Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DPR Desak Prabowo Buka Data Korporasi Penerima Konsesi Terlibat Karhutla
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman. (IDN Times/Amir Faisol).
  • Alex Indra Lukman mendesak Presiden Prabowo membuka data korporasi yang diduga terkait konsesi lahan dan karhutla.

  • Karhutla berdampak pada korban jiwa, luka-luka, ISPA, kualitas udara, penerbangan, sekolah, serta lahan terbakar.

  • BNPB belum memastikan status bencana nasional, tetapi menekankan respons penanganan harus menjadi prioritas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
16 September 2026

Presiden Prabowo menyampaikan terminologi ‘Terorisme Ekologi’ dalam rapat terbatas Kabinet Merah Putih.

Kamis (15//10/2026)

Empat orang meninggal dunia saat memadamkan karhutla di TNBTS. Dua relawan lainnya mengalami luka bakar serius.

Kamis (15/10/2026)

Kristomei Sianturi menyampaikan BNPB belum memastikan penetapan karhutla sebagai bencana nasional setelah dilantik sebagai Kepala BNPB.

per 12 Oktober 2026

Pendataan Kemenkes mencatat 277.075 kasus ISPA kumulatif di 63 kabupaten/kota dari tujuh provinsi terdampak.

Jumat (16/10/2026)

Alex menyampaikan bahwa Walhi dan Greenpeace Indonesia mengungkap data 52 perusahaan yang terafiliasi dengan modal asal Malaysia dan Singapura terkait karhutla di Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Alex Indra Lukman mendesak pemerintah membuka data korporasi yang diduga terkait karhutla dan mengambil langkah nyata untuk menanganinya.
  • Who?
    Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman, Presiden Prabowo Subianto, BNPB, Walhi, dan Greenpeace Indonesia.
  • Where?
    Karhutla terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, serta sejumlah wilayah lain yang terdampak.
  • When?
    Alex menyampaikan desakan itu pada Jumat (16/10/2026), saat karhutla disebut masih terus memburuk hingga medio Oktober 2026.
  • Why?
    Karhutla berdampak pada korban jiwa, luka-luka, kasus ISPA, kualitas udara, gangguan penerbangan, penutupan sekolah, dan lahan terbakar.
  • How?
    Alex meminta pembukaan data korporasi, langkah strategis dan terukur, serta aksi nyata pemerintah tanpa menunggu penetapan status bencana nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Alex meminta Presiden Prabowo membuka data perusahaan yang diduga terkait kebakaran hutan. Kebakaran membuat orang meninggal, terluka, dan banyak orang sakit karena asap. Kebakaran juga terjadi di beberapa wilayah. BNPB belum memastikan kebakaran ini menjadi bencana nasional, tetapi penanganannya harus segera dilakukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Desakan pembukaan data korporasi dapat menjadi upaya menghadirkan klarifikasi atas informasi yang beredar mengenai karhutla. Pernyataan Alex juga menekankan pentingnya langkah strategis, terukur, dan respons cepat. Sementara itu, BNPB menyatakan penanganan harus menjadi prioritas tanpa menunggu penetapan status bencana nasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mendesak Presiden Prabowo Subianto membuka data korporasi penerima konsesi lahan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian memburuk. Menurut dia, keterbukaan data tersebut penting untuk mencegah munculnya fitnah di antara negara-negara sahabat di ASEAN.

Alex menyampaikan, Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) dan Greenpeace Indonesia telah mengungkap data puluhan korporasi diduga menerima konsesi lahan yang terkait karhutla.

"Walhi dan Greenpeace Indonesia telah mengungkap data, ada 52 perusahaan yang terafiliasi dengan modal asal Malaysia dan Singapura terkait Karhutla di Indonesia. Jangan biarkan data ini jadi bola panas di ruang publik, tanpa klarifikasi dan tindakan yang jelas dari pemerintah," kata Alex kepada wartawan, Jumat (16/10/2026).

1. DPR ingatkan pemerintah jangan sampai RI dianggap perusak paru-paru dunia

Relawan bantu padamkan api karhutla di Kalteng. (IDN Times/istimewa).

