Pada 1958, pemerintah Kota Singapura membutuhkan sebuah lagu untuk memperingati pembukaan kembali Victoria Theatre yang telah direnovasi. Zubir Said mendapat kepercayaan untuk menciptakannya.
Awalnya, Majulah Singapura bukan dibuat sebagai lagu kebangsaan. Lagu tersebut merupakan lagu resmi untuk Singapore City Council. Judulnya diambil dari semboyan "Majulah Singapura" yang digunakan dalam konteks acara pembukaan gedung tersebut.
Lagu itu pertama kali diperdengarkan kepada publik pada 6 September 1958 dalam konser untuk menandai pembukaan kembali Victoria Theatre. Sambutannya kemudian membuka jalan bagi karya tersebut untuk memiliki fungsi yang jauh lebih besar.
Ketika Singapura memperoleh pemerintahan sendiri pada 1959, pemerintah mulai mencari lagu kebangsaan. Dr Toh Chin Chye, yang memimpin proses tersebut, tertarik pada komposisi Zubir. Namun, ada sejumlah penyesuaian yang diminta. Sebuah lagu kebangsaan harus singkat, mudah diingat, mudah dinyanyikan, serta dapat diterima oleh masyarakat Singapura yang multietnis.
Zubir kemudian memperpendek lirik dan menyesuaikan melodinya. Bahasa Melayu dipertahankan karena dianggap memiliki kedudukan historis sebagai bahasa pribumi kawasan tersebut.
Dalam wawancara dengan National Archives of Singapore pada 1984, Zubir menjelaskan, salah satu tantangan terbesar adalah membuat lirik yang sederhana dan dapat dipahami semua kelompok masyarakat. Ia bahkan berkonsultasi dengan ahli bahasa Melayu agar penggunaan bahasanya tepat, tetapi tidak terlalu rumit.
Pada 3 Desember 1959, Majulah Singapura secara resmi diperkenalkan sebagai lagu kebangsaan Singapura. Momentum itu bertepatan dengan pelantikan Yusof Ishak sebagai Yang di-Pertuan Negara, kepala negara pertama Singapura yang lahir di Malaya.
Ada satu fakta yang membuat kisah Zubir semakin menarik. Ketika Majulah Singapura ditetapkan sebagai lagu kebangsaan, Zubir Said belum menjadi warga negara Singapura.
Ia baru memperoleh kewarganegaraan Singapura pada 1967, setelah Singapura merdeka dari Malaysia pada 1965. Artinya, Zubir menciptakan lagu yang kemudian menjadi simbol nasional sebuah negara ketika status hukumnya masih bukan warga negara negara tersebut.
Hal itu tidak berarti Zubir merasa asing terhadap Singapura. Justru sebaliknya. Dalam sebuah wawancara, ia menekankan gagasan bahwa seseorang seharusnya memberikan kebaikan dan pengabdiannya kepada tempat di mana ia hidup. Ia juga pernah menyampaikan gagasan seseorang bisa saja secara formal berstatus warga negara tetapi tidak memberikan apa-apa kepada negaranya; sementara orang yang belum menjadi warga negara pun dapat memberikan seluruh kemampuannya kepada tempat yang dianggap sebagai rumah.
Bahkan, Zubir tidak meminta bayaran ketika menciptakan Majulah Singapura. National Heritage Board mencatat, ia tidak menerima pembayaran untuk karya tersebut. Baginya, kesempatan berkontribusi kepada masyarakat sudah merupakan kehormatan. Pada 1963, pemerintah Singapura memberinya Sijil Kemuliaan atau Certificate of Honour sebagai penghargaan atas kontribusinya.
Menariknya lagi, penerimaan Majulah Singapura sebagai lagu kebangsaan juga menjadi momentum emosional bagi Zubir secara pribadi. Ayahnya, yang selama bertahun-tahun berselisih dengannya karena pilihan hidupnya di dunia musik, datang dari Indonesia untuk menyaksikan momen tersebut. Saat itu usia sang ayah telah mencapai 101 tahun. Pertemuan tersebut menjadi salah satu simbol rekonsiliasi dalam kehidupan Zubir.
Setelah pensiun dari Cathay-Keris pada 1964, Zubir tidak benar-benar meninggalkan dunia musik. Ia menghabiskan banyak waktu mengajar musik kepada generasi muda di rumahnya di Joo Chiat Place. Rumah tersebut menjadi tempat bagi anak-anak muda untuk belajar musik dan berdiskusi dengannya. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja.
Sepanjang hidupnya, Zubir diperkirakan menciptakan lebih dari 1.500 lagu untuk film, radio, panggung, lagu populer, hingga karya-karya patriotik. Sebagian karyanya bahkan tidak terdokumentasikan secara lengkap.
Pada 1987, Zubir Said meninggal dunia di Singapura dalam usia 80 tahun. Ia meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah lagu kebangsaan. Karyanya ikut membentuk musik Melayu modern di Singapura dan kawasan sekitarnya.
Pemerintah Singapura kemudian berupaya melacak dan menyelamatkan berbagai partitur serta lirik karya Zubir pada dekade 1980-an. Pada 2000-an, keluarga Zubir juga bekerja sama dengan Universal Music Publishing Group untuk mengelola repertoarnya sehingga karya-karyanya dapat terus direkam dan dinikmati generasi baru. Putrinya, Rohana Zubir, kemudian menulis buku Zubir Said: The Composer of Majulah Singapura yang diterbitkan ISEAS pada 2012.