Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran: Spanduk di HI hingga Orasi Tugu Tani
Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk berisi kritik terhadap pemerintah di Bundaran HI, Jakarta. (instagram.com/greenpeaceid)
  • Pada 20 Oktober 2026, 26 aksi unjuk rasa berlangsung di berbagai titik Jakarta, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka.

  • Greenpeace membentangkan spanduk soal krisis iklim dan biaya hidup di Bundaran HI; enam pemanjat diamankan polisi setelah spanduk diturunkan.

  • BEM UI dan Komite Sadar menyoroti karhutla, ruang sipil, korupsi, biaya pendidikan-kesehatan, serta ketimpangan; 9.505 personel gabungan dikerahkan untuk pengamanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selasa (20/10/2026) pagi

Petugas gabungan mencopot dua spanduk Greenpeace di Patung Selamat Datang Bundaran HI. Enam pemanjat patung diamankan polisi dan dibawa ke Polda Metro Jaya.

Selasa, 20 Oktober 2026

Greenpeace, BEM UI, Komite Selamatkan Daulat Rakyat, dan kelompok lain menggelar aksi di sejumlah titik Jakarta. Polda Metro Jaya mencatat 26 aksi penyampaian pendapat dan mengerahkan 9.505 personel gabungan untuk pengamanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sebanyak 26 aksi penyampaian pendapat berlangsung di Jakarta, termasuk aksi Greenpeace, BEM UI, dan Komite Selamatkan Daulat Rakyat, yang mengangkat isu krisis iklim, karhutla, biaya hidup, pendidikan, kesehatan, korupsi, dan ruang sipil.
  • Who?
    Greenpeace Indonesia, BEM UI, mahasiswa Komite Selamatkan Daulat Rakyat, enam pemanjat Patung Selamat Datang, serta personel Polri, TNI, Pemprov DKI Jakarta, Damkar, Satpol PP, dan Pamdal terlibat dalam kegiatan dan pengamanan.
  • Where?
    Aksi tersebar di Bundaran HI, Tugu Tani, Tugu Proklamasi, Monas, Gedung DPR/MPR RI, serta sejumlah kementerian dan lembaga di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
  • When?
    Kegiatan berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
  • Why?
    Demonstran mendesak penanganan krisis iklim dan karhutla, penurunan biaya hidup serta pendidikan, pemulihan ekosistem, pemberantasan korupsi, penghentian penyempitan ruang sipil dan militerisasi, serta pembenahan kebijakan ekonomi.
  • How?
    Greenpeace membentangkan dua spanduk di Patung Selamat Datang sebelum dicopot; enam pemanjat diamankan polisi. BEM UI datang terpisah tanpa jas almamater. Sebanyak 9.505 personel gabungan dikerahkan dengan pengaturan lalu lintas situasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Jakarta, banyak orang dan mahasiswa berkumpul pada 20 Oktober. Mereka bicara soal udara dan hutan, harga hidup, sekolah, kesehatan, dan korupsi. Greenpeace memasang spanduk di Bundaran HI, lalu enam orang dibawa polisi. Ada 26 aksi di banyak tempat. Polisi dan petugas menjaga supaya keadaan aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rangkaian aksi di berbagai titik Jakarta memperlihatkan ruang partisipasi publik yang tetap digunakan mahasiswa dan kelompok masyarakat untuk mengangkat persoalan lingkungan, biaya hidup, pendidikan, kesehatan, serta tata kelola. Penyiapan pengamanan dan pengaturan lalu lintas, disertai pendampingan hukum bagi peserta yang diamankan, menunjukkan adanya perhatian terhadap kelancaran kegiatan dan proses pendampingan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, sejumlah kelompok masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta pada Selasa, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut meliputi demonstrasi Greenpeace Indonesia di Bundaran Hotel Indonesia serta aksi mahasiswa dari BEM UI dan Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) di Tugu Proklamasi dan Tugu Tani, Jakarta Pusat.

Para demonstran menyuarakan sejumlah persoalan yang dinilai belum tertangani, mulai dari krisis iklim dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tingginya biaya hidup, korupsi, penyempitan ruang sipil, hingga beban biaya pendidikan dan kesehatan.

1. Greenpeace bentangkan spanduk sebagai aksi unjuk rasa di Patung Selamat Datang Bundaran HI

Baliho yang dibentangkan oleh aktivis Greenpeace Indonesia untuk memperingati 2 tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran. (Dokumentasi Greenpeace Indonesia)

Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI). Spanduk bertuliskan "Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” dan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” itu merupakan bagian dari aksi Greenpeace Indonesia untuk mendesak pemerintah agar lebih serius menangani krisis iklim.

Melalui pesan pada spanduk tersebut, Greenpeace menyoroti kaitan antara kerusakan lingkungan, bencana yang semakin parah, dan meningkatnya beban biaya hidup masyarakat.

Namun, selang beberapa saat, spanduk itu dicopot pada hari yang sama. Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah petugas gabungan dari Polri, TNI Angkatan Darat (AD), pemadam kebakaran, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terlihat berada di sekitar kolam Bundaran HI saat penurunan spanduk tersebut.

Enam pemanjat patung tersebut diamankan oleh polisi usai menurunkan baliho. Kemudian, mereka dibawa ke Kantor Polda Metro Jaya. Mereka juga sudah didampingi oleh tim kuasa hukum.

"Saat ini teman-teman ditangkap oleh polisi. Saat ini teman-teman sedang dalam proses pendampingan. Mereka dibawa ke PMJ (Polda Metro Jaya)," ujar Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeany Sirait kepada IDN Times melalui telepon, Selasa (20/10/2026).

