Industri Asuransi RI Terguncang Imbas Perang AS-Israel versus Iran

- Ketegangan perang AS-Israel versus Iran memicu kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, dan tekanan pada industri asuransi Indonesia melalui peningkatan risiko fiskal serta penurunan nilai investasi.
- Pasar reasuransi global mengeras karena konflik, membuat biaya retrosesi naik dan menambah beban perusahaan asuransi lokal yang bergantung pada reasuradur internasional.
- Produk asuransi seperti marine cargo dan travel paling terdampak akibat gangguan Selat Hormuz, dengan premi pelayaran di Teluk Persia melonjak hingga 10 kali lipat sejak eskalasi konflik.
Jakarta, IDN Times - Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah imbas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran disebut memiliki dampak terhadap industri asuransi di Indonesia. Pengamat asuransi, Irvan Rahardjo menilai defisit fiskal yang membesar akibat kemungkinan naiknya harga minyak akibat perang meningkatkan risiko sovereign dan pada gilirannya menekan peringkat kredit negara serta menurunkan nilai portofolio investasi perusahaan asuransi.
Selain naiknya harga minyak, perang AS-Israel vs Iran juga mampu berdampak terhadap semakin melemahnya kurs rupiah dan melonjaknya biaya reasuransi. Kurs rupiah saat ini sudah diperdagangkan di kisaran Rp16.750 per dolar AS, di atas asumsi APBN sebesar Rp16.500 per dolar AS.
"Jika konflik berlanjut, bisa tembus Rp17.000 atau lebih. Ini pukulan ganda bagi perusahaan asuransi untuk biaya reasuransi dan retrosesi yang dibayar dalam dolar AS, sehingga setiap pelemahan rupiah langsung menaikkan pengeluaran. Di sisi lain, inflasi impor menaikkan nilai klaim. Perbaikan kendaraan, peralatan medis, suku cadang mesin, semuanya jadi lebih mahal kalau diimpor dengan rupiah yang lebih lemah. Bank Indonesia menghadapi dilema mustahil, yakni naikkan suku bunga untuk pertahankan rupiah atau turunkan untuk dukung ekonomi yang sudah tertekan," tutur Irvan kepada IDN Times, Kamis (5/3/2026).
1. Pasar reasuransi global mengeras

Irvan pun menambahkan, pasar reasuransi global jadi ikut mengeras (hardening) akibat perang yang terjadi. Untuk risiko di atas kapasitasnya, reasuradur lokal bergantung pada retrosesi dari raksasa global seperti Lloyd's, Swiss Re, Munich Re, dan lain-lain.
"Pasar reasuransi global yang tadinya melunak 5-15 persen di awal 2026 kini berbalik arah. Beberapa reasuransi besar sudah memasukkan klausul eskalasi yang memungkinkan mereka membatalkan coverage jika konflik memburuk," ujar Irvan.
2. Produk asuransi paling rentan terdampak konflik AS-Israel vs Iran

Selain itu, Irvan turut menjelaskan bahwa Asuransi Marine Cargo hingga Travel jadi produk paling terdampak akibat perang AS-Israel Iran. Hal itu tidak lepas dari gangguan rantai pasok akibat ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran.
"Gangguan di jalur itu akan berdampak langsung pada biaya logistik dan asuransi. Gangguan apapun akan mendorong kenaikan biaya pengiriman dan asuransi, menunda kargo, serta memicu lonjakan harga minyak global secara langsung," kata Irvan.
3. Premi pelayaran di Teluk Persia alami peningkatan sejak 2025

Lebih lanjut Irvan mengungkapkan, premi untuk pelayaran di Teluk Persia telah mengalami kenaikan dua kali lipat sejak konflik Israel-Iran pada Juni 2025. Adapun saat ini dengan eskalasi yang jauh lebih besar, kenaikannya bisa mencapai 5-10 kali lipat. Untuk satu kapal bernilai 50 juta dolar AS, biaya tambahan per pelayaran sekarang mencapai 350 ribu dolar AS hingga 500 ribu dolar AS (sekitar Rp5,8-Rp8,4 miliar).
Irvan mengatakan, dalam hitungan jam setelah serangan, sembilan kapal LNG langsung mengubah haluan menjauhi Hormuz dan perusahaan pelayaran besar menolak kontrak baru.
"Gangguan di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik berdampak langsung pada klaim dan premi asuransi kargo (marine cargo) serta lambung kapal (marine hull) milik perusahaan Indonesia, memicu lonjakan biaya logistik. Risiko perang yang meningkat menyebabkan premi war risk naik, menaikkan biaya ekspor-impor Indonesia ke Timur Tengah, Eropa, dan Afrika," tutur Irvan.


















