Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kuliah Umum Jusuf Kalla di AS: Singgung Dampak Demokrasi Liberal
Potret Jusuf Kalla di Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, pada Kamis (15/10/2026). (Dok. Istimewa).
  • Jusuf Kalla menilai demokrasi liberal pascareformasi belum selalu menghasilkan pemimpin dengan pengalaman dan kapasitas memadai.

  • JK mendorong penghidupan kembali GBHN untuk menjaga kesinambungan perencanaan pembangunan jangka panjang dan menengah.

  • Ia juga mengaitkan krisis ekonomi 1997 dengan liberalisasi perbankan yang berlangsung tanpa pengawasan ketat pemerintah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1997

Krisis ekonomi terjadi dan berujung pada lengsernya Presiden Soeharto. Menurut Jusuf Kalla, krisis tersebut diperparah kebijakan liberalisasi perbankan tanpa pengawasan ketat pemerintah.

15/10/2026

Jusuf Kalla memberikan paparan mengenai arah politik Indonesia di Northern Illinois University, Amerika Serikat. Ia menyoroti demokrasi liberal dan mendorong penghidupan kembali GBHN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Jusuf Kalla menyoroti kelemahan demokrasi liberal pascareformasi, mendorong penghidupan kembali GBHN, dan menyinggung liberalisasi perbankan yang berkaitan dengan krisis ekonomi 1997.
  • Who?
    Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, menyampaikan paparan tersebut di hadapan sivitas akademika Northern Illinois University.
  • Where?
    Paparan disampaikan di Northern Illinois University, Amerika Serikat.
  • When?
    Paparan berlangsung pada Kamis (15/10/2026). Krisis ekonomi yang dibahas terjadi pada 1997.
  • Why?
    JK menilai popularitas dan kemampuan finansial lebih sering menentukan pemilihan dibandingkan kompetensi, sementara ketiadaan haluan negara membuat pembangunan kerap berubah.
  • How?
    JK menyampaikan pandangannya dalam materi bertajuk Indonesia at a Crossroads serta menegaskan pemilihan langsung tetap menjadi hak rakyat dalam demokrasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jusuf Kalla berbicara di kampus Amerika tentang Indonesia. Ia bilang pemilihan pemimpin kadang lebih melihat orang terkenal dan punya banyak uang. JK ingin GBHN dihidupkan lagi supaya rencana negara tidak sering berubah. Ia juga bercerita tentang krisis ekonomi 1997 dan bank yang terlalu bebas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Paparan Jusuf Kalla membuka ruang pembahasan mengenai kualitas kepemimpinan, kesinambungan pembangunan, dan pengawasan kebijakan ekonomi. Gagasannya tentang GBHN tetap disertai penegasan bahwa pemilihan langsung merupakan hak rakyat. Dengan begitu, perencanaan jangka panjang dibicarakan bersamaan dengan keberlanjutan prinsip demokrasi yang disebutnya penting bagi Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, memberikan paparan tajam mengenai arah politik Indonesia di hadapan sivitas akademika Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, pada Kamis (15/10/2026). Dia menyoroti sistem demokrasi liberal di Indonesia pasca-Reformasi yang dinilai memiliki banyak kelemahan.

Pria yang karib disapa JK menyebut sistem pemilihan saat ini lebih sering mengutamakan popularitas dan kekuatan uang ketimbang kompetensi sang pemimpin. Oleh karena itu, dia kembali menggaungkan wacana pentingnya menghidupkan kembali Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai penunjuk arah pembangunan bangsa.

1. Demokrasi liberal tak sejalan dengan kualitas pemimpin

Potret Jusuf Kalla di Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, pada Kamis (15/10/2026). (Dok. Istimewa).

Dalam materinya yang bertajuk Indonesia at a Crossroads, JK membedah dampak dari penerapan ekonomi dan politik liberal. Mantan wakil Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko "Jokowi" Widodo itu mengakui demokrasi liberal pascareformasi memang sukses membuka akses kompetisi politik menjadi lebih luas dan inklusif.

Namun, ada yang disayangkan oleh JK hingga saat ini. Sebab, kebebasan tersebut tidak selalu diimbangi dengan lahirnya pemimpin yang memiliki pengalaman dan kapasitas memadai.

"Dalam proses pemilihan, popularitas dan kemampuan finansial cenderung lebih menentukan dibandingkan kompetensi dan kualitas kepemimpinan," kata JK dalam keterangan resminya.

2. Wacana hidupkan GBHN demi kesinambungan negara

Potret Jusuf Kalla di Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, pada Kamis (15/10/2026). (Dok. Istimewa).

Untuk mengatasi arah pembangunan yang kerap tidak menentu, JK menyuarakan urgensi untuk menghidupkan kembali GBHN. Wacana ini bukan bertujuan untuk mengembalikan Indonesia ke era demokrasi terpimpin, melainkan murni demi kepentingan perencanaan nasional.

Saat ini, ketiadaan haluan negara membuat program pembangunan sering terputus atau berubah total setiap kali terjadi pergantian presiden. Akibatnya, pencapaian dan tujuan jangka panjang dari setiap periode kepemimpinan menjadi tidak terukur secara berkelanjutan.

"GBHN itu penting agar negara bisa bikin perencanaan jangka panjang atau jangka menengah. Tapi prinsip pokoknya tetap pemilihan langsung, itu hak rakyat dalam demokrasi," ujar tokoh asal Sulawesi Selatan tersebut.

3. Singgung dosa masa lalu liberalisasi perbankan

Potret Jusuf Kalla di Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, pada Kamis (15/10/2026). (Dok. Istimewa).

Selain soal politik, JK juga menyinggung sejarah kelam krisis ekonomi 1997 yang berujung pada lengsernya Presiden Soeharto. Menurutnya, krisis tersebut diperparah oleh kebijakan liberalisasi perbankan yang serba bebas tanpa pengawasan ketat dari pemerintah. Bayangkan, konglomerat diberikan kemudahan ekstrem untuk mendirikan bank hanya dengan modal Rp2,5 miliar saja.

"Semua deregulasi, bank terbuka, lalu berdirilah 250 bank, pemerintah bangga pada waktu itu (padahal memicu krisis)," ujar JK di hadapan para akademisi AS.

Curated For You

Editorial Team

Related Article