Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ada Gugatan di MK, TAUD Duga TNI Kebut Pelimpahan Berkas Kasus Andrie Yunus
Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus yang jadi korban penyiraman air keras (di tengah). (IDN Times/Santi Dewi)
  • TAUD menilai pelimpahan berkas empat prajurit TNI dalam kasus penyiraman Andrie Yunus dilakukan diam-diam dan tidak transparan, sehingga dikhawatirkan membuka peluang kesepakatan di bawah meja.
  • TAUD menduga percepatan pelimpahan berkas ke Oditurat Militer berkaitan dengan uji materiil UU TNI di MK, yang bisa berdampak pada kewenangan peradilan militer terhadap kasus pidana umum.
  • Tim investigasi TAUD berhasil mengidentifikasi dua prajurit TNI sebagai pelaku lapangan, namun belum menemukan kecocokan wajah Kapten Mar Nandala Dwi Prasetia dari rekaman CCTV yang ada.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
12 Maret 2026

TAUD melalui tim investigasi independen menelusuri rekaman CCTV dari malam kejadian upaya pembunuhan terhadap Andrie Yunus pada pukul 23.30 WIB.

7 April 2026

Polisi militer menyerahkan empat tersangka prajurit TNI dan barang bukti, termasuk dua sepeda motor, ke Oditurat Militer Tinggi II Jakarta terkait kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.

11 April 2026

Afif Abdul Qoyum dari TAUD mengkritik pelimpahan tersangka yang dilakukan secara diam-diam dan menilai proses hukum TNI tidak transparan.

pekan ini

Dalam sidang uji materiil UU Nomor 3 Tahun 2025 di Mahkamah Konstitusi, hakim meminta TAUD menyerahkan kesimpulan perkara mengenai peradilan militer.

hari ini

Ravio Patra memaparkan hasil investigasi TAUD yang mengidentifikasi dua prajurit TNI sebagai pelaku lapangan serta menyatakan belum menemukan kecocokan wajah Nandala Dwi Prasetia di rekaman CCTV.

kini

TAUD masih menunggu hasil uji materiil di Mahkamah Konstitusi yang berpotensi memengaruhi penanganan kasus Andrie Yunus di peradilan militer.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menyoroti pelimpahan berkas empat prajurit TNI tersangka penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus yang dilakukan secara tertutup ke Oditurat Militer Tinggi II Jakarta.
  • Who?
    Afif Abdul Qoyum dari TAUD, tim investigasi independen termasuk Ravio Patra, empat prajurit TNI di antaranya Budhi Hariyanto Widhi Cahyono dan Muhammad Akbar Kuddus, serta korban Andrie Yunus.
  • Where?
    Pelimpahan berkas berlangsung di Oditurat Militer Tinggi II Jakarta; proses investigasi dilakukan melalui rekaman CCTV di beberapa lokasi yang terkait dengan insiden penyerangan.
  • When?
    Penyerahan tersangka dan barang bukti dilakukan pada Selasa, 7 April 2026; pernyataan Afif disampaikan Sabtu, 11 April 2026; uji materiil UU TNI masih bergulir di Mahkamah Konstitusi pekan ini.
  • Why?
    TAUD menduga percepatan pelimpahan berkas dilakukan untuk menghindari dampak putusan Mahkamah Konstitusi terkait uji materiil UU Peradilan Militer yang dapat memengaruhi kewenangan pengadilan militer atas kasus tersebut.
  • How?
    Puspom
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang namanya Andrie Yunus disiram air keras sama beberapa tentara. Polisi tentara cepat-cepat kasih berkas ke pengadilan militer, tapi tim pembela Andrie bilang itu terlalu cepat dan sembunyi-sembunyi. Mereka mau semuanya jelas biar adil. Sekarang hakim di Mahkamah Konstitusi lagi pikirin aturan tentang pengadilan tentara itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun proses hukum terhadap kasus Andrie Yunus menuai kritik, artikel ini menunjukkan adanya upaya serius dari berbagai pihak untuk menegakkan transparansi dan akuntabilitas. Tim Advokasi untuk Demokrasi tidak hanya mengawal jalannya sidang di Mahkamah Konstitusi, tetapi juga melakukan investigasi independen yang berhasil mengidentifikasi dua pelaku militer melalui bukti CCTV secara sistematis dan berbasis data.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Anggota koalisi sekaligus Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), Afif Abdul Qoyum, mengkritisi cara kerja polisi militer yang melakukan pelimpahan keempat tersangka penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus secara diam-diam. Penyerahan keempat prajurit TNI dilakukan pada Selasa (7/4/2026) di Oditurat Militer Tinggi II Jakarta.

