Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BPIP: Pendidikan Pancasila Bangkit Lagi Setelah Vakum Sejak Reformasi
Kepala BPIP Prof. Yudian Wahyudi memberikan sambutan di Balai Agung, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026). (IDN Times/Anggia Leksa)
  • Pendidikan Pancasila kembali menjadi mata pelajaran mandiri setelah vakum sejak Reformasi, dengan tujuan menghidupkan kembali penanaman nilai-nilai dasar negara kepada generasi muda.
  • Kurikulum baru menekankan 70 persen praktik lapangan dan 30 persen teori agar siswa dapat mengaktualisasikan nilai Pancasila melalui kegiatan nyata di masyarakat.
  • Pramono Anung mendorong pembelajaran Pancasila yang relevan dengan isu terkini dan dilakukan secara menyenangkan agar siswa memahami makna ideologi bangsa secara mendalam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
tahun 1998

Setelah Reformasi, Pendidikan Pancasila sempat vakum dan tidak menjadi fokus utama dalam kurikulum pendidikan nasional.

7 April 2026

Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyatakan Pendidikan Pancasila kembali dikukuhkan sebagai mata pelajaran mandiri dan menjelaskan komposisi kurikulum baru yang menitikberatkan pada praktik lapangan.

kini

Pendidikan Pancasila kembali diterapkan di sekolah dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan menyenangkan, sesuai arahan Pramono Anung agar relevan dengan isu terkini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pendidikan Pancasila kembali dikukuhkan sebagai mata pelajaran mandiri setelah sempat tidak menjadi fokus utama dalam kurikulum nasional sejak era Reformasi.
  • Who?
    Kepala BPIP Yudian Wahyudi dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan kebijakan serta arahan terkait penguatan kembali Pendidikan Pancasila di sekolah.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Jakarta Pusat, dengan penerapan kebijakan direncanakan pada seluruh jenjang satuan pendidikan di Indonesia.
  • When?
    Kebijakan ini diumumkan pada Selasa, 7 April 2026, setelah masa vakum sejak tahun 1998 pasca-Reformasi.
  • Why?
    Langkah ini bertujuan mengembalikan eksistensi nilai-nilai dasar negara dan memperkuat pemahaman ideologi bangsa melalui pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.
  • How?
    Kurikulum baru menerapkan komposisi 30 persen teori dan 70 persen praktik lapangan, dengan metode pembelajaran yang menyenangkan serta dikaitkan dengan isu-isu aktual masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Sekarang pelajaran Pancasila ada lagi di sekolah. Pak Yudian dari BPIP bilang dulu pelajaran itu sempat berhenti lama. Sekarang anak-anak belajar Pancasila bukan cuma baca buku, tapi juga praktik di luar kelas. Pak Pramono mau guru bikin belajar jadi seru dan pakai hal-hal yang terjadi sekarang supaya anak-anak paham dan senang belajar Pancasila.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kembalinya Pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran mandiri menunjukkan upaya serius untuk menanamkan nilai dasar bangsa secara lebih hidup dan relevan. Dengan porsi praktik lapangan yang dominan serta pendekatan pembelajaran yang menyenangkan, siswa berkesempatan menghayati Pancasila melalui pengalaman nyata dan diskusi aktual, menjadikan pendidikan ideologi ini lebih kontekstual dan bermakna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, mengatakan, Pendidikan Pancasila kini kembali dikukuhkan sebagai mata pelajaran mandiri setelah sempat tidak menjadi fokus utama dalam kurikulum pendidikan nasional selama era Reformasi.

"Sejak tahun 1998, setelah reformasi, itu kan sempat vakum. Semoga kegiatan ini menjadi akselerasi pemanfaatan Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila pada seluruh jenjang satuan pendidikan serta mengembalikan eksistensi nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan," ujar Yudian di Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

Dia mengatakan, langkah ini diambil untuk mengembalikan eksistensi nilai-nilai dasar negara yang sempat mengalami kekosongan selama hampir tiga dekade terakhir.

1. Komposisi kurikulum berbasis praktik lapangan

Kepala BPIP Prof. Yudian Wahyudi memberikan sambutan di Balai Agung, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026). (IDN Times/Anggia Leksa)

Yudian mengatakan, skema pendidikan pancasila mulai menerapkan pembagian porsi materi yang lebih menitikberatkan pada aspek implementasi di luar ruangan. Secara teknis, kurikulum ini dirancang dengan komposisi 30 persen aspek pengetahuan teoritis dan 70 persen praktik aktualisasi di lapangan.

Yudian mengatakan, pendekatan kognitif tetap diberikan sebagai dasar, tetapi porsi terbesar diarahkan pada penugasan yang membuat siswa terjun langsung ke lingkungan masyarakat. Dengan perbandingan tersebut, peserta didik diharapkan dapat menghayati nilai-nilai Pancasila melalui aksi nyata, seperti kegiatan menjaga lingkungan hingga perilaku antikorupsi.

2. Pramono Anung minta endidikan Pancasila di sekolah dikaitkan dengan isu terkini

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kiri) dan Kepala BPIP Prof. Yudian Wahyudi (kanan) di Balaikota, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026). (IDN Times/Anggia Leksa)

Tak hanya itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan agar pengajaran Pancasila di lingkungan sekolah tidak lagi sebatas teori tekstual, melainkan harus diintegrasikan dengan isu terkini.

"Saya sungguh berharap bahwa Pancasila itu hadir di dalam ruang diskusi yang hidup di kelas. Jangan bersifat dogmatis dengan mengaitkan proses pembelajaran para siswa dengan hal-hal aktual apa yang terjadi pada masyarakat saat ini," ujar Pramono.

Dia mengatakan, nilai-nilai ideologi bangsa perlu dihadirkan dalam ruang diskusi yang relevan agar para siswa dapat memahami perannya di tengah perkembangan zaman.

3. Penerapan metode pembelajaran yang menyenangkan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kiri) dan Kepala BPIP Prof. Yudian Wahyudi (kanan) di Balaikota, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026). (IDN Times/Anggia Leksa)

Selain itu, Pramono mendorong agar para guru menjadikan proses pengenalan ideologi bangsa sebagai sesuatu yang bermakna dan tidak sekadar menjadi hafalan bagi para siswa.

Metode yang menyenangkan dianggap lebih kuat dalam membentuk karakter anak didik dibandingkan dengan cara-cara konvensional yang kaku.

“Jadikan proses pembelajaran ini yang menyenangkan dan bermakna, jangan sekadar hanya menjadi hafalan. Kalau hafalan pasti saya yakin di ruang ini semuanya hafal Pancasila, tetapi (buat) menjadi menyenangkan,” kata Pramono.

Menurut Pramono, hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal sila-sila Pancasila, tetapi juga merasakan kebermanfaatannya dalam interaksi sosial sehari-hari.

Editorial Team