Comscore Tracker

[KALEIDOSKOP] Momen Ledakan Kasus COVID-19 di Indonesia Sepanjang 2020

Ledakan kasus banyak disebabkan oleh momen libur panjang

Jakarta, IDN Times - Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengumumkan secara langsung kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada Senin 2 Maret 2020 lalu. Pada saat itu, Jokowi menjelaskan bahwa kasus pertama COVID-19 di Indonesia menimpa dua orang yang berstatus ibu (64) dan anak (31).

Sontak, informasi tersebut menggegerkan masyarakat. Bagaimana tidak, COVID-19 dikenal sebagai virus yang cepat menyebar dan telah menelan banyak korban di negara-negara lainnya.

Sudah 10 bulan berlalu, per 23 Desember 2020, total kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 685.639. Dari jumlah tersebut, 552.722 atau 81,50 persen dari total kasus berhasil sembuh, namun 20.257 atau 2,98 persen meninggal dunia.

Sebagai kilas balik, berikut momen-momen meroketnya kasus COVID-19 di Tanah Air.

Baca Juga: [LINIMASA-4] Perkembangan Terkini Pandemik COVID-19 di Indonesia

1. Kasus COVID-19 meroket di momen Idul Fitri

[KALEIDOSKOP] Momen Ledakan Kasus COVID-19 di Indonesia Sepanjang 2020Sejumlah kendaraan memadati ruas jalan jalur Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/10/2020) (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Dua hari jelang perayaan Idul Fitri, tepatnya 21 Mei 2020, kasus harian COVID-19 untuk pertama kalinya mencapai angka 973. Informasi penambahan kasus pada hari itu dapat dibilang meroket apabila dibandingkan dengan kasus pada hari sebelumnya (20/5/2020) yaitu, 693 kasus.

Achmad Yurianto, yang kala itu masih menjabat sebagai Juru Bicara Penanganan COVID-19 mengatakan, peningkatan tersebut terjadi karena kelompok rentan yang tertular.

"Peningkatan hari ini adalah peningkatan yang tinggi, oleh karena itu mari kita kembali kepada hal yang mendasar," kata Yuri dalam keterangan persnya yang disiarkan langsung dari channel YouTube BNPB Indonesia, Kamis 21 Mei 2020.

Selanjutnya, saat momen Idul Fitri yang jatuh pada 23 Mei 2020, kasus harian COVID-19 kembali mencapai angka 900, tepatnya yaitu 949 kasus. Untuk mencegah lonjakan kasus COVID-19 yang lebih parah, Polri pun menutup arus balik ke wilayah DKI Jakarta.

2. Munculnya klaster Secapa di Jawa Barat

[KALEIDOSKOP] Momen Ledakan Kasus COVID-19 di Indonesia Sepanjang 2020Lingkungan Secapa AD/Secapaad.mil.id

Kasus harian COVID-19 di Tanah Air kembali meroket pada 9 Juli 2020. Penambahan hariannya bahkan mencapai 2.657 kasus. Yuri menjelaskan, hal tersebut bisa terjadi karena munculnya klaster baru Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI Angkatan Darat di Bandung, Jawa Barat.

"Ini didapatkan dari klaster yang sudah selesai kita lakukan penyelidikan epidemiologi, sejak tanggal 29 kemarin, berturut-turut," kata Yuri dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis 9 Juli 2020.

Adapun dari hasil penyelidikan epidemiologi tersebut, didapatkan sebanyak 1.262 kasus positif COVID-19 yang terdiri dari peserta didik dan beberapa tenaga pelatih Secapa TNI AD.

3. Libur panjang di akhir Agustus 2020 jadi pemicu bertambahnya kasus

[KALEIDOSKOP] Momen Ledakan Kasus COVID-19 di Indonesia Sepanjang 2020Sejumlah kendaraan memadati ruas jalan jalur Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (28/10/2020) (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Lonjakan kasus COVID-19 kembali terlihat di akhir Agustus 2020. Satgas Penanganan COVID-19 melaporkan bahwa lonjakan kasus pada akhir Agustus 2020 terjadi akibat peningkatan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Kemerdekaan.

Bukan hanya saat Hari Kemerdekaan, terdapat pula momen libur panjang Tahun Baru Islam pada 20-23 Agustus 2020. Hal itulah yang pada akhirnya menyebabkan, lonjakan kasus di akhir Agustus 2020.

"Pada saat bulan Agustus waktu itu memang agak ada jeda tapi orang juga bisa mengambil cuti antara libur Hari Kemerdekaan dengan libur panjang selanjutnya yaitu di tanggal 20 sampai 23 Agustus," tutur Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah pada keterangan persnya di Jakarta, Rabu 16 Desember 2020 lalu.

4. Long weekend akhir Oktober 2020 jadi alasan meroketnya kasus COVID-19 hingga November

[KALEIDOSKOP] Momen Ledakan Kasus COVID-19 di Indonesia Sepanjang 2020Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi, Jawa Barat, Minggu [1/11/2020]. (ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/foc.)

Selain itu, Dewi juga menjelaskan bahwa kasus COVID-19 di Indonesia kian meroket setelah momen libur panjang akhir Oktober 2020. Secara rinci ia menjelaskan bahwa kenaikan kasus sudah dapat terlihat pada 4 November 2020.

Dampak dari momen libur panjang juga dapat terlihat pada positivity rate yang meningkat 1,30 persen secara absolut apabila dibandingkan dari pekan sebelumnya. Penularan tinggi terus terjadi pada pekan keempat dan kelima setelah libur panjang hingga mencapai 3,87 persen.

"Dampak libur panjang di akhir Oktober mungkin secara waktu jeda lebih lama dibandingkan dengan dua kali libur panjang sebelumnya, namun setelah itu ada event kerumunan juga yang menambah kontribusi dari angka kasus yang ditemukan," katanya.

5. Kasus harian COVID-19 mencapai 8.369 pada 3 Desember 2020

[KALEIDOSKOP] Momen Ledakan Kasus COVID-19 di Indonesia Sepanjang 2020Seorang warga yang tidak mengenakan masker melintas, di depan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus corona (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Masyarakat dikagetkan dengan jumlah kasus harian COVID-19 yang mencapai 8.369 pada 3 Desember 2020 lalu. Juru Bicara Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menjelaskan beberapa alasan dibalik lonjakan kasus tersebut.

Pertama, penambahan kasus terbesar berasal dari Papua dengan kenaikan mencapai 1.755 kasus. Penambahan kasus COVID-19 di Papua merupakan hasil akumulasi sejak November lalu.

"Secara contoh, Papua pada hari ini melaporkan sejumlah 1.755 kasus yang mana merupakan akumulasi dari penambahan kasus positif sejak 19 November hingga hari ini," jelasnya.

Selain itu, menurut Wiku, perbedaan data daerah dengan pusat menjadi salah satu penyebab tingginya angka kasus virus corona hari ini. Ada beberapa data pusat dan daerah yang berbeda seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Papua.

"Angka yang sangat tinggi ini salah satunya disebabkan karena sistem yang belum optimal untuk mengakomodasi pencatatan pelaporan dan validasi data dari provinsi," ujar dia.

Baca Juga: Catat! Ini Orang yang Tidak Dianjurkan Divaksin COVID-19

Topic:

  • Sunariyah

Berita Terkini Lainnya