Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Sebelumnya, Nanik S Deyang, saat masih menjabat Wakil Kepala BGN secara blak-blakan mengakui semua partai politik memiliki SPPG atau dapur yang mengelola MBG. Bahkan, Polri dan TNI pun turut mengelola dapur MBG. Namun, kata dia, tidak ada larangan bagi siapa pun untuk membantu pemerintah dan mendistribusikan MBG ke wilayahnya masing-masing.
"Siapa pun juga (yang mau bantu program MBG), silakan. Asal dapurnya benar. Asal ketika membangun dapur ya dapur yang benar. Jangan malah (SPPG) punya tokoh tertentu, tetapi malah makanan yang diproduksi menyebabkan keracunan," ujar Nanik ketika berbicara dalam program "Semangat Awal Tahun by IDN Times" di IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Januari 2026.
"Justru kalau pemilik dapurnya seorang tokoh, maka kualitas dapurnya harus bagus dan dijaga dong," imbuhnya.
Di forum itu, Nanik juga membenarkan putri dari Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan yang bernama Yasika Aulia memang mengelola 41 dapur MBG. Dia mengetahui informasi itu dengan menanyakan langsung kepada ayah Yasika, Yasir Machmud.
"Kalau itu kan sudah saya konfirmasi. Kalau itu sudah saya tanyakan langsung (ke Yasir Machmud) dan benar. Itu sudah saya jawab pertanyaan media," kata dia.
Nanik mengaku tidak memiliki catatan berapa banyak dapur MBG yang dikelola masing-masing partai politik. Namun, dia tahu setiap parpol mempunyai dapur MBG.
"Kalau catatan (berapa banyak dapur MBG dikelola parpol), kami tidak punya. Semua partai betul memang punya dapur (MBG). Karena ketika turun ke daerah saya biasanya tanya, 'Pak Bupati, siapa Pak yang (punya dapur) ini?' Saya tanya korwil," kata dia.
Temuan parpol memiliki dapur MBG juga diungkap Indonesia Corruption Watch (ICW) belum lama ini. Berdasarkan penelitian mereka dalam rangka evaluasi satu tahun program MBG, ditemukan 27 yayasan terafiliasi dengan parpol, 18 yayasan terkait pebisnis, 12 yayasan terkait dengan birokrasi pemerintah, dan 9 yayasan terkait kelompok relawan atau organisasi pendukung pemilihan presiden.
Selain itu, ICW juga menemukan tujuh yayasan terafiliasi dengan orang dekat pejabat, enam dengan militer, empat dengan mantan penyelenggara negara, tiga yayasan memiliki pengurus atau pendiri yang pernah tersangkut kasus korupsi, serta dua yayasan terafiliasi dengan kepolisian dan kejaksaan.
Peneliti ICW, Yassar Aulia, mengatakan, data tersebut berdasarkan pemantauan terhadap mitra penyelenggara MBG yang dilakukan secara acak pada Oktober hingga November 2025. Temuan tersebut, kata Yassar, menguatkan dugaan MBG sarat praktik politik patronase dan konflik kepentingan struktural.
"Banyak individu di balik yayasan tersebut pada akhirnya mengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terhubung dengan partai politik, tim pemenangan pemilu, militer, bahkan anggota legislatif," ujar Yassar di Jakarta Selatan pada 8 Januari 2026.