Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dishub Akui Ada Petugas Manipulasi Jawaban Aduan Parkir Liar di Tendean
Dugaan manipulasi respon aduan JAKI/dok Istimewa
  • Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan mengakui adanya manipulasi dokumentasi laporan aduan parkir liar di aplikasi JAKI dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi.
  • Pihak Dishub memberikan teguran keras kepada jajaran terkait di Kecamatan Mampang Prapatan serta menegaskan bahwa lokasi tersebut memang sering menjadi titik pelanggaran parkir liar dan aktivitas PKL.
  • Dishub berkomitmen memperkuat sistem pengawasan internal agar penanganan aduan masyarakat dilakukan lebih akurat, transparan, dan bertanggung jawab sesuai aturan yang berlaku.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
23 Oktober

Fahmi membandingkan foto laporan parkir liar di Jalan Raya Tendean yang diambil pada tanggal ini dengan foto lain yang memiliki visual identik.

25 Oktober

Foto kedua yang digunakan dalam laporan JAKI menunjukkan gambar identik dengan foto 23 Oktober, menimbulkan dugaan manipulasi timestamp oleh petugas Dishub Jakarta Selatan.

10 April 2026

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan Bernad Octavianus Pasaribu menyampaikan permohonan maaf dan mengakui adanya ketidaksesuaian dokumentasi dalam penanganan aduan masyarakat melalui aplikasi JAKI.

8 Mei 2026

Warga bernama Fahmi mengungkapkan dugaan manipulasi jawaban laporan JAKI melalui unggahan di media sosial Threads dan dikonfirmasi oleh IDN Times.

kini

Dishub Jakarta Selatan berkomitmen meningkatkan pengawasan internal agar penanganan aduan masyarakat dilakukan secara akuntabel dan sesuai aturan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang yang lapor ke aplikasi tentang parkir sembarangan di jalan Tendean. Tapi petugas Dishub katanya pakai foto yang salah, jadi kelihatan seperti sudah beres padahal belum. Warga marah dan cerita di internet. Sekarang Dishub minta maaf dan kasih teguran ke petugasnya supaya nanti kerja lebih hati-hati dan jujur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, atas ketidaknyamanan yang timbul terkait beredarnya laporan di media sosial mengenai dugaan ketidaksesuaian dokumentasi dalam penanganan aduan masyarakat melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI).

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, Bernad Octavianus Pasaribu, mengatakan pihaknya mengakui adanya kekurangan dan ketidaksesuaian dalam proses administrasi pelaporan, khususnya terkait penggunaan dokumentasi foto dengan perbedaan waktu (timestamp), yang menimbulkan persepsi kurang tepat di masyarakat.

“Kami memohon maaf atas kejadian ini. Hal ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk terus meningkatkan ketelitian, integritas, dan profesionalisme dalam setiap proses penanganan dan pelaporan aduan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (10/4/2026).

1. Dishub DKI sudah beri teguran keras pada pihak yang terlibat

Ilustrasi laporan parkir liar melalui JAKI (Istimewa)

Atas kejadian tersebut, Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan telah mengambil langkah tegas, berupa pemberian teguran keras dalam bentuk Surat Peringatan kepada Kepala Satuan Pelaksana Perhubungan Kecamatan Mampang Prapatan beserta jajaran yang terlibat, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

"Selain itu, lokasi yang dilaporkan memang merupakan titik yang kerap terjadi pelanggaran parkir liar dan aktivitas pedagang kaki lima (PKL)," katanya.

2. Penanganan dengan cabut pentil

Laporan parkir liar yang selalu direspon selesai melalui JAKI (Istimewa)

Dia mengatakan penanganan terhadap permasalahan tersebut selama ini dilakukan secara rutin melalui operasi angkut jaring, operasi cabut pentil (OCP), serta penertiban terpadu bersama unsur TNI dan Polri.

"Dalam mekanisme penanganan aduan melalui JAKI, proses tindak lanjut dilakukan secara berjenjang, mulai dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga ke tingkat Satuan Pelaksana Kecamatan untuk ditindaklanjuti di lapangan," ungkapnya.

Bernad menegaskan kejadian ini menjadi pembelajaran penting dalam memperkuat sistem pengawasan dan pengendalian internal.

“Ke depannya kami berkomitmen untuk terus meningkatkan pengawasan serta memastikan penindakan di lapangan dilakukan secara bertanggung jawab sesuai aturan yang berlaku, konsisten dan berkelanjutan, sehingga setiap aduan masyarakat dapat ditangani secara cepat, tepat, dan akuntabel,” tegasnya.

3. Viral dugaan manipulasi respons dari aplikasi laporan JAKI

ilustrasi pengalihan rute lalu lintas oleh Dishub DKI Jakarta (facebook.com/Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta)

Diketahui, seorang warga Jakarta, Fahmi mengungkapkan dugaan manipulasi respons dari aplikasi laporan andalan Pemrov DKI Jakarta. Fahmi mengatakan dia rutin melaporkan penanganan parkir liar dan pedagang kaki lima (PKL) di wilayah Jakarta Selatan. Dugaan ini disampaikan melalui unggahan di media sosial Threads oleh akun @glensaimima.

“Kejadian ini bahkan sudah lama, artinya modus laporan palsu petugas sudah lama berlangsung (dalam hal ini jajaran Dishub Jaksel),” tulisnya yang sudah dikonfirmasi IDN Times, Rabu, 8 April 2026.

Ia menjelaskan, awalnya melaporkan keberadaan parkir liar dan PKL di Jalan Raya Tendean, Mampang Prapatan, tepatnya di depan gedung Trans TV. Namun, laporan tersebut ditindaklanjuti dengan jawaban template yang menyatakan kondisi sudah tertib.

Merasa tidak puas, ia kemudian rutin melaporkan kondisi tersebut melalui aplikasi JAKI selama kurang lebih dua minggu. Meski tidak setiap hari, laporan dilakukan secara berkala. Namun, ia menilai ada kejanggalan karena seluruh laporan selalu berstatus selesai.

Ia juga menyoroti adanya dugaan manipulasi waktu pengambilan gambar (timestamp). Dalam unggahannya, ia membandingkan dua foto dengan tanggal berbeda, yakni 23 dan 25 Oktober, namun dengan visual yang identik.

“Banyak yang bingung salahnya di mana, jadi mereka memanipulasi timestamp. Foto atas tanggal 25, yang bawah tanggal 23 Oktober, fotonya sama persis,” jelasnya.

Menurutnya, pola jawaban dari sistem juga terkesan berulang seperti template aplikasi customer relationship management (CRM). Namun, detail lampiran justru menunjukkan kejanggalan karena penggunaan foto yang sama untuk laporan berbeda.

Editorial Team