Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ibas Dorong Pesantren Melek Teknologi dan Jadi Penggerak Ekonomi Umat
Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menyoroti penutupan selat Hormuz imbas perang Iran-Israel. (Dok. MPR RI).
  • Ibas mengajak pesantren memperkuat ilmu pengetahuan dan teknologi agar santri siap menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan nilai keislaman dan akhlak mulia.
  • Ia menekankan pentingnya kreativitas serta kemandirian ekonomi di pesantren untuk melahirkan generasi inovatif yang mampu menciptakan peluang kerja dan menggerakkan ekonomi umat.
  • Ibas berkomitmen mengawal kesejahteraan pesantren melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan wakil rakyat demi mempercepat kemajuan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Mas Ibas datang ke Trenggalek ketemu para kiai dan santri. Ia bilang pesantren harus pintar pakai teknologi dan tetap punya akhlak baik. Ia mau santri jadi anak yang cerdas, kreatif, dan bisa bikin usaha sendiri supaya bantu orang lain. Sekarang ia ajak semua kerja sama biar pesantren makin maju dan sejahtera.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Edhie Baskoro Yudhoyono mencerminkan semangat positif untuk memajukan pesantren sebagai pusat pembentukan generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan melek teknologi. Dorongan agar santri menjadi kreatif serta mandiri secara ekonomi menunjukkan perhatian terhadap kemandirian umat, sementara ajakan memperkuat kolaborasi menegaskan pentingnya kebersamaan dalam membangun kesejahteraan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono mengajak seluruh elemen di lembaga pendidikan pesantren untuk terus memperkuat ilmu pengetahuan dan teknologi serta membangun kemandirian umat di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.

Hal tersebut disampaikan Edhie Baskoro, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI saat bersilaturahmi dengan para kiai, pengurus, dan pimpinan pondok pesantren di Kabupaten Trenggalek dalam agenda Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bertema “Bersatu Dalam Ukhuwah, Maju Sejahtera Bangun Bangsa”.

Menurutnya, di tengah perkembangan dunia yang terus berubah cepat, pesantren memiliki peran strategis bukan hanya dalam menjaga nilai keislaman dan akhlak, tetapi juga menyiapkan generasi muda yang cerdas, adaptif, dan memahami tantangan global.

“Pesantren hari ini harus mampu melahirkan generasi yang kuat akhlaknya, luas ilmunya, memahami teknologi, kreatif, dan mampu mengikuti perkembangan dunia. Santri tidak boleh tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Ibas dalam keterangan resmi, Minggu (9/5/2026).

1. Dorong santri menjadi individu yang siap bersaing

Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menyoroti pentingnya akses pendidikan yang berkeadilan. (Dok. MPR RI).

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap isu-isu global seperti geopolitik, geoekonomi, geostrategi, hingga digitalisasi agar generasi muda Indonesia mampu bersaing dan tetap memiliki arah di tengah perubahan dunia.

“Dunia bergerak sangat cepat. Ada tantangan geopolitik, geoekonomi, perkembangan digitalisasi, hingga perubahan teknologi yang luar biasa. Karena itu, santri juga perlu memahami perkembangan dunia agar bisa menjadi generasi yang bijak, siap bersaing, tetapi tetap memiliki nilai dan jati diri,” kata dia.

Kendati demikian, Ibas mengingatkan, kemajuan ilmu dan teknologi tetap harus dibarengi dengan pendidikan karakter, adab, dan etika dalam proses belajar mengajar. Menurutnya, pesantren memiliki peran besar dalam menjaga nilai kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, dan keteladanan di lingkungan pendidikan.

“Ilmu yang tinggi harus diiringi akhlak yang baik. Pendidikan tidak hanya soal kepintaran, tetapi juga tentang adab, etika, rasa hormat, dan kasih sayang kepada sesama. Pesantren sejak dahulu menjadi tempat lahirnya generasi yang santun, rendah hati, dan membawa manfaat bagi masyarakat,” ungkap Waketum Demokrat itu.

2. Pesantren harus lahirkan santri yang inovatif

Anggota Komisi XII DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat meninjau operasional dan perkembangan proyek panas bumi yang dikelola PT Star Energy Geothermal Salak (SEGS) di Bogor, Jawa Barat. (Dok. Fraksi Partai Demokrat).

Anggota Komisi XII DPR RI itu turut menyoroti pentingnya kreativitas dan kemandirian ekonomi di lingkungan pesantren. Menurut dia, generasi muda harus didorong untuk menjadi pribadi yang dinamis, inovatif, dan mampu menciptakan peluang baru berbasis kreativitas.

“Kita ingin santri-santri kita juga tumbuh menjadi generasi yang produktif dan mandiri. Kreativitas harus terus dikembangkan supaya lahir engine-engine ekonomi baru dari pesantren dan masyarakat. Anak-anak muda harus berani berinovasi, menciptakan peluang kerja, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” kata dia.

Ibas menambahkan, Undang-Undang Pesantren telah memberikan ruang besar bagi lembaga tersebut untuk berkembang tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi umat.

“Alhamdulillah, Undang-Undang Pesantren telah mewadahi kita semua. Pesantren bisa terus berkembang menjadi pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi produktif yang bermanfaat dan berkelanjutan,” ujarnya.

3. Demokrat janji kawal kesejahteraan semua elemen pesantren

Edhie Baskoro Yudhoyono, Ketua Fraksi Partai Demokrat Periode 2024-2029 terpilih melaksanakan rapat perdana dengan seluruh Anggota FPD DPR RI 2024-2029. (Instagram @ibasyudhoyono)

Ibas juga mengajak seluruh elemen, mulai dari pimpinan pondok pesantren, santri, hingga pemerintah untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi dalam membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Meskipun berada di tingkat pusat, ia memastikan akan terus mengawal pendidikan lembaga pesantren, kesejahteraan umat, hingga penguatan sumber daya manusia.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi dan persatuan antara pondok pesantren, pemerintah, masyarakat, dan wakil rakyat. Kalau kita kompak, insyaallah kemajuan dan kesejahteraan masyarakat bisa lebih cepat terwujud,” kata dia.

Editorial Team