Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein alias Om Zein (Instagram/omzein_bupatiaing)
Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejad yang diciptakan sekaligus dinyanyikan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein alias Om Zein, menjadi polemik setelah potongan videonya viral di media sosial.
Lagu tersebut awalnya diunggah melalui akun media sosial pribadi Om Zein dan disebut telah diciptakan sejak 2020 sebagai bentuk refleksi pribadi. Meski begitu, publik menilai sejumlah liriknya mengandung stereotip terhadap perempuan, bahkan dianggap misoginis dan merendahkan martabat perempuan.
Kontroversi semakin meluas setelah berbagai tokoh, aktivis perempuan, hingga anggota DPR memberikan kritik. Mereka menilai seorang kepala daerah semestinya menghadirkan narasi yang menghormati kesetaraan gender, bukan memperkuat stigma terhadap perempuan melalui karya seni. Kritik juga muncul karena lagu tersebut menggunakan bahasa Sunda sehingga dinilai dapat mencoreng citra budaya Sunda yang menjunjung penghormatan terhadap perempuan.
Di sisi lain, Om Zein memberikan klarifikasi bahwa lagu tersebut bukan ditujukan untuk merendahkan perempuan. Ia menyebut karya tersebut merupakan puisi dan lagu yang ditulis pada 2020 sebagai refleksi atas pengalaman hidupnya sendiri. Om Zein menegaskan, puisi itu dibuat saat dirinya belum menjadi Bupati Purwakarta.
"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," kata dia dalam keterangannya, Kamis (1/7/2026).
Menurut Om Zein, pesan lagu adalah ungkapan syukur karena menjadi laki-laki sekaligus bentuk introspeksi terhadap berbagai godaan dalam kehidupan, bukan untuk menggeneralisasi perempuan. Setelah polemik semakin besar, Om Zein juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung atas lirik lagunya.
"Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” tutur Om Zeni.
"Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," sambung dia.
Kontroversi kemudian berlanjut ke ranah hukum. Jabar Bantuan Hukum (JBH) melayangkan somasi terbuka kepada Om Zein. Dalam somasinya, organisasi tersebut menilai lagu itu memuat narasi yang misoginis, merendahkan derajat perempuan, serta berpotensi memperkuat diskriminasi berbasis gender. Mereka meminta Om Zein menarik lagu tersebut dari berbagai platform digital serta menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.