Membawa Titipan Suara Korban Karhutla ke Jakarta

Kabut asap selama empat bulan mengganggu pendidikan, perekonomian, dan kesehatan warga Kalimantan Selatan.
Satria menilai kebakaran masih terjadi setiap hari, sementara perubahan dari penanganan pemerintah belum dirasakan masyarakat.
Mahasiswa ULM datang ke Jakarta untuk menyampaikan keresahan warga dalam aksi bersama sejumlah organisasi mahasiswa.
Jakarta, IDN Times - Empat bulan sudah kabut asap menyelimuti kehidupan warga di Kalimantan Selatan. Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pun turut terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu. Mereka tetap harus belajar di kampus, menerjang asap setiap hari.
Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa ULM, Satria Bima Agatha, pun membawa keresahan masyarakat Kalsel ke Jakarta, untuk disampaikan kepada pemerintah dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Mereka berharap penderitaan yang dialami masyarakat Kalimantan segera berakhir.
"Untuk progress yang seharusnya membaik, tapi sampai per hari ini malah lebih memburuk," kata Satria saat ditemui di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
1. Empat bulan hidup di tengah kabut asap karhutla

Plt Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan, Satria Bima Agatha. (IDN Times/Lia Hutasoit) Bagi warga Kalimantan Selatan, karhutla bukan sekadar persoalan kebakaran hutan dan lahan. Kabut asap yang menyelimuti wilayah mereka turut mengganggu aktivitas pendidikan hingga perekonomian.
Di tengah situasi tersebut, mahasiswa tetap harus belajar, berangkat ke kampus, meski udara yang mereka hirup dipenuhi asap karhutla.
"Bagaimana pada akhirnya mau menempuh pendidikan pun di sana juga harus menerjang asap," ujar Satria, sambil menahan terik matahari.
Satria menyebut masyarakat di Kalimantan Selatan sudah menderita akibat kabut asap karhutla selama empat bulan ini. Bahkan, kabut asap sudah memakan korban jiwa. Ada seorang guru dan balita yang meninggal dunia, serta ribuan warga harus mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
2. Kebakaran masih terjadi, perubahan belum dirasakan

Ilustrasi kabut asap karhutla. (Dok. AHM) Di tengah kondisi yang tak kunjung membaik, Satria menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan sejumlah menteri ke Kalimantan Selatan, belum membawa perubahan yang dirasakan warga. Setali tiga uang, upaya pemerintah daerah pun belum membuahkan hasil.
"Dan bagaimana respons dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, masih kurang becus menangani hal-hal ini," ujarnya.
Menurut Satria, kebakaran masih terjadi setiap hari, pagi maupun malam. Sementara, aktivitas perkuliahan di kampusnya tetap berjalan. Asap dan ancaman kesehatan pun menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi warga di tengah aktivitas sehari-hari.
3. Pergi ke Jakarta demi menyampaikan suara warga

Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Bersama seorang rekan mahasiswa lain dari BEM ULM, Satria rela menempuh perjalanan jauh melalui jalur udara dan darat, demi menyampaikan suara keluhan masyarakat Kalimantan Selatan ke Jakarta.
Satria dan rekannya datang untuk mengikuti aksi Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR), yang melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa, sekaligus membawa keresahan masyarakat yang belum terselesaikan di daerah mereka.
"Bagaimana untuk pesan dari kawan-kawan di daerah, itu adalah kami berusaha di sini untuk menyuarakan atas keresahan, dan bagaimana hal yang dirasakan oleh masyarakat, terlebih di Kalimantan, atas permasalahan yang masih belum tuntas sampai per hari ini," kata Satria mengenakan almamater berwarna kuning itu.
Sebagaimana diketahui, aksi Satria bersama mahasiswa lain yang tergabung dalam SADAR, dijadwalkan berlanjut dari Tugu Proklamasi ke Tugu Tani pada Selasa sore.
Bagi Satria, kedatangan mereka menjadi kesempatan untuk menyampaikan persoalan karhutla yang dirasakan masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya, di momen dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Semoga pemerintah mendengar aspirasi Satria dan mahasiswa lain!






















