Jakarta, IDN Times - Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas, menilai instruksi siaga I yang berlaku di lingkungan TNI merupakan upaya pencegahan dalam mengambil tindakan untuk merespons perkembangan situasi yang terjadi di Timur Tengah. TNI tak boleh menunggu terjadi eskalasi situasi hingga merembet ke kondisi domestik di Tanah Air.
"Itu sebabnya mengapa TNI mengedepankan deteksi dini dan cegah dini. Jadi, ini upaya preventif dan memang sejauh ini belum ada dampak langsung dari perkembangan (konflik di Timur Tengah)," ujar Anton ketika dihubungi oleh IDN Times melalui telepon, Minggu (8/3/2026).
Ia tak menampik dampak dari pemberlakuan status siaga I yakni prajurit TNI akan lebih sering dilihat di ruang-ruang publik. Sebab, salah satu implementasi dari telegram Panglima TNI yang dirilis pada Minggu (1/3/2026) itu adanya penebalan pasukan ke wilayah Jakarta. Hal itu lantaran banyak terdapat aset-aset milik negara asing di ibu kota.
"Tapi, kehadiran TNI yang lebih banyak di ruang publik juga dimanfaatkan untuk penebalan pengamanan jelang arus mudik dan arus balik Idul Fitri," tutur dia.
Di sisi lain, sejumlah analisa menyebutkan, krisis global akan menjadi terbuka bila agresi militer Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran berlangsung lebih dari empat bulan. Sejumlah rantai pasok terganggu dan harga minyak dunia akan melambung tinggi.
"Akibatnya, harga jual BBM nasional dan sejumlah barang bisa ikut naik yang dapat memengaruhi ke stabilitas domestik," katanya.
