Salah satu rumah tradisional masyarakat suku Osing yang ada di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi (26/6/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Salah satu rumah tradisional masyarakat suku Osing yang ada di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi (26/6/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Bagi Astra, pembangunan desa menjadi salah satu fokus utama kontribusi sosial perusahaan. Windy menjelaskan, pembangunan ekonomi yang merata harus dimulai dari wilayah pedesaan yang masih memiliki tingkat kemiskinan relatif tinggi sekaligus budaya gotong royong yang kuat sebagai modal perubahan sosial.
Karena itu, Astra mengembangkan program Desa Sejahtera Astra sebagai pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang dijalankan melalui kolaborasi dengan masyarakat dan local champion atau tokoh penggerak desa.
Program tersebut bertujuan membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan melalui empat bidang utama, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Saat ini Astra bersama Grup Astra telah berkolaborasi dengan lebih dari 1.500 Desa Sejahtera Astra di 35 provinsi di Indonesia.
Kemiren dipilih karena memiliki tiga komponen penting yang menjadi syarat pengembangan Desa Sejahtera Astra, yakni memiliki potensi unggulan, memiliki tokoh penggerak atau local champion, serta memiliki kelembagaan masyarakat yang mampu menjaga keberlanjutan program.
Hasilnya mulai terlihat. Sejak 2019, Desa Kemiren berhasil meraih berbagai penghargaan nasional maupun internasional di bidang pariwisata dan budaya, mulai dari Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata, ASEAN Tourism Award 2025, hingga terpilih dalam The Best Tourism Village Upgrade Program 2025.
Menurut Windy, berbagai pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan masyarakat bukan dua hal yang saling bertentangan.
Sebaliknya, ketika keduanya berjalan berdampingan melalui pendekatan kolaboratif bersama masyarakat, budaya lokal justru mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga.
Ke depan, Astra berharap Desa Sejahtera Astra Kemiren tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata budaya, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi desa, sekaligus contoh bagaimana warisan budaya dapat tetap hidup di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Penggerak Desa Wisata, Moh Edy Saputro tak memungkiri berkembangnya Desa Kemiren membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Pasalnya kunjungan dari wisatawan terus mengalami lonjakan. Berdasarkan data reservasi, sepanjang tahun 2025 ada 3.683 wisatawan lokal yang berkunjung. Sementara ada pula 114 turis mancanegara.
"Kalau di tahun 2026 ini sendiri, masih pertengahan tahun sudah ada 3.143 wisatawan lokal yang berkunjung dan 125 Warga Negara Asing (WNA). Tentu angka ini meningkat ya, mengingat tahun 2026 ini belum tutup tahun," ujar dia menjelaskan kepada awak media.
Dari kunjungan itu, berawal dari budaya yang mengakar, pendapatan Desa Wisata Kemiren juga tak main-main. Desa ini mendapat omzet sekitar Rp3,2 miliar pada periode 2022 sampai 2025. Di mana per tahunnya mendapat sekitar 500 hingga 800 juta pemasukan.
Edy mengatakan, keberhasilan desa ini bukan datang dengan sendirinya. Tetapi banyak tangan usaha dari warga desa yang tak henti terus berbenah dan keyakinan bahwa melestarikan budaya adalah niat yang tak akan sia-sia.