Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menyoroti rencana Indonesia yang akan menerima hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi (C551) dari Italia. Ia mengingatkan, di balik label gratis terdapat potensi beban besar yang harus dihitung secara matang oleh pemerintah.
Hasanuddin turut menyoroti faktor usia kapal yang sudah mencapai sekitar 40 tahun sejak mulai bertugas pada 1985. Secara umum, kapal perang dirancang dengan masa pakai 30 hingga 40 tahun.
“Artinya, kapal ini sudah berada di ujung masa operasionalnya. Kalaupun dilakukan perbaikan, kemungkinan hanya dapat digunakan sekitar 10 tahun ke depan, dengan biaya modernisasi yang tidak kecil,” kata Hasanuddin kepada wartawan, Senin (4/5/2026).
Anggota DPR: Kapal Garibaldi Jadi Beban, Masa Pakai Tersisa 10 Tahun

1. Hibah kapal Italia akan bebani anggaran
Anggota Fraksi PDIP DPR RI itu mengatakan, salah satu persoalan utama dari hibah ini adalah tingginya biaya pemeliharaan. Berdasarkan laporan The National Interest, Angkatan Laut Italia menghabiskan sekitar 5 juta euro (sekitar Rp101 miliar) per tahun untuk merawat kapal tersebut, dan sekitar 19 juta euro (sekitar Rp387 miliar) jika dilakukan pembongkaran.
“Angka ini tentu akan menjadi beban baru bagi anggaran pertahanan Indonesia, di luar kebutuhan biaya operasional lainnya,” kata dia.
Adapun biaya tersebut, lanjutnya, mencakup pembaruan radar, sistem komunikasi, persenjataan, pengadaan suku cadang, hingga pelatihan kru. Hal ini berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran pertahanan dalam jangka menengah.
2. Kapal Garibaldi tak cocok bagi pesawat tempur Indonesia
Lebih jauh, Hasanuddin turut menyoroti masalah interoperabilitas. Kapal induk Giuseppe Garibaldi dirancang untuk mengoperasikan pesawat tempur jenis STOVL AV-8B Harrier II, yang tidak sejalan dengan armada pesawat tempur Indonesia saat ini seperti F-16, Sukhoi, maupun Rafale.
Di sisi lain, penggunaan Harrier II juga dinilai memiliki keterbatasan karena hanya digunakan oleh segelintir negara, dan bahkan akan dipensiunkan oleh Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat. Kondisi ini, kata dia, berpotensi menimbulkan kendala dalam ketersediaan suku cadang dan dukungan logistik.
“Jika ingin memaksimalkan fungsi kapal ini, maka Indonesia harus membeli pesawat yang kompatibel. Ini berarti tambahan anggaran baru yang tidak kecil,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia meminta pemerintah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kebijakan ini justru merugikan pemerintah.
“Kita harus cermat memastikan bahwa setiap pengadaan alutsista benar-benar sesuai kebutuhan strategis dan berkelanjutan. Jangan sampai terlihat menguntungkan di awal, tetapi justru menjadi beban di kemudian hari,” kata dia.
3. Kapal Garibaldi akan jadi kado HUT RI
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, mengatakan kapal induk buatan Italia Giuseppe Garibaldi ditargetkan tiba di Tanah Air sebelum HUT ke-81 5 TNI pada Oktober 2026. Kapal bekas Angkatan Laut Italia itu digadang-gadang menjadi kapal induk pertama milik TNI AL.
"Untuk (kapal) Garibaldi masih dalam proses, ya. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI," ujar Ali ketika dikonfirmasi, Sabtu (14/2/2026).
Ali juga mengungkapkan bahwa pemerintah sempat mau mengakuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi. Namun, belakangan berubah menjadi hibah.
"Kami berusaha untuk mengakuisisi kapal induk yang dulu dimiliki Angkatan Laut Italia, yaitu (Giuseppe) Garibaldi. Dan nanti harapannya bisa memperkuat jajaran kita," ujar Ali pada September 2025.
Keberadaan kapal induk, menurut Ali, dibutuhkan untuk mendukung operasi militer selain perang (OMSP). Namun, ia tidak membantah kapal induk itu juga tetap dapat digunakan untuk operasi militer untuk perang (OMP).
”Lebih kita gunakan untuk OMSP, tapi bisa juga digunakan untuk operasi militer untuk perang," tutur Ali.