Modifikasi Cuaca Dry Ice Kurangi Konsentrasi Asap Karhutla di Sumsel

Kementerian Kehutanan, BMKG, dan TNI menggelar OMC dry ice di Sumatera Selatan pada 16-25 Oktober 2026.
Data sementara BMKG mencatat penurunan PM2.5 dan peningkatan jarak pandang setelah pelaksanaan OMC.
Penanganan karhutla dilakukan secara terpadu, dengan dry ice yang dapat dikombinasikan dengan garam saat kondisi atmosfer mendukung.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kehutanan bersama BMKG dan TNI menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Thomas Nifinluri mengatakan, operasi yang berlangsung 16-25 Oktober 2026 ini menggunakan bahan semai dry ice.
“Semai dry ice metode untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer,” ujar Thomas dalam keterangan tertulis Kemenhut, Minggu (18/10/2026).
1. Operasi dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer di lapangan

Ilustrasi helikopter pemadaman karhutla (IDN Times/Rangga Erfizal) Thomas menjelaskan, operasi dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer di lapangan dan dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam (NaCl) apabila kondisi atmosfer mulai mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Pendekatan secara khusus menggunakan bahan semai dry ice ditujukan untuk menipiskan asap karhutla, dengan memengaruhi kondisi suhu atmosfer dan membantu mengganggu kestabilan lapisan inversi, sehingga pergerakan udara menjadi lebih baik dan konsentrasi asap di dekat permukaan berpotensi berkurang,” ujar Thomas.
2. Operasi dry ice akan terus dilakukan

Kabut asap semakin tebal akibat karhutla. (IDN Times/istimewa). Hasil sementara berdasarkan data BMKG, OMC dry ice di Sumsel terjadi penurunan konsentrasi PM atau kualitas udara 2.5 dari 660 (kategori berbahaya) di pagi hari menjadi 208 (kategori sangat tidak sehat).
Sore hari setelah sorti kedua dan visibility (jarak pandang) meningkat dari 300 meter di jam 9 pagi, menjadi 2.800 meter di sore hari.
Pada hari pertama pelaksanaan, OMC dilakukan melalui satu sortie penerbangan dengan membawa sekitar 800 kilogram bahan semai dry ice di sekitar wilayah Palembang. Pada hari berikutnya, penerbangan direncanakan sebanyak dua sortie atau disesuaikan dengan kondisi cuaca dan atmosfer.
“Operasi akan terus menyesuaikan perkembangan kondisi atmosfer. Jika lapisan inversi mulai menipis dan terdapat potensi pertumbuhan awan hujan, penyemaian dry ice dapat dikombinasikan dengan bahan semai garam untuk mendukung proses pembentukan hujan,” ujarnya.
3. Pendekatan penipisan asap untuk mengurangi dampak

Proses water bombing oleh tim satgas Udara Karhutla Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal) Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan penanganan karhutla terus dilakukan bersama TNI Polri, BNPB, BMKG, BPBD, Manggala Agni Kemenhut, Masyarakat Peduli Api dan Relawan.
“Upaya penanganan karhutla perlu dilakukan secara terpadu, tidak hanya melalui pemadaman di lokasi kebakaran, tetapi juga dengan langkah-langkah untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat,” kata Dwi.
“Pelaksanaan OMC dengan pendekatan penipisan asap ini menjadi salah satu upaya pendukung yang diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas udara di wilayah terdampak,” lanjutnya.




