Selain itu, ada pula barang bukti yang ikut diserahkan. Salah satu di antaranya dua sepeda motor yang digunakan oleh keempat anggota TNI itu untuk berupaya membunuh aktivis KontraS tersebut.

"Proses penegakan hukumnya terkesan kucing-kucingan di POM TNI. Ini tentu mengkhawatirkan. Seharusnya di dalam sistem peradilan pidana, penegakan hukum seharusnya dilakukan secara transparan supaya ikut diawasi oleh publik," ujar Afif ketika dihubungi pada Sabtu (11/4/2026).

Bila proses penegakan hukumnya tak bisa diawasi, ia khawatir terbuka celah untuk ada kesepakatan di bawah meja. Di sisi lain, tim yang merupakan kuasa hukum Andrie itu masih menuntut agar wajah keempat prajurit TNI itu diungkap ke publik. Tetapi, hingga penyerahan tersangka pun, TNI tak memberikan dokumentasi wajah mereka.

Ia menilai, proses penegakan hukum yang terkesan tertutup untuk kasus Andrie Yunus tak boleh didiamkan oleh Mahkamah Agung (MA). Hal itu tak sejalan dengan penerapan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP) yang sudah diketok yang mengedepankan transparansi.

"Kami jadi semakin ragu bahwa proses penegakan hukum ini akan dilakukan secara berkeadilan," imbuhnya.

1. TAUD diminta menyerahkan kesimpulan gugatan uji materiil UU Peradilan Militer pekan depan

Anggota Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), Afif Abdul Qoyum (tengah) ketika memberikan keterangan pers di kantor ICW. (Tangkapan layar YouTube Sahabat ICW)

Afif turut menyinggung di momen bersamaan proses uji materiil Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 mengenai Tentara Nasional Indonesia (TNI), masih bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK). Salah satu pasal, yakni Pasal 74 yang diuji mengenai peradilan militer. Tetapi, dalam persidangan terakhir yang digelar pekan ini, mereka sudah diminta oleh hakim konstitusi untuk menyerahkan kesimpulan.

TAUD pun menduga percepatan penyerahan kesimpulan itu ada kaitannya dengan pelimpahan berkas kasus Andrie Yunus ke Oditurat Militer. Sebab, sejak awal TAUD dan Andrie Yunus menolak prajurit TNI yang melakukan pelanggaran tindak pidana umum diadili di peradilan militer.

"Harusnya pihak Puspom TNI menghormati proses penegakan hukum dengan tidak mengirimkan berkasnya secara terburu-buru ke Oditur Militer," katanya.

Ia mengatakan, bisa saja hakim konstitusi akan mengumumkan hasil putusan dalam dua pekan mendatang. "Putusannya bisa saja akan berdampak terhadap kasus Andrie Yunus. Bisa saja hakim mengabulkan bahwa pengadilan militer tak bisa lagi mengadili kasus yang merugikan warga sipil," tutur dia.

Ia pun menduga di balik proses pelimpahan berkas Andrie yang terburu-buru ke Oditurat Militer, lantaran demi menghindari dampak dari putusan MK. Meskipun belum tentu hakim konstitusi mengabulkan uji materiil UU TNI yang dilayangkan masyarakat sipil.

