Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Houthi Sebut Serangan Bandara Sanaa Tak Akan Berlalu Tanpa Balasan

Houthi Sebut Serangan Bandara Sanaa Tak Akan Berlalu Tanpa Balasan
ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim)
Intinya Sih
  • Pasukan pemerintah Yaman menyerang landasan Bandara Sanaa untuk mencegah pesawat Iran mendarat, memicu ancaman balasan dari Houthi yang menuding Arab Saudi berada di balik serangan tersebut.
  • Houthi disebut menahan pesawat Palang Merah di Sanaa, sementara Iran mengecam serangan bandara sebagai pelanggaran hukum internasional dan tanda berakhirnya gencatan senjata.
  • Utusan PBB Hans Grundberg mendesak semua pihak menahan diri dan menjaga de-eskalasi agar konflik Yaman tidak kembali memicu siklus kekerasan baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Ketegangan di Yaman kembali meningkat pada Senin (13/7/2026) setelah pasukan pemerintah menyerang landasan pacu Bandara Sanaa untuk mencegah pesawat asal Iran mendarat. Serangan itu dilakukan karena kelompok Houthi dianggap menghentikan penerbangan nasional Yaman, namun tetap mengizinkan pesawat Iran beroperasi. Menurut pejabat pemerintah, langkah Houthi tersebut merupakan pelanggaran terhadap wilayah udara dan kedaulatan negara.

Di sisi lain, konflik ini menjalar ke kawasan tetangga. Pasukan Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman melaporkan berhasil mencegat sebuah rudal balistik yang ditembakkan Houthi ke arah wilayah selatan Kerajaan Saudi. Juru bicara koalisi, Turki al-Malki, menyampaikan informasi itu melalui media sosial X.

Merespons serangan di fasilitas bandara tersebut, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, langsung mengeluarkan ancaman keras.

“Serangan ini tidak akan berlalu tanpa balasan dan hukuman,” kata Saree, sebagaimana dilansir Anadolu Agency. Saree juga menuding Arab Saudi berada di balik serangan itu dan menyatakan bahwa tindakan militer tersebut resmi mengakhiri perjanjian de-eskalasi dan gencatan senjata.

1. Penahanan pesawat Palang Merah Internasional

ilustrasi pangkalan militer
ilustrasi pangkalan militer (pexels.com/Nikolai Ulltang)

Sebelum operasi militer di Sanaa dilakukan, Kementerian Pertahanan Yaman menyatakan telah menempuh seluruh jalur diplomasi untuk membujuk Iran dan Houthi agar menghentikan pelanggaran wilayah udara. Karena diplomasi buntu, pemerintah menegaskan bakal merespons setiap pesawat asing yang melanggar wilayah mereka dengan segala cara.

Kondisi di lapangan semakin keruh setelah Menteri Informasi Yaman, Moammar bin Mutahar Al-Eryan, membeberkan bahwa Houthi sempat menahan pesawat milik Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Bandara Sanaa beserta pilot dan kopilotnya.

Sementara itu, pihak Houthi mengklaim bahwa pesawat dari Iran yang mereka tunggu akhirnya dialihkan dan mendarat dengan selamat di Hodeidah untuk mengangkut delegasi resmi, pasien medis, serta warga yang terdampar.

2. Dua kekuatan besar yang memecah Yaman

peta Teluk Aden
peta Teluk Aden (NormanEinstein, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Peta kendali wilayah Yaman saat ini masih terbagi antara dua kekuatan utama. Kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara, termasuk pelabuhan strategis Hodeidah. Di sisi lain, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung koalisi Saudi menjalankan operasinya dari wilayah selatan (Aden).

Konflik yang bermula sejak 2015 ini dipicu oleh aksi Houthi yang merebut ibu kota, hingga memicu intervensi militer koalisi Saudi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat perang berkepanjangan ini telah menyebabkan pengungsian massal, kerusakan infrastruktur, dan kelaparan akut hingga menjadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Tindakan pemerintah Yaman yang menjebol bandara ini memicu reaksi keras dari sekutu Houthi. Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya, Esmaeil Baghaei, mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.

3. Utusan PBB desak semua pihak menahan diri

Bendera PBB
Bendera PBB (Denelson83, Zscout370 ve Madden, Public domain, via Wikimedia Commons)

Meningkatnya tensi militer yang mengancam stabilitas gencatan senjata ini langsung memicu kekhawatiran komunitas internasional. Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menegaskan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi dengan semua kubu agar situasi tidak semakin lepas kendali.

“Kami mendesak mereka untuk de-eskalasi dan menahan diri dari tindakan apa pun yang akan membahayakan siklus kekerasan baru di Yaman,” ujar Grundberg dalam sebuah pernyataan yang dikutip Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More