Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
KAI Dukung 3 Juta Rumah melalui Hunian Terintegrasi di Kawasan Stasiun
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mendukung program pembangunan nasional melalui pengembangan hunian terintegrasi di kawasan stasiun berbasis konsep Transit Oriented Development (TOD) (dok. KAI)
  • PT KAI mendukung program nasional tiga juta rumah dengan membangun hunian terintegrasi berbasis Transit Oriented Development di kawasan stasiun besar seperti Manggarai, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

  • KAI mengelola lebih dari 327 juta meter persegi lahan potensial untuk pengembangan kawasan berbasis transportasi yang menggabungkan hunian vertikal, fasilitas komersial, dan konektivitas publik secara efisien.

  • Rusun MBR Manggarai menjadi proyek percontohan TOD dengan dua blok pembangunan bertahap hingga 2028, dilengkapi akses langsung ke transportasi publik serta fasilitas pendukung aktivitas ekonomi dan sosial.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    PT Kereta Api Indonesia (Persero) meluncurkan program pengembangan hunian terintegrasi berbasis Transit Oriented Development (TOD) di kawasan stasiun sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional pembangunan tiga juta rumah.
  • Who?
    Program ini melibatkan PT Kereta Api Indonesia (Persero), KAI Properti, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, serta Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo.
  • Where?
    Pencanangan dilakukan di Stasiun Manggarai, Jakarta, serta secara simultan di Bandung (Stasiun Kiaracondong), Semarang (Jl. Dr. Kariadi/Gergaji), dan Surabaya (Lapangan Mendut).
  • When?
    Pencanangan pembangunan dilaksanakan pada Senin, 16 Maret 2026. Pembangunan tahap pertama dijadwalkan dimulai Agustus 2026 dan berlanjut hingga Februari 2028 untuk serah terima unit.
  • Why?
    Inisiatif ini bertujuan memperluas akses hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, mengurangi backlog perumahan, serta meningkatkan efisiensi mobilitas melalui integrasi antara tempat tinggal dan transportasi publik.
  • How?
    KAI memanfaatkan lahan strategis
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mendukung program pembangunan nasional melalui pengembangan hunian terintegrasi di kawasan stasiun berbasis konsep Transit Oriented Development (TOD). Pencanangan pembangunan hunian tersebut dilaksanakan pada Senin, 16 Maret 2026 di Stasiun Manggarai, Jakarta, serta secara simultan di Bandung (Stasiun Kiaracondong), Semarang (Kawasan Jl. Dr. Kariadi/Gergaji), dan Surabaya (Lapangan Mendut).

Pengembangan hunian ini merupakan bagian dari pemanfaatan aset perkeretaapian untuk menghadirkan kawasan permukiman yang terhubung langsung dengan transportasi publik, sehingga masyarakat dapat tinggal lebih dekat dengan pusat aktivitas serta memiliki akses mobilitas yang lebih efisien.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) juga merupakan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, lembaga pengelola investasi dan aset BUMN yang dibentuk untuk memperkuat pengelolaan aset negara sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional. 

1. Meningkatkan kesejahteraan lewat program 3 juta rumah

Pengembangan hunian berbasis Transit Oriented Development di kawasan stasiun. (dok. KAI)

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan bahwa program pembangunan tiga juta rumah menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional untuk memperluas akses hunian layak sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Program ini diarahkan untuk mengurangi housing backlog, meningkatkan kualitas tempat tinggal masyarakat berpenghasilan rendah, serta menggerakkan berbagai sektor industri yang terkait dengan pembangunan perumahan. 

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan lahan strategis milik BUMN, termasuk PT Kereta Api Indonesia (Persero), guna menghadirkan kawasan hunian terintegrasi berbasis TOD yang menghubungkan hunian dengan transportasi publik serta pusat aktivitas ekonomi di perkotaan.

“Program pembangunan tiga juta rumah menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan hunian berbasis Transit Oriented Development di kawasan stasiun menghadirkan keterpaduan antara tempat tinggal, transportasi publik, dan pusat kegiatan ekonomi. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi mobilitas, membuka peluang usaha, serta menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih produktif dan berkelanjutan,” ujar Agus Harimurti Yudhoyono pada keterangannya yang diterima, (16/3).

Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo menyampaikan apresiasi atas langkah KAI yang menghadirkan pengembangan hunian di kawasan stasiun secara simultan di beberapa kota besar. Menurutnya, pemanfaatan aset strategis milik negara untuk pembangunan perumahan memberikan peluang percepatan program nasional penyediaan hunian bagi masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah. Ia menilai pembangunan perumahan memiliki dampak luas bagi perekonomian karena mampu menggerakkan berbagai sektor industri, mulai dari konstruksi, bahan bangunan, hingga industri pendukung lainnya. Melalui program ini, pemerintah mendorong terciptanya akses hunian yang lebih sehat dan terjangkau sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi serta pemerataan kesejahteraan.

