Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perjuangan Deni Fikri, Anak Petani Sulbar yang Lolos Paskibraka 2026

Perjuangan Deni Fikri, Anak Petani Sulbar yang Lolos Paskibraka 2026
M. Deni Fikri, siswa SMA Negeri 1 Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) (kiri) dan Lathiesha Firenzie Bharata, siswa SMA Al-Izhar, Jakarta Selatan (kanan) (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • M. Deni Fikri dari SMA Negeri 1 Wonomulyo lolos seleksi tingkat pusat Paskibraka 2026.
  • Deni melewati seleksi sekolah, kabupaten, provinsi, hingga pusat, termasuk tes kesehatan, TWK-TIU, PBB, kesamaptaan, wawancara, dan bakat.
  • Putra petani dari Sulawesi Barat ini memakai tabungan sejak SMP untuk perjalanan ke Jakarta dan kini mengikuti karantina bersama calon dari 38 provinsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang paling menonjol dari perjalanan Deni ke Paskibraka?
Share Article

Jakarta, IDN Times - M Deni Fikri, siswa SMA Negeri 1 Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar), harus menempuh perjalanan panjang untuk mewujudkan cita-citanya menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Merdeka, Jakarta. Anak seorang petani itu bertekad mengikuti seleksi Paskibraka 2026 dari tingkat sekolah hingga pusat di Jakarta.

Perjalanan Deni dimulai dari seleksi di sekolah. Setelah memenuhi persyaratan tinggi badan, dia melanjutkan tahapan seleksi di tingkat kabupaten hingga akhirnya mendapat kesempatan mengikuti seleksi tingkat provinsi.

“Awalnya saya diseleksi di sekolah, diukur dari ketinggian. Ketinggiannya sudah pas melebihi 170 ke atas, dan kemudian dikirim ke kabupaten untuk seleksi TWK-TIU. Dan alhamdulillah saya mendapatkan nilai 90 dan 95 di TWK (tes wawancara kebangsaan) dan TIU (tes intelegensia umum). Dan kemudian bertahap kami mengikuti seleksi PBB dan alhamdulillah saya lolos. Lanjut ke Kesamaptaan dan terakhir ada wawancara,” ujar Deni saat berbincang dengan IDN Times, Rabu (12/8/2026).

  1. 1. Nilai tinggi bawa Deni terus lolos tingkatan seleksi

    M. Deni Fikri, siswa SMA Negeri 1 Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) (IDN Times/Ilman Nafi'an)
    M. Deni Fikri, siswa SMA Negeri 1 Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) (IDN Times/Ilman Nafi'an)

    Hasil seleksi tersebut membawa Deni masuk 10 besar tingkat kabupaten. Dia kemudian mengikuti seleksi di tingkat provinsi dengan tahapan yang hampir serupa hingga akhirnya masuk tiga besar dan berhak mengikuti seleksi tingkat pusat.

    “Dan alhamdulillah saya lolos di 10 besar dan saya dikirim ke provinsi untuk seleksi tingkat provinsi. Saya mengikuti yang sama, TWK dan TIU, alhamdulillah nilai saya 95-95 TWK dan TIU. Dan kemudian dilanjut dengan Kesamaptaan, wawancara, dan bakat. Dan kemudian alhamdulillah saya lolos di 3 besar untuk mengikuti seleksi tingkat pusat. Dan pada saat seleksi tingkat pusat, saya mengikuti seleksi yang namanya, yang pertama ada kesehatan,” katanya.

    Sebelum mengikuti verifikasi tingkat pusat, Deni menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Pemeriksaan tersebut menjadi salah satu tahapan yang harus dilalui sebelum calon Paskibraka dinyatakan lolos.

    “Sebelum berangkat ke verifikasi itu kami MCU (Medical Check Up) terlebih dahulu, dicek keseluruhan mulai dari atas sampai bawah. Dan kemudian kami diseleksi di tingkat pusat itu dari atas juga sampai bawah untuk kesehatan,” kata dia.

  2. 2. Deni berada di Jakarta tanpa didampingi orang tua

    M. Deni Fikri, siswa SMA Negeri 1 Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) (IDN Times/Ilman Nafi'an)
    M. Deni Fikri, siswa SMA Negeri 1 Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) (IDN Times/Ilman Nafi'an)

    Setelah menjalani rangkaian seleksi di Jakarta, Deni harus menunggu hasil tanpa didampingi kedua orang tuanya. Dia sempat berada seorang diri di Jakarta sebelum kakak sepupunya datang untuk menemaninya menyaksikan pengumuman hasil seleksi.

    “Dan terakhir sebelum saya kembali ke daerah saya sendiri di desa, saya menunggu di ibu kota untuk menunggu hasil seleksi. Saya sendiri di ibu kota, tidak ada yang menemani. Tapi dua hari kemudian, tiba-tiba kakak sepupu saya datang menjemput saya dan menonton hasil seleksi atau pengumuman,” kata dia.

    Deni akhirnya dinyatakan lolos seleksi tingkat pusat. Momen tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya karena dapat membawa nama Sulawesi Barat sekaligus mendekati cita-citanya untuk bertugas di Istana Negara.

    “Dan alhamdulillah saya lolos. Di situ saya sangat terharu dan sangat bangga karena telah bisa mewakili daerah saya untuk ke tingkat pusat. Dan kemudian di sini saya sudah berada di Istana Negara, yang di mana cita-cita saya dari kecil untuk menginjak Istana Negara sebagai petugas upacara,” kata Deni.

  3. 3. Pergi ke Jakarta bawa uang tabungan yang disimpan sejak SMP

    M. Deni Fikri, siswa SMA Negeri 1 Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) (IDN Times/Ilman Nafi'an)
    M. Deni Fikri, siswa SMA Negeri 1 Wonomulyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) (IDN Times/Ilman Nafi'an)

    Selama mempersiapkan diri menuju seleksi tingkat pusat, Deni tinggal di sebuah wisma bersama kakak sepupunya. Dia juga menggunakan uang tabungan pribadi untuk membiayai perjalanan ke Jakarta karena kedua orang tuanya belum dapat mengantarnya secara langsung.

    Deni berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai petani, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga. Sejak SMP, Deni terbiasa menyisihkan uang jajannya demi mengumpulkan tabungan untuk mengikuti seleksi Paskibraka.

    “Bapak saya pekerjaannya petani dan ibu saya ibu rumah tangga. Mulai dari SMP saya tabung Rp10 ribu lah per hari. Saya mengisi sedikit uang jajan saya, saya rela tidak membeli apa pun di sekolah demi menabung uang tersebut untuk mengikuti seleksi Paskibraka ini,” ucap dia.

    Sebanyak 76 calon Paskibraka dari 38 provinsi mengikuti rangkaian persiapan menuju pelaksanaan upacara HUT ke-81 RI. Mereka telah masuk karantina sejak 15 Juli 2026 Deni menjadi salah satu perwakilan Sulawesi Barat yang kini berada di Jakarta bersama peserta dari berbagai daerah.

    “Awalnya saya ke tingkat pusat saya hanya bilang "Ah, kalau provinsi saya sudah alhamdulillah". Tapi Allah berkata lain, Allah memberikan saya kesempatan untuk bertugas di Istana bersama dengan teman-teman 38 provinsi yang ada di Indonesia,” ujar Deni.

    Deni dan 75 orang lainnya masih disebut calon Paskibraka karena belum menjalani prosesi pengukuhan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More