Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menko PMK: Anak Pintar Tak Cukup, Harus Tumbuh Tanpa Kekerasan
Menko PMK Pratikno kumpulkan empat menteri untuk mencari solusi polemik kekerasan anak di Daycare. (IDN Times/Amir Faisol).
  • Menko PMK Pratikno menegaskan pendidikan tak hanya soal nilai akademik, tapi juga tumbuh kembang anak yang sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual tanpa kekerasan maupun perundungan.
  • Pratikno mengajak semua pihak menciptakan ruang aman bagi anak di keluarga, sekolah, ruang publik, dan digital dengan melibatkan orang tua, guru, masyarakat, serta pemerintah.
  • Menteri Abdul Mu'ti menyoroti pentingnya MPLS Ramah dan kebijakan Sekolah Aman untuk membangun budaya belajar yang inklusif dan menyenangkan menuju Generasi Indonesia Emas 2045.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Pratikno bilang anak bukan cuma harus pintar, tapi juga harus tumbuh tanpa dipukul atau dimarahi. Ia dan dua menteri lain buat gerakan supaya anak punya tempat aman di rumah, sekolah, dan internet. Mereka mau semua orang bantu jaga anak biar sehat, senang belajar, dan bisa jadi orang baik nanti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengungkapkan, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik. Menurutnya, anak juga harus tumbuh sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual tanpa mengalami kekerasan maupun perundungan.

Pernyataan itu disampaikan saat peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) bersama Menteri PPPA Arifah Fauzi dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti di Malang, Senin (14/7/2026).

"Tidak ada gunanya kita mendidik anak menjadi pintar apabila mereka tidak tumbuh sehat, baik secara fisik, mental, sosial, maupun spiritual," kata Pratikno, dikutip Rabu (15/7/2026).

1. Kekerasan pada anak bisa pengaruhi masa depannya

Agenda Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) bersama Menko PMK Pratikno serta Malang, Jawa Timur, Senin (14/7/2026). (Dok/Kemenpppa)

Dia mengingatkan, dampak kekerasan terhadap anak tidak berhenti pada korban saat ini, tetapi dapat memengaruhi kesehatan mental, proses belajar, hingga masa depan mereka.

"Dampak kekerasan terhadap anak sangat besar karena dapat memengaruhi kesehatan mental, proses belajar, hingga masa depan mereka," kata dia.

2. Semua pihak perlu hadirkan ruang aman bagi anak

Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam agenda Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) bersama Menko PMK Pratikno serta Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Malang, Jawa Timur, Senin (14/7/2026). (Dok/KemenPPPA)

Pratikno mengajak seluruh pihak hadirkan ruang aman bagi anak di empat lingkungan utama, yaitu keluarga, sekolah, ruang publik, dan ruang digital. Menurutnya, perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat dengan melibatkan orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah.

"Perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat mereka. Karena itu, kita harus memastikan hadirnya ruang yang aman dan nyaman bagi anak," ujarnya.

3. MPLS ramah jadi awal bangun budaya sekolah yang baik

MPLS Sekolah Maung Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengatakan, MPLS Ramah menjadi langkah awal membangun budaya sekolah yang aman, sehat, inklusif, dan menyenangkan.

"Melalui MPLS Ramah dan kebijakan Sekolah Aman dan Nyaman, kami ingin menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman, sehat, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik," kata Abdul Mu'ti.

Pemerintah berharap, Gernas RANA menjadi gerakan nasional yang mendorong seluruh sekolah menghadirkan lingkungan belajar bebas kekerasan, sehingga anak dapat berkembang optimal dan menjadi fondasi menuju Generasi Indonesia Emas 2045.

Editorial Team

Related Article