“Pengembangan hunian di kawasan stasiun seperti yang dilakukan KAI merupakan langkah strategis untuk mempercepat penyediaan rumah bagi masyarakat. Program perumahan memiliki dampak ekonomi yang sangat luas karena melibatkan banyak sektor industri sekaligus membuka lapangan kerja. Dengan memanfaatkan lahan-lahan strategis milik negara dan menghadirkan hunian yang berkualitas serta terjangkau, kita berharap masyarakat dapat memperoleh lingkungan tinggal yang lebih sehat, produktif, dan mendukung peningkatan kesejahteraan,” ujar Hashim Djojohadikusumo.

2. KAI kelola 327 juta meter persegi lahan potensial

Pengembangan hunian berbasis Transit Oriented Development di kawasan stasiun. (dok. KAI)

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa KAI mengelola lebih dari 327 juta meter persegi lahan perkeretaapian yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pendekatan kawasan berbasis transportasi.

“Pemanfaatan kawasan berbasis Transit Oriented Development memungkinkan pengembangan hunian, fasilitas komersial, serta konektivitas transportasi dalam satu kawasan yang terintegrasi. Di wilayah Jabodetabek saja, kawasan di sekitar stasiun memiliki potensi pembangunan sekitar 131 ribu unit hunian yang terhubung langsung dengan jaringan transportasi publik,” ujar Bobby.

Menurut Bobby, pengembangan hunian di kawasan stasiun berkontribusi pada tiga agenda utama pembangunan perkotaan, yaitu memperluas akses hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat, mendorong efisiensi pemanfaatan lahan melalui hunian vertikal di kawasan dengan mobilitas tinggi, serta memperkuat integrasi antara hunian dan transportasi publik. 

3. Rusun MBR Manggarai jadi contoh TOD

Pengembangan hunian Rusun MBR Manggarai berbasis Transit Oriented Development di kawasan stasiun. (dok. KAI)

Salah satu contoh pengembangan tersebut adalah Rusun MBR Manggarai yang berlokasi di Jl. Manggarai Utara I dan Jl. Manggarai Utara II, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Proyek ini dibangun di atas lahan sekitar 2,1 hektare (21.939 m²) yang terdiri dari Blok G seluas ±6.925 m² dan Blok F seluas ±15.014 m².

Pembangunan hunian tersebut akan dilaksanakan oleh KAI Properti, anak usaha KAI yang bergerak di bidang pengembangan properti dan pengelolaan kawasan berbasis transportasi. Bangunan direncanakan memiliki 12 lantai, dengan lantai 1 dan 2 difungsikan sebagai area retail dan kios yang mendukung aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Unit hunian tersedia dalam dua tipe, yaitu Tipe 45 dan Tipe 52. dengan harga jual menyesuaikan tipe unit dan ketentuan yang berlaku.

Pembangunan Rusun MBR Manggarai akan dilaksanakan secara bertahap. Blok G dijadwalkan mulai dibangun pada Agustus 2026, sedangkan Blok F direncanakan mulai pada Oktober 2026, dengan estimasi durasi konstruksi sekitar 10 hingga 15 bulan. Serah terima unit diperkirakan berlangsung pada Mei–Agustus 2027 untuk Blok G, serta Desember 2027 hingga Februari 2028 untuk Blok F. Kawasan hunian ini juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti akses langsung menuju Stasiun Manggarai dan Halte Transjakarta, gedung parkir terintegrasi, ruang terbuka hijau, serta area olahraga bagi penghuni.

Sebagai simpul transportasi utama di Jakarta, Stasiun Manggarai melayani mobilitas yang sangat tinggi setiap hari. Lebih dari 770 perjalanan kereta api melintas di stasiun ini, terdiri dari sekitar 638 perjalanan KRL Jabodetabek, sekitar 70 perjalanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, serta layanan kereta api jarak jauh. 

Tingginya mobilitas tersebut tercermin dari jumlah pengguna Stasiun Manggarai yang mencapai 5,14 juta gate in pada 2023, meningkat menjadi 5,57 juta pada 2024, dan berada pada 5,45 juta pada 2025. Stasiun Manggarai juga menjadi stasiun transit utama yang melayani lebih dari 200 ribu penumpang transit setiap hari. Sementara itu, jumlah pengguna Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta juga menunjukkan peningkatan, dari 1,97 juta penumpang pada 2023 menjadi 2,24 juta pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 2,34 juta penumpang pada 2025.

Data tersebut menunjukkan bahwa kawasan stasiun memiliki aktivitas mobilitas yang sangat tinggi sehingga pengembangan hunian di area tersebut menjadi solusi yang relevan untuk mendukung pola hidup urban yang lebih efisien. Melalui pengembangan kawasan berbasis stasiun ini, KAI ingin menghadirkan ekosistem kota yang lebih terintegrasi antara hunian, transportasi, dan aktivitas ekonomi, sehingga mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien serta kualitas hidup di kawasan perkotaan dapat terus meningkat. (WEB)

Editorial Team