Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Konflik Timur Tengah Berpotensi Harga Daging Sapi di Jakarta Naik
Ilustrasi penjual daging sapi. IDN Times/Holy Kartika
  • Konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai bisa memicu kenaikan harga daging sapi di Jakarta karena 95 persen kebutuhan nasional masih bergantung pada impor.
  • Seluruh transaksi impor menggunakan dolar AS, sehingga penguatan nilai dolar akibat ketegangan global berpotensi menaikkan harga daging di pasar domestik.
  • Perumda Dharma Jaya memperkuat kerja sama dengan peternak lokal di Jawa dan Lampung untuk menjaga ketersediaan stok serta menekan dampak lonjakan harga impor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, mengatakan konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga daging sapi di Indonesia, termasuk di Jakarta.

Menurut Raditya, kondisi geopolitik global sangat berpengaruh, karena sebagian besar pasokan daging sapi Indonesia masih bergantung pada impor.

“Geopolitik memang bikin pusing. Jakarta itu bukan daerah penghasil, tapi daerah konsumsi. Untuk sapi, terutama daging sapi, sekitar 95 persen kebutuhan Indonesia dipenuhi dari impor,” kata Raditya di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

1. Pembayaran sapi menggunakan dolar

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menerima sapi impor dari Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (23/2/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Raditya menjelaskan pasokan daging sapi Indonesia berasal dari berbagai negara, seperti sapi hidup dan daging dari Australia, daging dari Brasil, serta daging kerbau dari India. Seluruh transaksi impor tersebut menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

Karena itu, kata dia, ketika kondisi geopolitik memanas dan nilai dolar menguat, harga daging berpotensi ikut terdampak.

“Semua pembayarannya menggunakan US Dollar. Jadi kalau geopolitiknya gonjang-ganjing dan US Dollarnya menguat, maka harga pun juga pasti akan terpengaruh,” ujarnya.

2. Penutupan Selat Hormuz memengaruhi 25 persen pasokan minyak dunia

Peta Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en, free license)

Raditya juga menyinggung dampak konflik di Timur Tengah terhadap jalur distribusi energi global. Ia mengatakan penutupan Selat Hormuz dapat memengaruhi sekitar 25 persen pasokan minyak dunia.

Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menambah tekanan terhadap harga komoditas impor.

“Sekarang di masa perang ini katanya Selat Hormuz ditutup dan itu mempengaruhi 25 persen pasokan minyak dunia. Saat ini pun minyak sudah naik sekitar 1 dolar,” ucapnya

3. Kerja sama dengan peternak lokal

Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman/ (IDN Times Dini Suciatiningrum)

Untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga, Perumda Dharma Jaya mulai meningkatkan kerja sama dengan peternak lokal. Langkah ini dilakukan agar pasokan daging tetap tersedia bagi masyarakat Jakarta.

Raditya mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan sejumlah peternakan di berbagai daerah.

“Sebagai antisipasi, kami juga sudah bekerja sama dengan beberapa peternakan lokal di Jawa maupun di Lampung untuk memastikan stok jika harga impor terlalu tinggi,” kata dia.

Editorial Team