Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenya Setop Pembangunan Pusat Karantina Ebola yang Didanai AS

Kenya Setop Pembangunan Pusat Karantina Ebola yang Didanai AS
ilustrasi bendera Kenya (unsplash.com/aboodi_vm)
Intinya Sih
  • Menteri Kesehatan Kenya, Aden Duale menghentikan pembangunan pusat karantina Ebola di Laikipia yang didanai AS setelah mendapat tekanan publik dan perintah dari pengadilan.
  • Demonstrasi warga menolak proyek tersebut berujung ricuh di Nanyuki, menyebabkan seorang remaja 17 tahun bernama Sylvester Muigai Ndungu tewas akibat bentrokan dengan polisi.
  • Pemerintah AS mengalokasikan dana sekitar Rp242 miliar untuk membangun fasilitas karantina Ebola guna menampung sementara warganya dari Republik Demokratik Kongo.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Kesehatan Kenya, Aden Duale menyerukan penyetopan pembangunan pusat karantina Ebola di negaranya. Fasilitas tersebut didanai oleh Amerika Serikat (AS) untuk menangani wabah Ebola di Afrika. 

“Saya meminta maaf dan mendesak penghentian pembangunan pusat karantina Ebola di pangkalan militer Laikipia hingga perintah lanjutan dari pengadilan,” tuturnya, dikutip dari The Guardian, Rabu (24/6/2026). 

Pembangunan pusat karantina Ebola ini mendapat penolakan dari warga Kenya. Sebab, terdapat risiko besar penyebaran wabah Ebola yang akan mengganggu kesehatan publik Kenya. 

1. Pengadilan Kenya beri peringatan kepada Duale

Ilustrasi putusan sidang. (freepik)
Ilustrasi putusan sidang. (freepik)

Hakim Pengadilan Tinggi Kenya, Patricia Nyaundi menerima permintaan maaf dari Duale. Namun, ia tetap dikenakan sanksi peringatan karena tidak mengikuti putusan dari pengadilan. 

Dilansir BBC, sejumlah advokat yang menyeret Duale ke pengadilan mendesak hakim menetapkan hukuman lebih. Mereka mendesak pengadilan memberikan sanksi kurungan 15 bulan penjara kepada Menkes Kenya tersebut.

Di sisi lain, Duale mengatakan, pemerintah Kenya dan AS sudah menyetujui penangguhan pembangunan pusat karantina Ebola tersebut. Ia menyebut, penyetopan sesuai dan ia akan menjadi orang terakhir yang menolak putusan pengadilan. 

2. Seorang remaja tewas dalam demo tolak pembangunan pusat karantina Ebola

Orang-orang sedang memakai baju khusus tenaga medis.
ilustrasi wabah Ebola (unsplash.com/Gani Nurhakim)

Pada awal Juni, sejumlah warga Kenya mengadakan demonstrasi menolak pembangunan pusat karantina Ebola di Nanyuki. Namun, demonstrasi tersebut berakhir ricuh setelah polisi Kenya berupaya membubarkan massa. 

Seorang jurnalis AFP mengaku mendengar suara tembakan dan melihat ada seseorang yang ditembak di kepala. Sedangkan jurnalis lainnya mengaku melihat jasad pria yang dibawa di belakang mobil polisi. 

Beberapa hari setelahnya, korban tewas diketahui seorang remaja 17 tahun. Jasad remaja bernama lengkap Sylvester Muigai Ndungu itu ditemukan di rumah duka di Nanyuki setelah 2 hari hilang. 

3. AS biayai pembangunan pusat karantina Ebola sebesar Rp242 miliar

seorang pria memegang bendera Kenya dalam demonstrasi di ibu kota, Nairobi
seorang pria memegang bendera Kenya dalam demonstrasi di ibu kota, Nairobi (pexels.com/MC G'Zay)

Pusat karantina Ebola di Kenya ini menjadi proyek besar AS. Fasilitas itu bertujuan untuk menjadi tempat penampungan sementara warga negara AS di Republik Demokratik Kongo sebelum dipulangkan ke negaranya. 

Washington sudah menjanjikan dana sebesar 13,5 juta dolar AS (Rp242 miliar) untuk pembangunan proyek di Kenya tersebut. Fasilitas itu mengikuti saran dari Centers for Disease and Prevention (CDC) soal penyebaran wabah Ebola yang disebut akan lebih besar. 

Sebelumnya, wabah Ebola sudah terjadi di Afrika antara 2014-2016. Wabah Ebola itu sudah menjangkit lebih dari 28 ribu orang dan membunuh lebih dari 11 ribu orang. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More