Jakarta, IDN Times - Desk gabungan untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) akhirnya memutuskan menggunakan metode penyebaran dry ice atau es kering untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan. Penggunaan es kering dianggap merupakan langkah taktis lantaran nyaris tak ada awan di musim kemarau ini. Sedangkan bandara-bandara untuk penerbangan komersial di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dalam keadaan lumpuh akibat tertutup asap karhutla.
"Oleh karena itu, tim desk terpadu mengusulkan metode baru untuk modifikasi cuaca dengan menggunakan dry ice," ungkap Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Rabu (21/10/2026).
Harapannya dengan penggunaan es kering maka bisa memecah lapisan inversi. Dengan begitu, asap pekat yang dihasilkan akibat karhutla bisa sedikit terurai dan naik ke atas.
"Kemudian butterfly effect-nya adalah radiasi sinar matahari bisa masuk sehingga proses konvektif yang menjadi awal mula proses terjadinya hujan ini bisa terbentuk," katanya.
Budi mengakui ini baru kali pertama BMKG dan sejumlah lembaga menggunakan metode es kering untuk modifikasi cuaca. Tantangan pun tak terelakan, salah satunya stok dry ice yang hanya tersedia di area Jakarta.
Di titik-titik lokasi karhutla tidak tersedia stok dry ice. Itu sebabnya pengiriman es kering dilakukan secara reguler dari ibu kota. Seperti hari ini, TNI Angkatan Udara (AU) mengirimkan 13,6 ton stok es kering untuk dibawa ke Kalimantan Selatan dan Sumatra Selatan.
"Produksi dry ice ini sangat sulit, kecuali dari Jakarta. Kalau dari Jakarta sudah ada dalam bentuk palet untuk menyimpan makanan. Sementara, di daerah-daerah hanya ada (dry ice) berupa balokan dan biasanya digunakan untuk keperluan pesta," tutur dia.
