Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Zubir Said, Pencipta Lagu Kebangsaan Singapura Asal Bukittinggi

Mengenal Zubir Said, Pencipta Lagu Kebangsaan Singapura Asal Bukittinggi
bendera Singapura (unsplash.com/Justin Lim)
  • Zubir Said lahir di Bukittinggi dan menyeberang ke Singapura pada 1928 untuk meniti perjalanan musiknya.
  • Ia berkarier dari panggung bangsawan, perusahaan rekaman, hingga industri film Melayu di Singapura.
  • Majulah Singapura diciptakan pada 1958 dan resmi menjadi lagu kebangsaan Singapura pada 1959, sebelum Zubir memperoleh kewarganegaraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kamu baru tahu Zubir belum warga Singapura saat berkarya?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Jika warga Singapura menyanyikan Majulah Singapura, nama Zubir Said hampir selalu melekat di balik lagu tersebut. Namun, sosok yang menciptakan lagu kebangsaan Singapura itu bukanlah orang yang lahir di negara berjuluk Negeri Singa tersebut.

Zubir Said lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 22 Juli 1907. Ia berasal dari keluarga Minangkabau dan baru menyeberang ke Singapura ketika berusia 21 tahun. Puluhan tahun kemudian, ia menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah musik Melayu di Singapura.

Yang menarik, Zubir bahkan belum menjadi warga negara Singapura ketika menciptakan Majulah Singapura pada 1958. Ia baru memperoleh kewarganegaraan Singapura pada 1967, dua tahun setelah Singapura menjadi negara merdeka.

Karena itu, perjalanan hidup Zubir bukan sekadar cerita tentang seorang komponis. Kisahnya adalah perjalanan seorang anak Minangkabau yang meninggalkan Bukittinggi, meniti karier dari panggung bangsawan dan industri rekaman, menjadi komponis film, lalu menghasilkan lagu yang kelak menjadi salah satu simbol paling penting sebuah negara.

Menghimpun dari berbagai sumber, berikut ini kisah sosok Zubir Said, pencipta lagu kebangsaan Singapura yang berasal dari Bukittinggi, Sumatra Barat.

  1. 1. Dari Bukittinggi, musik yang awalnya ditentang ayah

    ZubirSaid.jpg
    Sosok Zubir Said (Dok. Wikipedia)

    Zubir Said lahir di Bukittinggi ketika wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Hindia Belanda. Ia tumbuh dalam keluarga Minangkabau yang religius. Sejak kecil, Zubir sebenarnya sudah memperlihatkan ketertarikan kuat terhadap musik.

    Namun, kecintaan itu tidak serta-merta mendapatkan dukungan dari keluarga. Sang ayah menginginkan Zubir menempuh jalan yang lebih konvensional, termasuk menjadi kepala desa atau bekerja dalam pemerintahan maupun militer kolonial.

    Kondisi tersebut justru membuat perjalanan Zubir dalam dunia musik menjadi unik. Ia tidak lahir dari keluarga seniman dan tidak mendapatkan pendidikan musik formal yang panjang. Ketika masih duduk di sekolah dasar, Zubir membuat sendiri seruling dari bambu. Ia kemudian bergabung dengan kelompok anak-anak yang memainkan seruling. Ketika beranjak lebih besar, ia mempelajari gitar dan drum. Ketertarikannya terhadap musik berkembang melalui pengalaman langsung dan belajar secara mandiri.

    National Library Board Singapura mencatat, Zubir kehilangan ibunya ketika berusia tujuh tahun. Setelah itu, ia dibesarkan oleh pamannya yang merupakan seorang musisi. Ketertarikannya terhadap musik semakin kuat setelah seorang guru memperkenalkannya pada metode solfa, yakni pembelajaran nada melalui suku kata seperti do, re, mi.

    Pendidikan formal Zubir sendiri tidak berjalan mulus. Ia pernah bersekolah di sekolah Belanda, tetapi tidak menunjukkan ketertarikan besar pada pelajaran akademik. Kelak, justru pengalaman hidup dan pembelajaran secara otodidak yang membentuk kemampuan musiknya.

    Di usia muda, Zubir membentuk kelompok musik keroncong yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di Sumatra. Mereka tampil dalam berbagai acara, termasuk pesta pernikahan dan pasar rakyat. Dari sana, Zubir bukan hanya belajar memainkan musik, tetapi juga belajar memimpin kelompok dan membaca selera masyarakat. Pada titik inilah semangat merantau yang sangat kuat dalam tradisi Minangkabau bertemu dengan ambisinya sebagai musisi.

    Pada 1928, ketika berusia sekitar 21 tahun, Zubir meninggalkan Bukittinggi menuju Singapura. Ia menaiki kapal kargo dengan bekal yang sangat sederhana. National Heritage Board Singapura menyebut, Zubir hanya membawa beberapa helai pakaian, handuk, dan sedikit uang. Keputusan tersebut juga menjadi bentuk pembangkangan terhadap keinginan ayahnya.

