Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Biografi Sayuti Melik yang Mengetik Teks Proklamasi Kemerdekaan
Ilustrasi Sayuti Melik yang mengetik teks Proklamasi Kemerdekaan (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Sayuti Melik, lahir di Sleman pada 1908, tumbuh dengan nasionalisme dari keluarga dan pendidikan, serta mempelajari Marxisme melalui bacaan dan Kiai Misbach.
  • Karena tulisan politik dan aktivitas pergerakan, Sayuti berulang kali ditahan Belanda dan Inggris; bersama SK Trimurti, ia menerbitkan Koran Pesat yang mengkritik pemerintah kolonial.
  • Sebagai anggota PPKI dan kelompok Menteng 31, Sayuti terlibat Rengasdengklok lalu mengetik teks Proklamasi 17 Agustus 1945, termasuk mengubah frasa menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
22 November 1908

Sayuti Melik lahir di Sleman, Yogyakarta.

1920

Saat belajar di sekolah guru di Solo, Sayuti mempelajari nasionalisme dari guru sejarah H.A. Zurink.

1926

Sayuti pertama kali berkenalan dengan Sukarno di Bandung. Pada tahun yang sama, ia ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI.

1927-1933

Sayuti dibuang ke Boven Digul.

1936

Sayuti ditangkap Inggris dan dipenjara di Singapura selama setahun.

1937-1938

Setelah diusir dari wilayah Inggris, Sayuti ditangkap Belanda dan dipenjarakan di sel Gang Tengah, Jakarta.

19 Juli 1938

Sayuti menikah dengan SK Trimurti.

Maret 1942

Koran Pesat diberedel Jepang dan SK Trimurti ditangkap Kempetai. Jepang juga mencurigai Sayuti sebagai komunis.

9 Maret 1943

Putera diresmikan di bawah pimpinan Empat Sekawan. Sukarno meminta Jepang membebaskan Trimurti untuk bekerja di Putera.

7 Agustus 1945

PPKI dibentuk dengan Sukarno sebagai ketua. Keanggotaannya kemudian ditambah enam orang, termasuk Sayuti Melik.

16 Agustus 1945

Sayuti, sebagai bagian kelompok Menteng 31, terlibat dalam penculikan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok.

17 Agustus 1945 dini hari

Konsep teks Proklamasi dibacakan tetapi ditolak para pemuda. Usul Sayuti agar teks ditandatangani Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia diterima, lalu ia diperintahkan mengetiknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sayuti Melik mengetik teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia setelah konsepnya disusun Sukarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo.
  • Who?
    Sayuti Melik, Sukarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, Sukarni, serta para pemuda hadir dalam penyusunan dan pengetikan teks proklamasi.
  • Where?
    Konsep teks proklamasi disusun di rumah Laksamana Muda Maeda di Jakarta; Sayuti Melik juga terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok di Karawang, Jawa Barat.
  • When?
    Sayuti Melik mengetik teks proklamasi pada dini hari 17 Agustus 1945, setelah perundingan dan penyusunan konsep berlangsung.
  • Why?
    Pengetikan dilakukan setelah usul Sayuti Melik agar teks ditandatangani Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia diterima para hadirin.
  • How?
    Sukarno memerintahkan Sayuti Melik mengetik konsep tersebut. Sayuti mengubah frasa “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sayuti Melik lahir di Sleman. Ia suka berjuang untuk Indonesia sejak kecil. Belanda pernah menangkapnya karena tulisannya. Sayuti membantu membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Lalu ia mengetik teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Ia juga mengubah kata menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran Mohamad Ibnu Sayuti atau lebih dikenal Sayuti Melik. Sayuti Melik lah yang mengetik teks proklamasi kemerdekaan, setelah konsep disusun Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo.

Di tangan dialah, teks proklamasi bukan hanya ditulis menjadi rapi, tetapi juga disusun kalimatnya hingga diterima para tokoh pemuda Bangsa Indonesia saat kemerdekaan.

Seperti apa perjalanan hidup dan biografi Sayuti Melik yang mengetik naskah proklamasi kemerdekaan hingga jadi saksi kemerdekaan Indonesia?

1. Jiwa nasionalisme Sayuti Melik telah tertanam sejak kecil

Ilustrasi - Ribuan suporter merayakan lolosnya PSIM Yogyakarta ke Liga 1 di Tugu Jogja, Senin (17/2/2025). (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Sayuti Melik lahir di Sleman, Yogyakarta, 22 November 1908. Sayuti Melik anak dari pasangan Abdul Mu'in (Partoprawito) seorang bekel jajar atau kepala desa di Sleman dan Sumilah.

