Kisah Dua Pemuda Suku Anak Dalam Sukses Jadi Polisi

Jakarta, IDN Times - Dua laki-laki berbadan tegap itu menyusuri hutan menuju ke lokasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Sungai Terap, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu.
Menggunakan seragam Polri, mereka sigap menjaga rombongan Menteri Sosial Tri Rismaharini yang mengunjungi lokasi Suku Anak Dalam (SAD) Jambi. Bahkan, mereka nampak hafal dengan geografis area tersebut. Rupanya, dua anggota Polri tersebut Suku Anak Dalam (SAD).
Mereka adalah Brigadir Dua (Bripda) Jeni Adi Saputra, dan Brigadir Dua (Bripda) Sarif Santoso. Keduanya mengaku tercatat sebagai anggota unit Sabhara Polda Jambi.
“Setelah menjalani pendidikan, kami ditempatkan di Sabhara Polda Jambi. Tentu kami bangga dan akan memberikan pengabdian terbaik,” kata Jeni dalam siaran tertulis, Jumat (1/4/2022).
1. Sejak kecil bercita-cita jadi polisi

Baik Jeni maupun Sarif sama-sama mengaku sejak duduk di bangku sekolah dasar, mereka bercita-cita menjadi anggota Polri atau TNI. Status sebagai putra Suku Anak Dalam tidak menjadi penghalang, justru menambah motivasi mereka agar meraih prestasi.
Jeni berasal dari SAD wilayah Pamenang, Kabupaten Merangin, dan Sarif dari warga SAD Desa Karya Bakti, Pelepat, Kabupaten Muara Bungo.
2. Sarif bisa angkat harkat dan martabat keluarga

Menurut Sarif menjadi anggota Polri bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga, dan SAD secara umum.
“Tentu ini merupakan kebanggan keluarga, tempat asal kami, serta berkontribusi bagi bangsa. Selain itu, dengan profesi sebagai anggota Polri, kami ingin menjadi contoh adik-adik saya di SAD agar terus belajar, dan meningkatkan pola pikir mereka agar semakin maju," kata Sarif.
3. Semua anak bangsa memiliki kesempatan sama untuk berkembang

Menurutnya, semua anak bangsa memiliki kesempatan sama untuk berkembang. Tidak terkecuali anak-anak SAD, juga tidak mustahil bisa maju dan meraih prestasi, sejajar dengan anak bangsa lainnya.
“Kami ingin anak-anak SAD tidak dipandang sebelah mata. Mereka harus yakin bisa mengejar ketertinggalan dari saudara di tempat lain yang sudah lebih dulu maju,” katanya.
4. Mensos Risma berharap ada kesetaraan bagi Orang Rimba di Jambi

Pandangan Jeni dan Sarif sejalan dengan kebijakan umum Kemensos yang mendorong kemajuan kualitas SDM bagi KAT, khususnya anak-anak Rimba (SAD). Di Sungai Terap, Kabupaten Batanghari, Mensos Risma membangun community center sebagai tempat pemberdayaan bagi warga SAD di daerah itu.
Community center merupakan bantuan dari dana CSR SKK Migas-PetroChina Internasional Jabung. Kemensos juga membantu penyediaan fasilitas air bersih dan MCK komunal. Kemudian dibangun pula sarana pendukung, seperti solar cell, sound system, perpustakaan dan sebagainya.
Dengan berbagai fasilitas tersebut, Kemensos menyediakan pengajaran yang layak untuk anak-anak Orang Rimba di Jambi, karena mereka hidup berpindah-pindah. Akibatnya, anak-anaknya ikut serta hidup berpindah.
Mensos berharap ke depan akan ada kesetaraan bagi Orang Rimba di Jambi dengan masyarakat lainnya, baik dari segi pendidikan, kesejahteraan sosial dan aspek-aspek lainnya.