2. TAUD berhasil ungkap dua dari empat prajurit TNI yang jadi pelaku lapangan

Prajurit TNI Muhammad Akbar Kuddus yang diduga menjadi eksekutor lapangan dalam penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. (Tangkapan layar YouTube Sahabat ICW)

Sementara, TAUD memiliki tim investigasi independen untuk mengidentifikasi para pelaku lapangan yang melakukan upaya pembunuhan berencana terhadap Andrie Yunus. Mereka menggunakan cara mengumpulkan semua rekaman CCTV dan memutar balik dari sebelum kejadian pada Kamis (12/3/2026) pukul 23.30 WIB.

Salah satu anggota tim investigasi independen, Ravio Patra mengatakan, setidaknya ada 16 pelaku lapangan yang teridentifikasi lewat rekaman CCTV. Dua di antaranya terkonfirmasi berasal dari unsur militer. Mereka adalah Budhi Hariyanto Widhi Cahyono dan Muhammad Akbar Kuddus.

Foto-foto Budhi, didapat oleh tim investigasi dari foto CCTV yang sudah ditunjukkan oleh kepolisian. Kemudian dicocokkan dengan alat khusus.

"Kami menyebut ini OTK (Orang Tak Dikenal) 1 sebagai pengendara. Temuan kami identik dengan yang diungkap oleh kepolisian. OTK 1 adalah seorang perwira militer dari TNI Angkatan Laut (AL) dengan nama Budhi Hariyanto Widhi Cahyono," ujar Ravio seperti dikutip dari tayangan YouTube Sahabat ICW pada hari ini.

Ia mencatat ada hal yang simpang siur beredar di publik soal inisial Budhi. Kepolisian menyebut Budhi dengan inisial BHC. Sedangkan Polisi Militer menyebut BHW.

"Yang benar adalah BHWC," tutur dia.

Prajurit kedua TNI yang berhasil diidentifikasi oleh TAUD yakni sosok yang disebut dengan Serda ES. Tetapi, di dalam penelusuran TAUD, sosok tersebut lebih mendekati dengan inisial MAK atau Muhammad Akbar Kuddus. Tim investigasi kemudian mencocokkan foto yang terekam di kamera CCTV dengan sejumlah foto yang ada di dunia maya. Hasilnya foto-foto itu mirip.

"Muhammad Akbar Kuddus juga merupakan seorang perwira TNI. Foto-fotonya kami kumpulkan dari sumber terbuka di media sosial," tutur dia.

3. TAUD belum menemukan kecocokan wajah di CCTV atas nama Nandala Dwi Prasetia

Dua barang bukti sepeda motor yang ikut dilimpahkan ke Oditurat Militer Tinggi II Jakarta untuk kasus Andrie Yunus (IDN Times/Santi Dewi)

IDN Times sempat mengontak Ravio Patra untuk menanyakan apakah dari hasil penelusurannya turut ditemukan prajurit TNI atas nama Kapten Mar Nandala Dwi Prasetia. Namun, ia mengaku belum menemukan kecocokan tersebut. Ravio langsung memeriksa di tangkapan layar CCTV untuk mencari sosok Nandala.

Nama Nandala muncul ketika dilakukan penyerahan empat tersangka dan barang bukti ke Oditurat Militer pada Selasa (7/4/2026). Pada bagian barang bukti motor, tertulis Nandala bersama tiga pelaku lainnya melakukan penganiayaan terhadap Andrie Yunus.

"Segera setelah nama NDP ini dikeluarkan, kami sudah menelusuri nama tersebut. Namun, sejauh ini dengan bukti-bukti yang ada, kami mencatat ada beberapa foto yang sulit mendapatkan angle dengan wajah secara keseluruhan," kata Ravio hari ini.

"Jadi, sejauh ini kami belum menemukan kecocokan. Karena bisa jadi dia benar pelaku. Entah yang mengenakan helm, karena OTK ke-16 terus mengenakan helm. Jadi wajahnya gak pernah kami lihat," tutur dia.

Namun, Ravio telah memeriksa foto Nandala yang tersebar di dunia maya. Dalam temuannya wajah Nandala di media sosial tidak sama dengan belasan OTK yang wajahnya terlihat di CCTV.

Editorial Team