Jakarta, IDN Times - Direktur Trias Politika, Agung Baskoro, menilai ucapan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, dalam pertemuan yang ikut dihadiri mantan Presiden Joko "Jokowi" Widodo jelas merupakan manuver politik. Sebab, dalam pandangannya percepatan Pemilu 2029 tidak dibutuhkan. Bila sampai itu terjadi biaya politik yang dikeluarkan terlalu besar.
Di sisi lain, Agung menilai mantan Menteri Komunikasi dan Informatika itu sedang mencari celah atau peluang agar geng Solo kembali diperhitungkan.
"Narasi pemilu agar dipercepat ini kan seharusnya tidak ada karena kalau kita ambil contoh situasi ekonomi meskipun belum pulih benar tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Indikator paling sederhana nilai tukar dolar ke rupiah sekarang ada di Rp17.700, jadi dolar stabil. Ini membaik dibanding kemarin yang menunjukkan angka Rp18.200. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) juga begitu sempat menyentuh di bawah 6.000," ungkap Agung ketika dihubungi oleh IDN Times melalui telepon, Rabu (26/8/2026).
Namun, tak bisa dipungkiri pekerjaan rumah di era pemerintahan Prabowo-Gibran juga masih banyak. Antara lain, soal ketersediaan lapangan pekerjaan, stabilitas harga-harga sembako hingga penanganan korupsi. Dalam hasil survei, tiga isu itu menempati posisi teratas yang menjadi kekhawatiran masyarakat.
"Kalau tiga permasalahan itu bisa diselesaikan, maka (tingkat kepercayaan publik) bisa rebound," tutur dia.
"Jadi, memang ini menjadi manuver politik tajam bahwa Projo dalam konteks ini Budi Arie, walaupun hanya mewakili pribadi atau individu tidak bisa dilepaskan bahwa Beliau juga bagian dari Projo itu sendiri," imbuhnya.
