Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Sabtu malam, 2 Mei 2026. (Instagram/@presidenrepublikindonesia)
Selain itu, Azis menyoroti struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada siklus komoditas. Ia menilai kekayaan sumber daya alam seperti batu bara, nikel, sawit, tembaga, bauksit, panas bumi, dan komoditas strategis lainnya harus diubah menjadi nilai tambah yang lebih besar.
“Hilirisasi bukan sekadar agenda industri. Hilirisasi adalah proses mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi. Industrialisasi bukan sekadar membangun pabrik, tetapi menciptakan pekerjaan produktif, inovasi, dan daya saing,” katanya.
Azis juga menilai tata ruang, reforma agraria, penyelesaian konflik pertanahan, dan pengelolaan kawasan hutan harus dipandang sebagai bagian dari agenda produktivitas nasional.
Menurutnya, tanah bukan sekadar bidang yang dipetakan dan disertifikasi, melainkan ruang produksi, ruang pangan, ruang investasi, dan ruang industri. Demikian pula hutan, yang harus dikelola secara berkelanjutan sebagai modal strategis bangsa.
“Tidak ada ketahanan pangan tanpa kepastian ruang produksi. Tidak ada investasi tanpa kepastian hak atas tanah. Tidak ada industrialisasi tanpa tata ruang yang jelas. Karena itu, agenda agraria, tata ruang, dan kehutanan adalah agenda produktivitas nasional,” ujarnya.
Azis juga mengingatkan, Indonesia adalah negara maritim. Lebih dari dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan yang menyimpan potensi besar dalam perikanan, energi, perdagangan, logistik, industri maritim, ekonomi biru, dan kekayaan hayati.
“Laut tidak boleh dipandang sebagai pemisah antarwilayah. Bagi bangsa kepulauan, laut adalah penghubung terbesar Indonesia. Laut bukan halaman belakang bangsa, melainkan halaman depan masa depan Indonesia,” katanya.
Di sisi lain, Azis menegaskan, korupsi masih menjadi hambatan serius bagi produktivitas nasional. Ia menyebut korupsi bukan hanya persoalan hukum dan moral, tetapi juga persoalan ekonomi.
“Korupsi meningkatkan biaya usaha, memperlambat investasi, menurunkan kualitas layanan publik, dan mengurangi efektivitas pembangunan. Kerugian terbesar korupsi bukan hanya uang yang hilang, tetapi kesempatan yang gagal tercipta,” tegasnya.
Azis menilai tahun 2027 memiliki arti strategis karena dapat menjadi momentum untuk menggeser orientasi pembangunan nasional dari sekadar menjaga stabilitas menuju peningkatan produktivitas.
Ia mengatakan, pemerintah pusat, kementerian, lembaga, BUMN, dan pemerintah daerah harus bergerak dalam satu orkestrasi pembangunan yang sama.
“Pemerintah pusat punya visi, kementerian punya program, lembaga punya target, BUMN punya agenda, dan daerah punya prioritas. Namun semuanya harus terhubung dalam satu tujuan besar, yaitu meningkatkan kemampuan produktif bangsa Indonesia,” ujarnya.
Azis mengibaratkan pembangunan nasional seperti perahu pacu jalur. Menurutnya, sekuat apa pun para pendayung, perahu tidak akan melaju cepat apabila kayuhan tidak bergerak ke arah yang sama.
Karena itu, ia mendorong lahirnya disiplin baru dalam pembangunan nasional. Setiap kementerian dan lembaga harus mampu menjelaskan kontribusinya terhadap produktivitas nasional. Setiap BUMN harus menunjukkan nilai tambah strategisnya. Setiap pemerintah daerah harus mampu menjelaskan keunggulan ekonomi yang sedang dibangun.
“APBN dan APBD tidak boleh lagi dipandang sekadar daftar belanja tahunan. Keduanya harus menjadi instrumen penciptaan kemampuan nasional,” katanya.
Azis menegaskan, uang negara pada dasarnya adalah amanah. Sebagian berasal dari pajak rakyat hari ini, sebagian dari sumber daya alam yang diwariskan generasi sebelumnya, dan sebagian lagi dari utang yang akan dibayar generasi mendatang. Setiap rupiah dalam APBN dan APBD membawa tanggung jawab lintas generasi. Menurutnya, anggaran bukan sekadar angka, melainkan kesempatan, waktu, dan masa depan.
Menurut Azis, keberhasilan pembangunan harus diukur dari meningkatnya produktivitas, kemandirian daerah, nilai tambah ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan semakin luasnya kesempatan hidup rakyat.
“Jika kesadaran itu hidup dalam penyusunan APBN dan APBD, maka 2027 akan dikenang bukan karena besarnya anggaran, tetapi sebagai titik balik ketika Indonesia mulai berpindah dari negara fiskal menuju negara produktif,” kata Azis.
Ia menutup dengan menegaskan, seluruh sumber daya bangsa, mulai dari APBN, APBD, tanah, hutan, laut, birokrasi, teknologi, hingga kekayaan alam, hanyalah alat. Tujuan akhirnya adalah membangun manusia Indonesia yang semakin produktif, berdaya, sejahtera, dan mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.
“Ukuran tertinggi keberhasilan sebuah negara bukan besarnya kekayaan yang dimiliki, melainkan kemampuannya mengubah kekayaan itu menjadi peradaban,” pungkas Azis.