    Singapura ketika itu merupakan pusat perdagangan dan pertemuan berbagai komunitas di Asia Tenggara. Seorang teman pelaut meyakinkan Zubir bahwa Singapura adalah tempat yang menarik dengan gemerlap lampu kota, kopi susu, dan mentega—hal-hal yang ketika itu begitu asing sekaligus menarik baginya.

    Zubir pun berangkat. Ia tidak tahu bahwa perjalanan itu kelak akan membawanya menjadi salah satu nama terpenting dalam sejarah musik Singapura.

  2. 2. Dari pemusik panggung hingga maestro film Melayu

    Setibanya di Singapura, Zubir tidak langsung menjadi komponis terkenal. Ia bergabung dengan kelompok bangsawan, bentuk teater atau opera Melayu yang populer pada masa itu. Zubir bermain biola dan tampil di Happy Valley Park, Tanjong Pagar. Lingkungan tersebut mempertemukannya dengan musisi dari berbagai latar belakang, termasuk Melayu, Peranakan, India, dan Filipina.

    Di sana pula kemampuan musiknya berkembang pesat. Zubir belajar memainkan piano dan mulai memahami notasi balok Barat. Ia sebelumnya telah terbiasa dengan notasi angka. Kemampuan menguasai dua sistem tersebut kemudian menjadi modal penting dalam perjalanan profesionalnya. Tidak lama kemudian, ia dipercaya menjadi pemimpin kelompok musik tersebut.

    Pada 1936, Zubir direkrut perusahaan rekaman His Master's Voice (HMV) sebagai pengawas rekaman. Pekerjaan itu membuatnya tidak hanya berkutat dengan musik, tetapi juga berkeliling Malaya dan Indonesia untuk mencari bakat-bakat baru.

    Kariernya sempat terhenti akibat Perang Dunia II. Pada masa pendudukan Jepang, Zubir kembali ke Bukittinggi bersama keluarganya. Ia kemudian kembali ke Singapura pada 1947. Kepulangannya bertepatan dengan kebangkitan kembali industri hiburan dan film Melayu di Singapura.

    Sebelum kembali sepenuhnya ke dunia musik, Zubir sempat bekerja sebagai fotografer dan bekerja paruh waktu di surat kabar berbahasa Melayu bernama Utusan Melayu. Pada 1948–1949, ia mulai memasuki industri film secara lebih serius melalui Shaw Brothers' Malay Film Productions.

    Salah satu film yang musiknya ia garap adalah Chinta. Film tersebut menjadi salah satu karya penting dalam industri film Melayu pascaperang. Zubir juga berperan dalam penggunaan penyanyi playback untuk film, termasuk melibatkan penyanyi seperti P Ramlee dan Nona Aishah.

    Karier Zubir kemudian semakin besar ketika bergabung dengan Cathay-Keris pada awal 1950-an. Di perusahaan tersebut, ia memperoleh ruang lebih luas untuk menggarap musik film. Bukan hanya menciptakan lagu, Zubir ikut menentukan suasana musikal sebuah film melalui musik latar dan aransemen orkestra.

    Ia kemudian menghasilkan berbagai karya yang menjadi bagian dari sejarah film dan musik Melayu, antara lain Sayang Di Sayang, Cempaka Biru, Pulang Merantau dan sejumlah lagu lainnya. Ia juga bekerja dengan sejumlah nama besar dalam industri musik dan film Melayu.

    Karya Zubir untuk film Dang Anom bahkan memperoleh penghargaan dalam Festival Film Asia 1962 di Seoul. Sebelumnya, karya-karyanya juga digunakan dalam film-film yang mendapat perhatian luas di kawasan tersebut.

    Di tengah kariernya sebagai komponis film, Zubir mulai semakin tertarik pada tema yang lebih besar yakni masyarakat, kebangsaan, kemerdekaan, dan identitas. Ia kemudian menciptakan sejumlah lagu patriotik. Salah satunya adalah Semoga Bahagia, yang kelak dikenal luas sebagai lagu yang dinyanyikan anak-anak sekolah Singapura.

  3. 3. Lahirnya lagu kebangsaan Majulah Singapura hingga menjadi warga Singapura

    Pada 1958, pemerintah Kota Singapura membutuhkan sebuah lagu untuk memperingati pembukaan kembali Victoria Theatre yang telah direnovasi. Zubir Said mendapat kepercayaan untuk menciptakannya.

    Awalnya, Majulah Singapura bukan dibuat sebagai lagu kebangsaan. Lagu tersebut merupakan lagu resmi untuk Singapore City Council. Judulnya diambil dari semboyan "Majulah Singapura" yang digunakan dalam konteks acara pembukaan gedung tersebut.