Sayuti memulai pendidikannya di Sekolah Ongko Loro (Setingkat SD) di Desa Srowolan, sampai kelas IV dan diteruskan sampai mendapat Ijazah di Yogyakarta.

Nasionalisme telah ditanamkan oleh ayahnya sejak kecil. Saat itu, ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau.

Ketika belajar di sekolah guru di Solo, 1920, Sayuti Melik belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink.

Pada usia belasan tahun itu, Sayuti Melik tertarik membaca majalah Islam Bergerak pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri. Ketika itu banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk menentang penjajahan. Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme.

2. Sayuti Melik pernah ditahan karena menulis tentang politik

ilustrasi Sayuti Melik (IDN Times/Arief Rahmat)

Sayuti melik pernah menulis tentang politik. Akibatnya, ia ditahan berkali-kali oleh Belanda. Pada 1926, Sayuti ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (1927-1933).

Pada 1936 ia ditangkap Inggris, dipenjara di Singapura selama setahun. Setelah diusir dari wilayah Inggris, Sayuti ditangkap kembali oleh Belanda, dibawa ke Jakarta dan dimasukkan sel di Gang Tengah (1937-1938).

Sepulangnya dari pembuangan, Sayuti berjumpa dengan SK Trimurti dan terlibat dalam berbagai kegiatan pergerakan secara bersama. Akhirnya, pada 19 Juli 1938 mereka menikah.

Sayuti dan SK Trimurti mendirikan Koran Pesat di Semarang yang terbit tiga kali seminggu, dengan tiras 2 ribu eksemplar. Karena penghasilannya masih kecil, pasangan suami-istri itu terpaksa melakukan berbagai pekerjaan, dari redaksi hingga urusan percetakan, dari distribusi serta penjualan hingga langganan.

Trimurti dan Sayuti Melik bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka mengkritik tajam pemerintah Hindia Belanda. Sayuti sebagai bekas tahanan politik yang dibuang ke Boven Digul, selalu dimata-matai dinas intel Belanda (PID).

Pada zaman pendudukan Jepang, Maret 1942, koran Pesat diberedel Jepang, Trimurti ditangkap Kempetai. Jepang juga mencurigai Sayuti sebagai orang komunis.

3. Sayuti Melik tergabung sebagai anggota PPKI

Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 yang salah satu agendanya adalah menetapkan UUD 1945 (Osman Ralliby/Dokumentasi Historica, Penerbit Bulan-Bintang, Djakarta)

Perkenalan Sayuti Melik yang pertama dengan Sukarno terjadi di Bandung pada 1926. Pada 9 Maret 1943, diresmikan berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dipimpin “Empat Sekawan” Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Kiai Mas Mansoer.

Saat itu, Sukarno meminta pemerintah Jepang membebaskan Trimurti, lalu membawanya ke Jakarta untuk bekerja di Putera, dan kemudian di Djawa Hookoo Kai, Himpunan Kebaktian Rakyat Seluruh Jawa.

Pada 7 Agustus 1945, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Sukarno, menggantikan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibubarkan cepat. Anggota awalnya 21 orang. Selanjutnya tanpa sepengetahuan Jepang, keanggotaan bertambah enam orang, termasuk di dalamnya Sayuti Melik.

4. Sayuti Melik terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok (id.wikipedia.org)

Sayuti Melik termasuk dalam kelompok Menteng 31, yang berperan dalam penculikan Sukarno dan Hatta pada 16 Agustus 1945. Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, membawa Sukarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia sembilan bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, Kabupetan Karawang, Jawa Barat. Tujuannya adalah agar Ir. Sukarno dan Moh Hatta tidak terpengaruh Jepang.

Di sini, mereka kembali meyakinkan Sukarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Sukarno dan Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan.

5. Sayuti Melik mengetik teks proklamasi

Teks Proklamasi hasil tulisan tangan Bung Karno yang disimpan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Konsep teks proklamasi disusun Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo di rumah Laksamana Muda Maeda. Wakil para pemuda, Sukarni dan Sayuti Melik. Masing-masing sebagai pembantu Bung Hatta dan Bung Karno ikut menyaksikan peristiwa tersebut.

Setelah selesai, pada 17 Agustus 1945 dini hari, konsep teks proklamasi itu dibacakan di hadapan para hadirin. Namun, para pemuda menolaknya. Teks Proklamasi itu dianggap seperti dibuat Jepang.

Dalam suasana tegang itu, Sayuti Melik memberi gagasan agar Teks Proklamasi ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta saja, atas nama bangsa Indonesia. Usulnya diterima, dan Bung Karno segera memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetiknya. Ia mengubah kalimat "Wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama bangsa Indonesia".

Curated For You

Editorial Team

Related Article