Bogor, IDN Times – Polda Jawa Barat memastikan kelancaran arus lalu lintas selama masa libur panjang di jalur Wisata Puncak Bogor.
Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Setiawan menekankan pentingnya rekayasa lalu lintas yang terukur dan kenyamanan bagi para wisatawan.
Menurut dia, Polda Jabar memastikan penerapan sistem satu arah (one way) di jalur Puncak tidak dilakukan secara sembarangan. Petugas menggunakan parameter jumlah kendaraan yang keluar dari Pintu Tol Ciawi sebagai indikator utama. Selain itu, optimalisasi rest area Gunung Mas kini difungsikan sebagai shelter penampung kendaraan untuk mencegah penumpukan di badan jalan.
"Kita punya mekanisme-mekanisme yang valid. Di mana kita ada pengukuran jumlah kendaraan yang telah keluar pintu tol Ciawi. Ini menjadi suatu pertimbangan kita," ujar Rudi Setiawan saat melakukan peninjauan langsung ke Pos Terpadu Simpang Gadog, Bogor pada Senin (23/03/2026).
Libur Lebaran Belum Usai, Ini Strategi Polda Jabar Urai Macet Puncak

Intinya sih...
Skema paket bundling dan penggunaan dua warna tote bagKPPG BGN Bogor menerapkan sistem Paket Bundling dan Take-Away selama libur sekolah dan Lebaran. Penerima manfaat wajib membawa kembali kantong yang diterima sehari sebelumnya sebagai syarat mendapatkan paket berikutnya.
Standar menu Ramadan, bebas menu pedas dan cepat basiBGN menginstruksikan SPPG untuk menyajikan menu yang aman secara ketahanan pangan. Rekomendasi menu meliputi telur asin, abon, dendeng kering, buah-buahan, serta kurma.
Operasional 100 SPPG untuk 250 Ribu penerima di Kota BogorHingga saat ini, sudah ada 100 SPPG yang telah
1. "Pak Ogah" dan joki jadi relawan lalu lintas (Supertas)
Rudi mengatakan, langkah unik diambil Polres Bogor dengan merangkul warga lokal yang biasa menjadi joki atau "Pak Ogah." Alih-alih ditertibkan secara kaku, mereka kini diberdayakan menjadi mitra polisi (Supertas) untuk membantu mengarahkan pengendara ke jalur yang benar tanpa memungut bayaran liar yang memicu kemacetan.
"Kita sudah memberdayakan mereka, menjadikan mereka menjadi Supertas. Mereka jadi membantu polisi untuk mengarahkan jalur yang benar, jadi tidak berpihak lagi kepada orang-orang yang memberikan uang," beber Kapolda.
2. Kompensasi angkot dan andong di titik trouble spot
Dalam mengatasi kemacetan di jalur arteri seperti Sukabumi dan Cibadak, lanjut Rudi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan kompensasi kepada pengemudi angkutan umum agar tidak beroperasi sementara. Hal ini dilakukan untuk sterilisasi jalur dari hambatan samping di titik-titik rawan macet.
"Di beberapa trouble spot, itu yang ada angkot, becak, dan andong dapat kompensasi dari Bapak Gubernur Jawa Barat. Untuk sementara waktu tidak beroperasi supaya arus lalu lintas tidak macet," kata Rudi.
3. Prediksi dua gelombang arus balik
Rudi menyebut berdasarkan data volume kendaraan yang mencapai angka 83 ribu unit di wilayah hukum Polda Jabar, pihak kepolisian telah memetakan potensi puncak arus balik. Masyarakat diimbau waspada terhadap peningkatan volume kendaraan yang diprediksi terjadi dalam dua gelombang.
"Diperkirakan arus balik pertama tanggal 24-25 Maret, arus kedua nanti mungkin tanggal 27-28," tutupnya.