2. Aksi demonstrasi di Tugu Tani dan tuntutannya

Mahasiswa melakukan aksi simbolik dengan memasang spanduk di Patung Kuda, Jakarta, Selasa (20/10/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu W.)

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan mahasiswa lainnya menggelar aksi demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Mereka juga menerapkan pola baru. Alih-alih menggunakan kendaraan bersama untuk menuju lokasi aksi, mereka memilih datang secara terpisah dan tanpa mengenakan jas almamater.

Adapun beberapa tuntutan yang ingin mereka sampaikan, yakni sebagai berikut!

1. Menetapkan karhutla sebagai bencana nasional dan memulihkan ekosistem yang rusak.

3. Menghentikan penyempitan ruang sipil dan militerisasi.

4. Memberantas KKN yang kita lihat saat mengkhawatirkan.

5. Menurunkan biaya pendidikan dan mewujudkan sistem pendidikan yang mengabdi kepada rakyat.

6. Membenahi tata kelola kebijakan ekonomi untuk memberantas ketimpangan sosial yang sampai hari ini terlihat

Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, mengatakan, pendekatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi hambatan sebelum mahasiswa tiba di titik aksi. Selain itu, BEM UI ingin menguji pola demonstrasi yang lebih fleksibel dengan jumlah massa yang tidak sebanyak aksi sebelumnya.

Fathimah menjelaskan, aksi di Tugu Tani kali ini juga mengangkat persoalan yang dinilai lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah keprihatinan mahasiswa terhadap kondisi karhutla.

"Karena memang nuansanya berbeda ya. Kalau yang sekarang kita sangat prihatin dengan kondisi karhutla dan sebagainya. Kemudian juga tuntutan-tuntutan kita tuh yang sekarang sangat-sangat berfokus pada apa ya? Concern yang sangat-sangat grassroot," ujar dia.

3. Mahasiswa yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat gelar aksi di Tugu Proklamasi

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aksi Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) membacakan evaluasi pemerintahan Prabowo-Gibran di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (20/10/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Mahasiswa dari berbagai universitas yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) sebelumnya menggelar aksi simbolik di Tugu Proklamasi dan melanjutkan aksi massa di Tugu Tani, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan alias Atop, mengatakan, gerakan tersebut membawa keresahan masyarakat yang dihimpun melalui survei terhadap 560 responden dari Sumatra hingga Papua.

“Hasil survei menunjukkan 78,8 persen responden menilai pemerintahan Prabowo-Gibran beserta jajaran kabinetnya telah gagal,” kata Atop.

Survei tersebut mencakup beberapa permasalahan, mulai dari mahalnya harga kebutuhan pokok, pembatasan kebebasan berpendapat, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, hingga deforestasi dan kebakaran hutan. Biaya pendidikan serta kesehatan juga menjadi perhatian.

Polda Metro Jaya menyiapkan ribuan personel untuk mengamankan berbagai kegiatan masyarakat, termasuk penyampaian aspirasi di sejumlah titik Jakarta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan, terdapat 52 kegiatan masyarakat pada Selasa, yang terdiri dari 26 kegiatan penyampaian pendapat di muka umum dan 26 kegiatan masyarakat lainnya.

“Adapun 26 kegiatan aspirasi penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan di beberapa titik, seperti hari ini kita berada di Silang Selatan Monas dan sekitar wilayah Tugu Tani, Tugu Proklamasi, DPR/MPR RI, beberapa titik di kementerian lembaga di wilayah hukum Polda Metro Jaya,” kata Budi.

4. Total ada 26 aksi unjuk rasa di wilayah hukum Polda Metro Jaya pada Selasa 20 Oktober 2026

Demo Mahasiswa Papua menuntut segera sahkan RUU Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua di Patung Kuda, Jakarta Pusat (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Secara keseluruhan, terdapat 26 aksi penyampaian pendapat di muka umum akan berlangsung di wilayah hukum Polda Metro Jaya hari ini, Selasa (20/10/2026). Aksi ini digelar di beberapa titik termasuk kawasan Monumen Nasional (Monas), Tugu Tani, Tugu Proklamasi, Gedung DPR/MPR RI, serta sejumlah kementerian dan lembaga.

Budi mengatakan, aksi tersebut adalah bagian dari 52 kegiatan masyarakat yang berlangsung Selasa. Sebanyak 26 kegiatan di antaranya merupakan aksi penyampaian aspirasi, dan 26 lainnya merupakan kegiatan masyarakat.

“Adapun 26 kegiatan aspirasi penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan di beberapa titik, seperti hari ini kita berada di Silang Selatan Monas dan sekitar wilayah Tugu Tani, Tugu Proklamasi, DPR/MPR RI, beberapa titik di kementerian lembaga di wilayah hukum Polda Metro Jaya,” kata Budi.

Untuk mengamankan seluruh kegiatan tersebut, sebanyak 9.505 personel gabungan dikerahkan. Jumlah itu terdiri dari 7.660 personel Polri, 1.540 personel TNI, 135 personel Pemprov DKI Jakarta, dan 170 personel pengamanan dalam (Pamdal).

Kepolisian juga menyiapkan pengaturan lalu lintas secara situasional untuk mengantisipasi kepadatan di sekitar lokasi aksi. Masyarakat diimbau menghindari kawasan demonstrasi apabila tidak memiliki kepentingan mendesak dan memanfaatkan jalur alternatif

Curated For You

Editorial Team

Related Article