Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menteri Israel Pamer Proyek Tiang Gantungan di Penjara, Untuk Apa?

Menteri Israel Pamer Proyek Tiang Gantungan di Penjara, Untuk Apa?
ilustrasi hukuman gantung (pexels.com/Matej Bizjak)
  • Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memamerkan pembangunan kompleks tiang gantungan di sekitar penjara untuk eksekusi teroris, termasuk bilik peninjauan bagi keluarga korban.
  • Fasilitas itu terkait undang-undang yang mewajibkan pengadilan militer menjatuhkan hukuman mati untuk terorisme tertentu; ketentuan tersebut menyasar warga Palestina, bukan ekstremis Yahudi.
  • Aksi dan pernyataan Ben-Gvir memicu kecaman Prancis, Jerman, PBB, serta Amnesty International, sementara isu ini muncul di tengah kritik atas tender pemukiman E1.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, membagikan video pembangunan kompleks tiang gantungan di sekitar sebuah penjara yang lokasinya tak disebutkan pada Selasa (18/8/2026). Ia menunjuk fondasi yang tengah dikerjakan dan menyebut fasilitas tersebut dipersiapkan untuk mengeksekusi teroris, termasuk bilik peninjauan bagi keluarga korban.

Ben-Gvir menyatakan pembangunan itu menjadi bagian dari upayanya memenuhi janji untuk memperburuk kondisi teroris di penjara sekaligus mengesahkan undang-undang hukuman mati. Rekaman yang dipublikasikan media Israel memperlihatkan buldoser dan sejumlah alat berat bekerja di area yang telah dipagari.

  1. 1. Israel menerapkan hukuman mati bagi pelaku terorisme

    ilustrasi hukuman mati
    ilustrasi hukuman mati (unsplash.com/Shang Zhou)

    Pembangunan fasilitas tersebut berkaitan dengan undang-undang yang disahkan awal tahun ini, yang mengharuskan pengadilan militer menjatuhkan hukuman mati sebagai satu-satunya sanksi untuk tindak pidana terorisme, kecuali terdapat kondisi khusus yang memungkinkan hukuman seumur hidup. Aturan itu berlaku terhadap pembunuhan yang dilakukan dengan tujuan menghapus keberadaan negara Israel.

    Ketentuan tersebut menyasar warga Palestina, tetapi tak berlaku bagi ekstremis Yahudi. Ben-Gvir yang menduduki jabatan tersebut sejak 2022, dengan pengecualian jeda selama dua bulan tahun lalu, memiliki rekam jejak hukum terkait tuduhan hasutan rasisme, menghalangi petugas polisi, serta dukungan terhadap organisasi teroris terlarang pimpinan Meir Kahane.

    Rekam jejak itu kemudian membuat Ben-Gvir dikenai sanksi oleh Inggris, Prancis, dan Irlandia.

  2. 2. Ben-Gvir mempromosikan hukuman mati melalui sejumlah aksi publik

    bendera Israel
    bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)

    Jerusalem Post melaporkan sejumlah aksi publik Ben-Gvir terkait undang-undang tersebut, mulai dari mengenakan pin berbentuk tiang gantungan, merayakan pengesahan aturan dengan sampanye, hingga menerima kue ulang tahun ke-50 bergambar tiang gantungan. Dalam rekaman podcast bersama mantan sandera Rom Braslavski, Ben-Gvir juga merespons keinginan Braslavski untuk mengeksekusi teroris secara langsung dengan menyebutnya sebagai salah satu impian terbesarnya.

    Ben-Gvir turut menyerukan pembunuhan terhadap 30-40 target di Gaza setiap malam dan menyatakan fasilitas tiang gantungan di Israel akan dilengkapi bilik peninjauan seperti yang terdapat di Amerika Serikat (AS).

    Pernyataan tersebut menuai kecaman dari sejumlah pihak luar negeri. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, menilai seruan itu tak dapat diterima dan tidak manusiawi, sedangkan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengutuk keras tindakan tersebut karena dianggap melanggar hukum internasional.

    Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, menggambarkan tindakan itu sebagai sesuatu yang mengerikan, mengejutkan, menghilangkan kemanusiaan (dehumanisasi), dan berbahaya. Direktur Senior Amnesty International, Erika Guevara-Rosas, menilai undang-undang hukuman mati tersebut menghapus perlindungan mendasar terhadap perampasan nyawa secara sewenang-wenang sekaligus memperkuat sistem apartheid Israel terhadap warga Palestina.

  3. 3. Huckabee mengkritik aksi kriminal oknum Yahudi di Yudea dan Samaria

    Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee
    Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee (Gage Skidmore, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

    Duta Besar AS, Mike Huckabee, dalam wawancara dengan Kan 11, menyebut aksi kriminal yang dilakukan oknum Yahudi di Yudea dan Samaria sebagai bentuk terorisme yang merusak reputasi Israel dan bangsa Yahudi. Ia meminta Israel memperbaiki strategi komunikasinya serta menghindari tindakan yang dapat memperkuat stigma negatif dari para pengkritiknya.

    Kemunculan video pembangunan tiang gantungan tersebut juga berlangsung di tengah kritik internasional terhadap penerbitan tender baru untuk blok pemukiman E1 di luar Yerusalem. Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, memanggil kuasa usaha Israel dan menyatakan pemukiman E1 merusak solusi dua negara serta melanggar hukum internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More