Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ana Maria dan Luka Adopsi, Menghubungkan 80 Keluarga yang Terpisah
Ilustrasi pemeriksaan anak di posyandu (ANTARA FOTO/Jessica Wuysang)
  • Ana Maria Van Vallen, anak adopsi asal Indonesia di Belanda, berhasil menemukan ibu kandungnya di Bogor setelah menelusuri asal-usulnya sejak usia 18 tahun.
  • Berbekal pengalaman pribadi, Ana membentuk komunitas untuk membantu anak adopsi mencari orang tua kandung; sudah 80 keluarga berhasil dipertemukan meski banyak terkendala dokumen palsu.
  • Pada 1970–1980 sekitar 5.000 anak Indonesia diadopsi ke luar negeri; praktik adopsi ilegal dan hilangnya data membuat banyak kisah pencarian identitas masih berlanjut hingga kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ana waktu kecil diambil dari panti asuhan di Jakarta dan dibawa ke Belanda. Dia tumbuh di sana tapi ingin tahu siapa ibu kandungnya. Saat besar, dia datang lagi ke Indonesia dan akhirnya bertemu ibunya di Bogor. Sekarang Ana bantu banyak anak lain mencari orang tua mereka, sudah 80 keluarga bisa bertemu lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Ana Maria menunjukkan bagaimana pengalaman pribadi dapat berubah menjadi kekuatan yang menyatukan banyak orang. Dari pencarian jati dirinya, ia membangun komunitas yang telah mempertemukan kembali 80 keluarga terpisah, menghadirkan ruang bagi mereka untuk mengenal akar dan identitasnya dengan dukungan empati, ketekunan, serta semangat kemanusiaan yang tulus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ana Maria Van Vallen, begitu dia mengenalkan diri kepada IDN Times. Di sekat layar gawai, Ana menceritakan jati dirinya, dia dapat berbahasa Indonesia dengan baik, meski masih terdengar sedikit aksen Belanda.

Ana adalah anak adopsi asal Indonesia yang berhasil bertemu kembali dengan orang tua kandungnya di Bogor pada 1994. Dia dikenal atas kiprahnya membantu sesama anak adopsi Indonesia di Belanda dalam menelusuri keluarga biologis mereka.

Ana menghabiskan masa kecil dan remajanya di Belanda, hingga kerisauan mendatangi Ana muda yang ingin tau jati diri dan akar identitasnya. Ana diadopsi saat berusia 2,5 tahun ke Belanda, terpisah dari hangat tangan ibu kandung dan momen tumbuh dewasa dengan saudaranya. Dia dibawa ke Belanda dari panti asuhan di Jakarta.

"Saya nama Anna Maria van Vallen. Waktu umur 2,5 tahun, saya berpisah sama ibu kandung dan saudara kandung. Ya, tapi saya besar di Belanda. Umur 2,5 tahun, saya diambil dari panti asuhan di Jakarta. Saya bawa dari Yayasan ke Belanda," kata Ana kepada IDN Times, Kamis (16/4/2026).

1. Ana dan pencarian jati diri

Ana Maria Van Vallen anak adopsi asal Indonesia ke Belanda yang membuat komunitas Mencari Orang Tua Kandung. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Di Belanda dia tinggal dengan tiga saudara laki-laki. Ibunya di sana ingin punya anak perempuan sehingga mengadopsi Ana dari Jakarta. Pada usia 12 tahun, keinginan untuk mengetahui asal-usulnya mulai tumbuh dalam diri Ana. Ia ingin mengenal siapa orang tua kandungnya. Di masa itu, tangis kerap menjadi caranya menampung rasa yang sulit dijelaskan.

Orang tua angkatnya di Belanda kemudian menyampaikan saat ia berusia 18 tahun, dia diperbolehkan kembali ke Indonesia untuk mencari jejak tersebut. Janji itu dia simpan. Dan ketika usia itu tiba, Ana benar-benar kembali. Dia datang ke Indonesia dengan membawa selembar akta kelahiran-hanya berisi satu nama dan satu desa.

