Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jakpro Targetkan Pemilahan 4 Ton Sampah Bernilai Jual pada 2026
Jakpro terapkan program Pemilahan Sampah Berbasis Komunitas /( dok JakPro)
  • Jakpro menargetkan pemilahan 3.850-4.000 kilogram sampah bernilai jual melalui program berbasis komunitas hingga Desember 2026.

  • Program TJSL telah berjalan mandiri di enam RT di Sunter Agung dan Papanggo, dengan target partisipasi 80 persen kepala keluarga.

  • Sampah terpilah diproyeksikan bernilai Rp11,5-12 juta dan menghindari 5,8-6 ton CO₂e; Jakpro akan mengevaluasi perluasan program menggunakan metode SROI.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro menargetkan pemilahan sekitar 3.850-4.000 kilogram sampah bernilai jual melalui program Pemilahan Sampah Berbasis Komunitas hingga akhir Desember 2026.

VP Corporate Secretary PT Jakarta Propertindo (Perseroda), M Alfin Rinaldinsyah mengatakan program tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga mendorong perubahan dan kemandirian masyarakat.

“Kami ingin program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Jakpro tidak berhenti pada pemberian bantuan. Yang lebih penting adalah bagaimana program tersebut dapat menciptakan perubahan, membangun kemandirian masyarakat, dan memberikan manfaat yang dapat diukur,” ujar Alfin dalam keterangan, Kamis (1/9/2026).

1. Sudah berjalan di enam RT

Jakpro terapkan program Pemilahan Sampah Berbasis Komunitas /( dok JakPro)

Program TJSL tersebut mulai berjalan secara mandiri di enam RT, yang terdiri dari tiga RT di RW 006 Sunter Agung dan tiga RT di wilayah RW Papanggo.Selain itu, Jakpro menargetkan partisipasi masyarakat sekitar 80 persen dari total kepala keluarga (KK) pada Desember 2026.

Sampah yang berhasil dipilah tersebut diasumsikan memiliki nilai ekonomi sekitar Rp11,5-12 juta. Program ini juga diperkirakan berkontribusi terhadap penghindaran emisi sekitar 5.800-6.000 kilogram CO₂e atau sekitar 5,8-6 ton CO₂e.

2. Pendekatan komunitas untuk keberlanjutan

Jakpro terapkan program Pemilahan Sampah Berbasis Komunitas /( dok JakPro)

Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas penting karena keberlanjutan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat sehari-hari.

"Melalui program ini, kami mendorong prinsip ‘dari warga, oleh warga, dan untuk warga’. Ketika masyarakat sudah mampu menjalankan sistem pemilahan secara mandiri, maka program tersebut telah menciptakan fondasi perubahan yang lebih berkelanjutan," kata Alfin.

.

3. Evaluasi secara berkala

Jakpro terapkan program Pemilahan Sampah Berbasis Komunitas /( dok JakPro)

Jakpro selanjutnya melakukan evaluasi untuk melihat peluang pengembangan program ke RT dan RW lainnya. Pengembangan tersebut akan mempertimbangkan efektivitas pelaksanaan, tingkat partisipasi masyarakat, dampak lingkungan, serta manfaat ekonomi yang dihasilkan.

Program pemilahan sampah berbasis komunitas ini juga diukur menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI). Metode tersebut digunakan untuk mengidentifikasi dan mengonversi manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dihasilkan dari program ke dalam nilai yang terukur.

"Sejumlah indikator yang diukur meliputi jumlah penerima manfaat, barang yang didonasikan atau disalurkan, volume sampah yang terkumpul dan terpilah, nilai ekonomi yang dihasilkan, serta manfaat lingkungan dari pengurangan sampah," kata Alfin.

Curated For You

Editorial Team

Related Article