Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB), Adib Abdusshomad (dok. Kemenag)
Adib menjelaskan, ada sejumlah cara merawat keragaman beragama, mulai dari pendekatan dialog, pencegahan peningkatan eskalasi, serta penyelesaian secara adil menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi kerukunan tetap stabil.
Pusat Kerukunan Umat Bergama (PKUB) juga memperkuat langkah pencegahan melalui sistem yang mampu mengenali potensi persoalan sejak awal.
“Dalam rangka merawat dan meningkatkan kualitas kerukunan, PKUB terus memperkuat instrumen deteksi dan pencegahan dini. Salah satunya melalui pengembangan Early Warning System (EWS) atau Sistem Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan,” ucap Adib..
Adib menjelaskan, EWS dikembangkan untuk mengenali potensi masalah sedini mungkin. Sistem tersebut memungkinkan pemerintah mengambil tindakan preventif dan mitigatif sebelum persoalan berkembang menjadi konflik dengan dampak lebih luas.
Menurut Adib, IKUB dan EWS memiliki fungsi berbeda sekaligus dapat saling mendukung. IKUB digunakan untuk melihat kondisi kerukunan masyarakat secara umum melalui aspek toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan.
Di sisi lain, EWS berperan mengidentifikasi peristiwa maupun potensi konflik sejak tahap awal. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar koordinasi dan penanganan secara lebih cepat.
“Kita tidak mengatakan Indonesia bebas dari persoalan kerukunan. Yang kita sampaikan adalah bahwa secara agregat, hasil survei menunjukkan kemajuan dalam toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan. Adapun setiap peristiwa yang terjadi tetap menjadi perhatian dan ditangani melalui mekanisme koordinasi, pemantauan, serta deteksi dan pencegahan dini,” bebernya.