Petunjuk yang sangat terbatas, membawanya ke sebuah tempat yang jauh dari jalan besar, tersembunyi di kawasan pegunungan. Di sanalah, di lereng Gunung Salak, Bogor, dia mulai menelusuri kembali potongan awal dari hidupnya. Dia berhasil menemukan ibunya.

Ana kemudian memilih untuk rutin tinggal sementara di Indonesia usai menyelesaikan kuliahnya. Kini dia sudah berada di Indonesia selama 10 tahun.

2. Puluhan anak temukan orang tua kandung

Ana Maria Van Vallen anak adopsi asal Indonesia ke Belanda yang membuat komunitas Mencari Orang Tua Kandung. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Mencari orang tua kandung yang dilakukan Ana, kini dia jalankan sebagai misi kemanusiaan. Dari perjalanan itu, Ana sadar dari banyak orang mengalami kisah serupa. Dia kemudian membentuk sebuah komunitas yang membantu individu mencari orang tua kandung mereka. Melalui wadah ini, dia berbagi pengalaman, menghubungkan cerita, dan membuka jalan bagi mereka yang ingin menemukan kembali akar serta identitas dirinya.

Ana menggambarkan upayanya membantu sesama dengan pendekatan langsung dan digital. “Saya ke RT, RW, ke tempat desa, di kota admin… tapi sedikit sulit,” ujarnya.

Dia lalu membangun jaringan melalui media sosial untuk menyebarkan cerita dan pencarian. Kini Ana sudah punya tim yang bekerja sama menghubungkan kisah hidup tiap individu yang berupaya mencari orang tua kandung mereka.

Selama 10 tahun menjalankan komunitas ini total sudah ada 80 keluarga yang kembali bertemu, merasakan peluk hangat dan mengenal akar dan identitas mereka. Namun nyatanya, 50 persen dari kasus yang ditangani 50 persen berkaitan dengan dokumen palsu.

"Alasan ibu tidak mampu berpisah luar nikah tapi waktu ketemu ada juga ayah. So ada alasan palsu juga. Tapi ada 80 ketemu tapi masih ada 100 lebih masih cari," kata Ana.

3. Ada 5.000 anak Indonesia diadopsi ke luar negeri pada 1970–1980

Kegiatan pemantauan, pengukuran dan intervensi serentak percepatan penurunan stunting kota Medan di lokasi Posyandu Cendrawasih (Dok. Diskominfo Medan)

Ana mencatat bahwa kasus serupa tidak hanya terjadi di Belanda, tetapi juga melibatkan negara lain seperti Prancis, Swedia, Norwegia, Amerika, dan Australia. “Tahun 70–80 banyak anak keluar negeri,” ujarnya.

Dia menyebut sekitar 5.000 anak diadopsi pada periode tersebut, dengan 3.000 ke Belanda dan sisanya ke negara lain.

Meski Indonesia menghentikan adopsi internasional pada 1983, data sebelumnya dinilai belum sepenuhnya terungkap.

“Itu yang ada hitam di atas putih, belum lagi yang kita tidak tahu,” katanya.

Dia juga menyinggung adanya praktik “baby farm” sebagai bagian dari pasar ilegal adopsi saat itu.

4. Terkendala data hilang dan dokumen palsu

Pelayanan Posyandu+ di Kota Solo. (Dok/Pemkot Solo)

Tantangan mencari orang tua kandung juga bukan hanya dari dokumen saja, belum lagi jika sanak keluarga sudah meninggal merasa proses ini hal yang tabu. Tapi juga perubahan wilayah seperti alamat yang hilang karena sudah berganti menjadi gedung jika alamat ada di kota besar.

Ana meyakini bahwa setiap anak berhak mengetahui asal-usulnya. Meski banyak yang tumbuh dalam keluarga adopsi yang baik, dia menilai perpisahan sejak bayi meninggalkan trauma, termasuk kehilangan budaya, bahasa, dan identitas.

“Tidak kompli, selalu ada rasa sedih,” kata dia.

Dia juga menyinggung perbedaan sistem dan kultur, serta temuan adopsi ilegal pada 1970–1980an. Dalam pendampingannya, Ana menemukan kasus bayi dinyatakan meninggal padahal tidak, hingga dokumen palsu.

“Ini juga hak ibu,” katanya.

Editorial Team