Dua Peacekeeper RI yang Gugur Terima Medali Kehormatan Tertinggi PBB

- PBB menganugerahkan Dag Hammarskjöld Medal kepada dua peacekeeper Indonesia yang gugur, Kopral Dua Anumerta Eko Prambudi Santoso dan Briptu Anumerta Sri Widodo, sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas pengorbanan mereka.
- Upacara penyerahan medali dilakukan oleh Sekjen PBB Antonio Guterres kepada Dubes RI Umar Hadi di Markas Besar PBB, bertepatan dengan peringatan International Day of United Nations Peacekeepers 2026.
- Sebagai kontributor utama pasukan perdamaian, Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat keselamatan personel misi PBB di tengah meningkatnya tantangan global dan risiko di wilayah konflik dunia.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganugerahkan Dag Hammarskjöld Medal kepada dua personel penjaga perdamaian Indonesia yang gugur saat menjalankan tugas dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia selama periode 2024–2025.
Kedua penerima penghargaan tersebut adalah Kopral Dua Anumerta Eko Prambudi Santoso dari Satgas Kizi TNI Konga XX-U pada Misi PBB di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO) dan Briptu Anumerta Sri Widodo dari Satgas Formed Police Unit (FPU) Polri pada Misi PBB di Republik Afrika Tengah (MINUSCA).
Penghargaan diserahkan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres kepada Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi, dalam Dag Hammarskjöld Medal Ceremony yang berlangsung di Markas Besar PBB, New York, pada Jumat (5/6/2026).
Penganugerahan tersebut menjadi bagian dari peringatan International Day of United Nations Peacekeepers 2026, yang setiap tahun digunakan PBB untuk mengenang para personel penjaga perdamaian yang gugur saat menjalankan mandat organisasi.
1. Penghormatan tertinggi bagi penjaga perdamaian yang gugur

Dag Hammarskjöld Medal merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan PBB kepada personel penjaga perdamaian yang kehilangan nyawa saat menjalankan tugas di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada 68 peacekeepers dari 33 negara anggota PBB yang gugur dalam pelaksanaan tugas selama periode 2024–2025.
PBB menyebut penghargaan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi, pengabdian, dan pengorbanan para penjaga perdamaian yang bertugas di berbagai wilayah konflik dunia. Mereka menjalankan berbagai mandat penting, mulai dari perlindungan warga sipil, mendukung proses politik, hingga membantu penyaluran bantuan kemanusiaan di daerah yang dilanda konflik.
2. Indonesia kehilangan personel di Kongo dan Afrika Tengah

Kopral Dua Anumerta Eko Prambudi Santoso bertugas dalam Satgas Kizi TNI Konga XX-U yang menjadi bagian dari Misi Stabilisasi PBB di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO). Sementara Briptu Anumerta Sri Widodo menjalankan tugas sebagai anggota Satgas Formed Police Unit (FPU) Polri dalam Misi Multidimensional Terpadu PBB di Republik Afrika Tengah (MINUSCA).
Keduanya gugur saat menjalankan mandat pemeliharaan perdamaian yang diemban PBB di wilayah penugasan masing-masing.
Dikutip dari keterangan PTRI New York, yang diterima IDN Times, Sabtu (6/6/2026), melalui penghargaan tersebut, PBB memberikan pengakuan atas jasa dan pengorbanan mereka dalam mendukung upaya menciptakan stabilitas dan perdamaian internasional.
3. Indonesia dorong penguatan keamanan personel misi perdamaian

PBB mencatat lebih dari 4.500 peacekeepers telah gugur sejak operasi pemeliharaan perdamaian pertama kali dijalankan hampir 80 tahun lalu. Jumlah tersebut juga mencakup empat personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) asal Indonesia yang gugur saat menjalankan tugas di Lebanon pada Maret hingga April 2026.
Saat ini, lebih dari 50.000 personel penjaga perdamaian PBB bertugas di berbagai wilayah konflik di dunia. Mereka menjalankan misi untuk melindungi warga sipil, menjaga stabilitas, dan mendukung proses perdamaian.
Sebagai salah satu kontributor utama pasukan penjaga perdamaian PBB, Indonesia terus mendorong penguatan aspek keselamatan dan keamanan bagi seluruh personel yang bertugas di lapangan. Dorongan tersebut dinilai semakin penting di tengah dinamika global yang berkembang dan meningkatnya tantangan yang dihadapi operasi pemeliharaan perdamaian di berbagai kawasan konflik dunia.


















