kehidupan, proses mielinisasi korteks prefrontal—yang berperan dalam atensi, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls masih terus berlangsung hingga masa remaja,” ungkap dr. Shyrien Amalina MSc, SpA.
Oleh karena itu, menurutnya, asupan AA dan DHA yang memadai dapat mendukung fungsi eksekutif, konsentrasi, regulasi perilaku dan emosi, serta plastisitas sinaptik yang berperan dalam proses belajar dan memori.
Berikut adalah 3 poin utama terkait fenomena defisiensi DHA pada anak usia sekolah di Indonesia:
