Ilustrasi Istana Kepresidenan Jakarta Pusat (IDN Times/Teatrika Putri)
Algi juga mengingatkan perlunya ruang partisipasi publik yang lebih kuat bagi mahasiswa dan generasi muda. Menurut dia, keterlibatan anak muda dalam proses kebijakan dapat membantu pemerintah memahami kebutuhan generasi yang akan menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional.
“Tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini berkaitan erat dengan ketersediaan lapangan kerja yang relevan dan berkelanjutan. Di sisi lain, tantangan psikologis-politik yang perlu diantisipasi adalah meningkatnya kecenderungan apatisme di kalangan mahasiswa. Fenomena ini muncul akibat persepsi bahwa aspirasi publik sering kali kurang terakomodasi secara optimal dalam perumusan kebijakan strategis,” ucap Algi.
Algi menyampaikan, makna kemerdekaan bagi generasi muda tidak hanya berkaitan dengan kebebasan secara politik, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh dan membangun masa depan secara adil. Akses pendidikan bermutu, kesempatan kerja, perlindungan terhadap inovasi, serta kebebasan menyampaikan gagasan menjadi bagian penting dari kemerdekaan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bagi generasi muda Indonesia saat ini, esensi kemerdekaan telah berkembang menjadi pemaknaan yang lebih praktis dan substantif: Kemerdekaan diartikan sebagai kondisi di mana setiap warga negara memiliki kepastian untuk tumbuh dan terbebas dari kecemasan akan masa depan. Merdeka berarti setiap anak bangsa tanpa terhalang oleh batasan geografis maupun latar belakang ekonomi memiliki akses dan kesempatan yang adil untuk mengembangkan potensinya," ujar dia.
"Hal ini mencakup jaminan untuk memperoleh pendidikan bermutu, kemudahan bertumbuh secara profesional tanpa bergantung pada praktik nepotisme, serta kebebasan untuk menyampaikan gagasan konstruktif demi kemajuan bangsa,” ucap dia.