Politikus PDIP itu mengingatkan, jangan sampai kejadian karhutla yang tak kunjung padam hingga medio Oktober 2026 ini, justru mengubah pandangan dunia terhadap Indonesia. Dari status ‘Paru-paru Dunia’ jadi ‘Perusak Paru-paru.’

“Karhuta sudah tak lagi merusak kesehatan, tapi juga telah memaksa seorang orang tua kehilangan anaknya. Seorang anak kehilangan ayah. Bahkan, tanaman dan satwa langka juga musnah. Mau sampai kapan kita seperti ini,” kata dia.

Alex juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam menanggapi kejadian duka terhadap empat orang anak bangsa harus meregang nyawa, saat memadamkan Karhutla Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Kamis (15//10/2026).

Sedangkan, dua relawan lainnya mengalami luka bakar serius dan harus menjalani perawatan intensif akibat Karhutla yang melanda TNBTS yang berada di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Selain itu, karhutla juga masih terus terjadi di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Matahari tak lagi bersinar cerah di kawasan itu sejak asap Karhutla menyesakan dada.

Alex juga menyoroti persitiwa karhutla yang menyebabkan korban luka mencapai 324 orang dengan katergori luka berat dan 23 orang luka ringan. Mayoritas berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah.

Karhutla juga telah menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada 277.075 kasus ISPA kumulatif hasil pendataan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di 63 kabupaten/kota dari 7 provinsi terdampak (per 12 Oktober 2026). Dimana, 62.400 kasus (22,5 persen) menimpa anak usia 0-5 tahun (balita).

Asap karhutla juga berdampak pada kualitas udara yang buruk, gangguan penerbangan di beberapa wilayah, penutupan sekolah di daerah terdampak seperti Papua dan Timor Leste serta puluhan ribu hektare lahan terbakar.

"Kami, sebagai wakil rakyat dari PDIP, berduka yang sedalam-dalamnya pada semua korban, baik yang meninggal dunia maupun luka serta terserang ISPA," ungkap Alex.

Alex juga mendesak Presiden Prabowo segera mengambil langkah strategis dan terukur dalam penanggulangan karhutla di sejumlah wilayah.

"Kami mendesak presiden, jangan tunggu korban terus berjatuhan. Kalau negara ini tak memiliki peralatan, tentu akan banyak bangsa yang bersedia turut membantu seperti yang dilakukan Jepang beberapa waktu lalu," tutup Alex

2. DPR minta aksi nyata pemerintah tangani karhutla

Ria Norsan bantu relawan padamkan api di lahan karhutla. (IDN Times/Teri).

Alex turut menyoroti, penggunaan terminologi ‘Terorisme Ekologi’ yang disampaikan Presiden Prabowo pada rapat terbatas (ratas) Kabinet Merag Putuh para 16 September 2026 lalu.

Menurut dia, penggunaan diksi tersebut sudah tepat, tetapi pemerintah tidak boleh terjebak dengan jargon. Harus ada aksi nyata dan kongkrit dalam waktu sesingkat-singkatnya.

“Terlebih, jiran kita sudah mengolok-olok dengan ‘meme jerebu’ terkait kasus Karhutla kita ini. Mungkin, karena sudah kesal dengan kabut asap yang ikut mereka rasakan imbasnya,” kata dia.

3. BNPB belum pastikan karhutla jadi bencana nasional

Letjen TNI Kristomei Sianturi berjalan saat dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Kristomei Sianturi menjadi Kepala BNPB. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi belum memastikan apakah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan ditetapkan sebagai bencana nasional.

"Nanti kita lihat, apa sih untuk penentuan tingkatan status bencana nasional," katanya usai dilantik sebagai Kepala BNPB di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Kristomei menegaskan, cepat atau lambatnya respons terhadap bencana lebih penting daripada besarnya status yang disematkan. Menurutnya, penanganan karhutla harus menjadi prioritas tanpa harus menunggu penetapan status bencana nasional. "Jangan sampai namanya besar tapi kan responsnya nggak ada. Itu dulu yang kita, kita kerjakan," ujar dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article