Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pria asal Kalimantan Utara (Kaltara), Alwan Saputra hadiri persidangan terkait ijazah Presiden Ketujuh RI Jokowi (Sidang Jokowi). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Alwan Saputra dari Kalimantan Utara menghabiskan sekitar Rp10 juta untuk datang sendiri ke PN Jakarta Timur dan memberi dukungan moral kepada Jokowi dalam sidang polemik ijazah.

  • Alwan menyebut pembangunan era Jokowi, termasuk proyek strategis nasional dan IKN, membuat warga perbatasan Kaltara merasa lebih bangga sebagai warga Indonesia.

  • Meski belum memastikan kebenaran tudingan ijazah, Alwan meminta pembuktian berbasis fakta persidangan dan berharap polemik tidak berlarut-larut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Seorang pria yang mengaku berasal dari Kalimantan Utara (Kaltara), Alwan Saputra (56), rela menghabiskan uang hingga Rp10 juta, agar bisa datang ke Jakarta.

Kedatangannya bukan untuk berlibur, melainkan memberikan dukungan moral kepada Presiden ke-7 RI, Joko "Jokowi" Widodo, yang menghadiri persidangan polemik ijazah di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).

Alwan mengaku datang seorang diri tanpa rombongan maupun dukungan dari organisasi atau partai politik. Ia mengetahui informasi mengenai kehadiran Jokowi di persidangan melalui media sosial.

"Saya Haji Alwan Saputra dari Kalimantan Utara, perbatasan Malaysia. Jauh-jauh hadir di sini untuk memberikan dukungan moral," ujar Alwan di PN Jakarta Timur.

Saat ditanya mengenai biaya perjalanan dari Kalimantan Utara ke Jakarta, Alwan menyebut telah mengeluarkan uang sekitar Rp10 juta. Ia juga belum memastikan kapan akan kembali ke kampung halamannya.

Alwan mengaku kedatangannya ke Jakarta didorong rasa terima kasih kepada Jokowi yang telah memimpin Indonesia 10 tahun. Menurutnya, masyarakat di wilayah perbatasan, khususnya Kalimantan Utara, merasakan dampak pembangunan selama pemerintahan Jokowi.

Ia menilai pembangunan yang dilakukan pada era Jokowi, termasuk proyek strategis nasional dan Ibu Kota Nusantara (IKN), memberikan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat perbatasan.

"Karena kami di perbatasan selama ini sangat tertinggal dengan negara lain, Malaysia. Alhamdulillah, berkat beliau, kita sudah bangga menjadi warga Indonesia," ungkapnya.

Terkait polemik ijazah Jokowi yang dikaitkan dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Alwan mengaku tidak bisa memastikan kebenaran berbagai tudingan yang beredar. Ia memilih mengikuti proses hukum dan menunggu fakta yang terungkap di persidangan.

Menurut Awan, pembuktian dalam perkara tersebut harus didasarkan pada fakta, bukan sekadar informasi yang beredar di media sosial.

"Sesuai fakta-fakta saja. Karena yang dijelaskan ini pembuktian ijazah. Mudah-mudahan itu asli," kata dia.

Alwan juga mengaku yakin Jokowi memiliki latar belakang pendidikan dan perjalanan karier yang masuk akal. Ia menyinggung pengalaman Jokowi sebelum menjadi presiden, mulai dari bekerja di bidang kehutanan hingga menjalankan usaha mebel dan menjadi wali kota.

Selain itu, Alwan menilai, kehadiran Jokowi secara langsung di pengadilan menjadi kesempatan untuk memperjelas polemik yang selama ini berkembang.

Alwan berharap polemik yang menyeret Jokowi tidak terus berlarut-larut. Ia juga meminta Presiden Prabowo Subianto mengambil peran untuk meredam kegaduhan politik yang dinilainya dapat berdampak terhadap kondisi negara dan perekonomian.

Menurutnya, seluruh mantan presiden Indonesia, termasuk Jokowi dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), perlu dihormati setelah menyelesaikan masa jabatannya.

Alwan menegaskan, keputusannya datang jauh-jauh dari Kalimantan Utara merupakan panggilan hati. Ia bahkan mengaku sempat mengunjungi Solo beberapa hari sebelumnya untuk melihat dukungan masyarakat kepada Jokowi.

"Saya juga kemarin ke Solo, dua-tiga hari lalu, dari Jumat, ya. Ini berarti itu ratusan orang, ribuan. Dan saya menyaksikan ratusan orang antre hadir ke sana. Ini kalau tidak panggilan hati, ini hati, urusan Tuhan, kan? Terus saya ke sini hadir jauh-jauh," tuturnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article