Netanyahu Jadikan Turki Target Politik Utama Jelang Pemilu Israel

- Menjelang pemilu Israel 27 Oktober 2026, Netanyahu menjadikan Turki sasaran politik melalui baliho Likud yang menampilkan Erdogan serta serangan Israel ke Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Idlib.
- Israel mengklaim serangan dilakukan karena dugaan rencana kehadiran militer Turki; oposisi Israel menilainya provokatif dan bermotif elektoral, sementara Turki mengecam pelanggaran kedaulatan Suriah.
- Amerika Serikat mengupayakan mekanisme dekonflik antara Israel, Turki, dan Suriah. Ankara menahan respons militer langsung serta mengedepankan diplomasi untuk mencegah eskalasi kawasan.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mulai mengarahkan fokus politik dan militernya ke arah Turki menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026. Tekanan politik domestik yang semakin berat mendorong pemerintahannya mengambil langkah tegas terhadap Ankara untuk menggalang dukungan dari basis pemilih konservatif di negaranya.
Eskalasi perselisihan tersebut memuncak setelah serangan udara jet tempur Israel menghantam Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah, pada Selasa (18/8/2026). Langkah militer di wilayah dekat perbatasan Turki ini dibarengi peluncuran baliho kampanye Partai Likud di Tel Aviv yang menampilkan sosok Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai musuh politik luar negeri.
1. Peluncuran baliho kampanye dan serangan militer di Suriah

potret Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (Mikhail Klimentyev / Russian Presidential Press And Information Office / TASS, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Partai Likud yang dipimpin Netanyahu memajang baliho kampanye berukuran besar di Tel Aviv menjelang pemungutan suara pada akhir Oktober mendatang. Gambar Presiden Recep Tayyip Erdogan disandingkan dengan sejumlah tokoh internasional dan regional yang vokal menentang kebijakan Tel Aviv, di antaranya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Sekretaris Jenderal Hezbollah Sheikh Naim Qassem, serta Wali Kota New York Zohran Mamdani. Pemasangan baliho tersebut disertai tulisan yang menegaskan bahwa para pemimpin itu menginginkan kekalahan Netanyahu dalam pemilu.
Langkah politik di dalam negeri ini diikuti oleh aksi militer langsung di wilayah Suriah utara yang tidak jauh dari perbatasan Turki. Dilansir Al-Monitor, jet tempur Israel membombardir Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib pada Selasa (18/8/2026) dini hari. Pihak Israel mengklaim tindakan tersebut diambil setelah tuduhan mengenai niat Turki membangun kehadiran militer di lokasi tersebut diabaikan.
Netanyahu secara terbuka memberikan pernyataan mengenai serangan udara yang diluncurkan oleh pasukannya di wilayah tetangga tersebut. "Kami memastikan mereka memahaminya secara lebih jelas," ujar Perdana Menteri Israel tersebut saat menjelaskan alasan tindakan militer yang diambil pasukannya. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Katz turut menuduh Ankara menyeret negaranya ke dalam petualangan berbahaya di Suriah.
2. Kritik oposisi dan respons diplomatik pemerintah Turki

Yair Golan (Oren Rozen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Tindakan militer serta retorika politik Netanyahu memicu reaksi keras dari kalangan oposisi domestik di Israel. Pemimpin partai Demokrat, Yair Golan, mengecam keras serangan udara ke wilayah Suriah yang dinilainya amat provokatif. Golan menilai langkah tersebut justru meningkatkan risiko konfrontasi langsung dengan Turki sekaligus memperkeruh hubungan Israel dengan mitra sekutunya.
Golan memberikan kritik tajam terhadap keputusan pemerintah yang dianggap memanfaatkan operasi militer untuk kepentingan elektoral semata. "Penggunaan kekuatan militer kembali dipakai demi pertimbangan politik, dan Israel lagi-lagi membayar harganya dalam hal keamanan," kata Yair Golan. Menurutnya, tindakan tersebut tidak menyelesaikan masalah keamanan jangka panjang yang dihadapi oleh negara tersebut.
Pemerintah Turki memberikan tanggapan keras atas pemboman pangkalan udara di Idlib tersebut. Dilansir Daily Sabah, Kementerian Luar Negeri Turki merilis pernyataan resmi yang mengecam pelanggaran integritas wilayah Suriah, sementara Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki Burhanettin Duran menegaskan, "Serangan yang menargetkan kedaulatan, integritas wilayah, dan infrastruktur Suriah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan agresi ceroboh yang mengancam perdamaian regional".
3. Dinamika geopolitik dan upaya penyelesaian perselisihan

ilustrasi peta wilayah Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson) Dilansir Daily Sabah, Analis politik menilai penargetan isu Turki oleh pemerintahan Netanyahu merupakan bagian dari strategi pengalihan perhatian di tengah menurunnya popularitas politiknya. Kegagalan mencapai target-target perang secara menyeluruh membuat pemerintah membutuhkan narasi ancaman luar yang baru demi menyatukan pemilih. Narasi ancaman eksternal ini dinilai ampuh untuk menggalang konsolidasi pemilih kanan dalam pemilu Oktober mendatang.
Kondisi di kawasan Timur Tengah makin rumit karena posisi diplomasi Amerika Serikat yang berupaya meredakan ketegangan antar sekutunya. Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah Tom Barrack mengungkapkan bahwa pihak Washington sedang mengupayakan mekanisme dekonflik. Mekanisme ini dirancang untuk mencegah terjadinya gesekan militer secara langsung antara pasukan Israel, Turki, dan pemerintah Suriah di lapangan.
Turki memilih untuk menahan diri dari balasan aksi militer langsung agar ketegangan di kawasan tidak semakin memuncak secara tidak terkendali. Langkah diplomasi terus dikedepankan oleh Ankara guna menjaga kestabilan kawasan dan integritas wilayah Suriah secara menyeluruh. Pengamat geopolitik memperkirakan ketegangan retoris masih akan terus berlangsung sampai hari pemungutan suara di Israel selesai dilaksanakan.




















