Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ini Alasan BEM UI Pilih Gelar Demo di Tugu Tani

4 min read
Ini Alasan BEM UI Pilih Gelar Demo di Tugu Tani
Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • BEM UI memilih Tugu Tani untuk demonstrasi karena menilai lokasinya simbolis bagi tuntutan yang lebih spesifik, berbasis akar rumput, termasuk keprihatinan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
  • Peserta aksi diminta datang mandiri tanpa Kopaja, sebagai model baru untuk menghindari hambatan perjalanan yang sebelumnya terjadi dan menjaga kondisi psikologis mahasiswa sebelum tiba di lokasi.
  • BEM UI menyatakan aksi akan terus dilakukan selama tuntutan belum dipenuhi; meski konteks isu berubah, mahasiswa menilai persoalan intinya tetap sama dan akan dilanjutkan lewat regenerasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) memilih menggelar aksi demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta, alih-alih Bundaran Hotel Indonesia (HI) seperti aksi sebelumnya. Pemilihan lokasi tersebut didasari oleh fokus tuntutan mahasiswa yang dinilai lebih dekat dengan persoalan masyarakat akar rumput (grassroot).

Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, mengatakan aksi kali ini memiliki nuansa berbeda dibandingkan demonstrasi sebelumnya di Bundaran HI. Menurutnya, mahasiswa kini ingin menyoroti persoalan yang lebih spesifik dan dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Karena memang nuansanya berbeda ya. Kalau yang sekarang kita sangat prihatin dengan kondisi karhutla dan sebagainya. Kemudian juga tuntutan-tuntutan kita tuh yang sekarang sangat-sangat berfokus pada apa ya? Concern yang sangat-sangat grassroot," ujar Fathimah di kawasan Tugu Tani, Selasa (20/10/2026).

Fathimah menjelaskan, BEM UI menilai Tugu Tani memiliki simbol yang sesuai dengan isu-isu yang mereka suarakan dalam aksi kali ini. Sebab, tuntutan mahasiswa lebih fokus pada persoalan konkret yang dampaknya dirasakan masyarakat secara langsung.

"Di mana kita merasa bahwa Tugu Tani ini punya simbol yang paling sempurna untuk ini, karena yang kita tuntut hal-hal yang betul-betul dirasakan oleh rakyat sebenarnya secara langsung gitu," katanya.

Ia membandingkan aksi di Tugu Tani dengan demonstrasi sebelumnya di Bundaran HI. Menurutnya, isu yang diangkat saat aksi di Bundaran HI cenderung lebih luas dan bersifat makro, meskipun pada akhirnya juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

"Kalau waktu di HI mungkin itu ada beberapa hal-hal makro yang pada akhirnya mungkin akan dirasakan masyarakat juga, tapi sifatnya cukup makro gitu ya dan topiknya cukup broad. Kalau ini topiknya cukup spesifik-spesifik," ujar Fathimah.

Selain memilih lokasi berbeda, BEM UI juga mencoba mengubah pola keberangkatan peserta aksi. Kali ini, mahasiswa tidak menggunakan Kopaja sebagai kendaraan bersama untuk menuju titik demonstrasi. Fathimah mengatakan, para peserta diminta datang secara mandiri ke lokasi aksi. Cara tersebut dicoba setelah mahasiswa beberapa kali mengalami hambatan saat hendak menuju titik demonstrasi.

"Nah, ini kita juga mencoba model baru sebenarnya di aksi kali ini. Kali ini kita tidak menggunakan kopaja gitu ya. Kita kali ini setiap orang langsung OTW (on the way) aja ke sini, langsung datang masing-masing untuk kita coba nih kalau seandainya kayak gitu tuh gimana," katanya.

Ia menyebut, pada aksi sebelumnya, kendaraan yang akan digunakan mahasiswa sempat mengalami kendala. Bahkan, Kopaja yang telah disiapkan pernah membatalkan keberangkatan pada saat-saat terakhir sehingga mahasiswa harus mencari kendaraan pengganti.

"Karena kita kan sudah berkali-kali juga ya dicegat, bahkan bukan cuma dicegat aja tapi si kopaja kita juga tiba-tiba membatalkan diri terakhir kali ya kan, sampai kita harus tiba-tiba sewa," ujar Fathimah.

Melalui pola keberangkatan mandiri, BEM UI ingin mencari cara yang lebih fleksibel agar mahasiswa dapat berkumpul tanpa hambatan. Menurutnya, kendala sebelum tiba di lokasi aksi turut memengaruhi kondisi psikologis peserta.

"Jadi kita mau coba apakah kita bisa mencoba cara-cara yang lebih cair, yang lebih memudahkan kita untuk berkumpul bareng tanpa adanya hambatan, karena sebetulnya hambatan ketika kita belum mencapai titik aksi itu sangat mempengaruhi kondisi psychologic kita ketika kita ada di titik aksi gitu," katanya.

Ia berharap, mahasiswa bisa tiba di lokasi dengan kondisi yang lebih tenang dan siap mengikuti aksi.

"Tentu kita pengin ketika kita datang tuh kita masih dalam pikiran yang oke, tenang, semua orang fresh gitu kan," lanjutnya.

Fathimah menegaskan, BEM UI akan terus menggelar aksi selama belum ada perubahan yang sesuai dengan tuntutan mahasiswa. Ia menyebut, tuntutan yang disuarakan dalam sejumlah demonstrasi selama ini memiliki persoalan inti yang sama, meskipun konteks dan bentuk aksinya dapat berbeda.

"Kita tuh pasti akan selalu aksi sebenarnya. Kalau seandainya belum ada perubahan ya, seperti yang sudah dilihat dari awal banget pertama kali kita aksi, sampai hari ini kan kita selalu ada lagi, ada lagi, dan tuntutannya itu sebenarnya kalau dilihat tuh sebenarnya itu-itu lagi gitu," ujarnya.

Menurutnya, persoalan mendasar yang menjadi perhatian mahasiswa belum berubah meskipun isu yang diangkat dalam setiap aksi bisa berganti.

"Cuman mungkin dalam posisi-posisi yang lebih berbeda atau dalam kayak konsep-konsep konteks yang persoalannya sudah berganti gitu. Tapi sebenarnya inti core problem itu sebenarnya tetap sama. Dan ya, apakah itu akan berubah? Nanti ya akan berubah kalau seandainya pemerintahnya juga sudah berubah gitu," kata Fathimah.

Ia memastikan, aksi mahasiswa tidak akan berhenti hanya karena masa kepengurusan BEM UI saat ini berakhir. Jika tuntutan belum terpenuhi, mahasiswa dari kepengurusan berikutnya berpeluang melanjutkan perjuangan tersebut.

Fathimah menegaskan, tidak ada batas waktu tertentu bagi mahasiswa untuk berhenti menyuarakan tuntutan. Ia menilai, regenerasi mahasiswa memungkinkan aksi terus berlanjut selama persoalan yang dipermasalahkan belum terselesaikan.

"Jadi kita nih enggak ada batasan berakhirnya kapan gitu ya, kayak setiap tahun pasti mahasiswa ada anak barunya semua regenerasi dan sebagainya, jadi pasti akan dilanjut terus," pungkasnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

    Related Articles

    See More