    Lagu itu pertama kali diperdengarkan kepada publik pada 6 September 1958 dalam konser untuk menandai pembukaan kembali Victoria Theatre. Sambutannya kemudian membuka jalan bagi karya tersebut untuk memiliki fungsi yang jauh lebih besar.

    Ketika Singapura memperoleh pemerintahan sendiri pada 1959, pemerintah mulai mencari lagu kebangsaan. Dr Toh Chin Chye, yang memimpin proses tersebut, tertarik pada komposisi Zubir. Namun, ada sejumlah penyesuaian yang diminta. Sebuah lagu kebangsaan harus singkat, mudah diingat, mudah dinyanyikan, serta dapat diterima oleh masyarakat Singapura yang multietnis.

    Zubir kemudian memperpendek lirik dan menyesuaikan melodinya. Bahasa Melayu dipertahankan karena dianggap memiliki kedudukan historis sebagai bahasa pribumi kawasan tersebut.

    Dalam wawancara dengan National Archives of Singapore pada 1984, Zubir menjelaskan, salah satu tantangan terbesar adalah membuat lirik yang sederhana dan dapat dipahami semua kelompok masyarakat. Ia bahkan berkonsultasi dengan ahli bahasa Melayu agar penggunaan bahasanya tepat, tetapi tidak terlalu rumit.

    Pada 3 Desember 1959, Majulah Singapura secara resmi diperkenalkan sebagai lagu kebangsaan Singapura. Momentum itu bertepatan dengan pelantikan Yusof Ishak sebagai Yang di-Pertuan Negara, kepala negara pertama Singapura yang lahir di Malaya.

    Ada satu fakta yang membuat kisah Zubir semakin menarik. Ketika Majulah Singapura ditetapkan sebagai lagu kebangsaan, Zubir Said belum menjadi warga negara Singapura.

    Ia baru memperoleh kewarganegaraan Singapura pada 1967, setelah Singapura merdeka dari Malaysia pada 1965. Artinya, Zubir menciptakan lagu yang kemudian menjadi simbol nasional sebuah negara ketika status hukumnya masih bukan warga negara negara tersebut.

    Hal itu tidak berarti Zubir merasa asing terhadap Singapura. Justru sebaliknya. Dalam sebuah wawancara, ia menekankan gagasan bahwa seseorang seharusnya memberikan kebaikan dan pengabdiannya kepada tempat di mana ia hidup. Ia juga pernah menyampaikan gagasan seseorang bisa saja secara formal berstatus warga negara tetapi tidak memberikan apa-apa kepada negaranya; sementara orang yang belum menjadi warga negara pun dapat memberikan seluruh kemampuannya kepada tempat yang dianggap sebagai rumah.

    Bahkan, Zubir tidak meminta bayaran ketika menciptakan Majulah Singapura. National Heritage Board mencatat, ia tidak menerima pembayaran untuk karya tersebut. Baginya, kesempatan berkontribusi kepada masyarakat sudah merupakan kehormatan. Pada 1963, pemerintah Singapura memberinya Sijil Kemuliaan atau Certificate of Honour sebagai penghargaan atas kontribusinya.

    Menariknya lagi, penerimaan Majulah Singapura sebagai lagu kebangsaan juga menjadi momentum emosional bagi Zubir secara pribadi. Ayahnya, yang selama bertahun-tahun berselisih dengannya karena pilihan hidupnya di dunia musik, datang dari Indonesia untuk menyaksikan momen tersebut. Saat itu usia sang ayah telah mencapai 101 tahun. Pertemuan tersebut menjadi salah satu simbol rekonsiliasi dalam kehidupan Zubir.

    Setelah pensiun dari Cathay-Keris pada 1964, Zubir tidak benar-benar meninggalkan dunia musik. Ia menghabiskan banyak waktu mengajar musik kepada generasi muda di rumahnya di Joo Chiat Place. Rumah tersebut menjadi tempat bagi anak-anak muda untuk belajar musik dan berdiskusi dengannya. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja.

    Sepanjang hidupnya, Zubir diperkirakan menciptakan lebih dari 1.500 lagu untuk film, radio, panggung, lagu populer, hingga karya-karya patriotik. Sebagian karyanya bahkan tidak terdokumentasikan secara lengkap.

    Pada 1987, Zubir Said meninggal dunia di Singapura dalam usia 80 tahun. Ia meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah lagu kebangsaan. Karyanya ikut membentuk musik Melayu modern di Singapura dan kawasan sekitarnya.

    Pemerintah Singapura kemudian berupaya melacak dan menyelamatkan berbagai partitur serta lirik karya Zubir pada dekade 1980-an. Pada 2000-an, keluarga Zubir juga bekerja sama dengan Universal Music Publishing Group untuk mengelola repertoarnya sehingga karya-karyanya dapat terus direkam dan dinikmati generasi baru. Putrinya, Rohana Zubir, kemudian menulis buku Zubir Said: The Composer of Majulah Singapura yang diterbitkan ISEAS pada 2012.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More