Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menkominfo Ingatkan Jangan Asal Kirim Info Erupsi di Media Sosial
Ilustrasi Media Sosial. (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Menkomdigi Meutya Hafid meminta masyarakat tetap tenang dan waspada, serta tidak menyebarkan informasi erupsi Gunung Anak Krakatau tanpa memastikan kebenarannya.
  • Gunung Anak Krakatau erupsi pada 4 September 2026 dan berstatus Level III; abu terdeteksi di sejumlah wilayah, penerbangan dibatalkan, sementara isu tsunami memicu kekhawatiran.
  • Masyarakat diminta memantau informasi melalui PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, dan instansi terkait, serta menyaring pesan, video, atau foto sebelum membagikannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jumat (4/9/2026)

Gunung Anak Krakatau erupsi pada malam hari. Abu vulkanik terdeteksi di sejumlah wilayah dan sejumlah penerbangan dibatalkan.

Minggu (6/9/2026)

Meutya Hafid mengimbau masyarakat tidak menyebarkan informasi erupsi tanpa memverifikasi kebenarannya serta mengikuti kanal resmi pemerintah.

kini

Status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau siaga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Meutya Hafid mengimbau masyarakat tidak menyebarkan informasi erupsi Gunung Anak Krakatau di media sosial sebelum memastikan kebenarannya.
  • Who?
    Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, masyarakat, serta PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, dan instansi kebencanaan terkait.
  • Where?
    Imbauan disampaikan dari Jakarta; dampak abu vulkanik terdeteksi di Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
  • When?
    Gunung Anak Krakatau erupsi pada Jumat malam, 4 September 2026. Meutya menyampaikan imbauan pada Minggu, 6 September 2026.
  • Why?
    Informasi kemungkinan tsunami, dentuman, dan getaran beredar serta memicu kekhawatiran, sehingga informasi keliru berpotensi menimbulkan kepanikan.
  • How?
    Masyarakat diminta memeriksa informasi melalui kanal resmi PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, dan instansi berwenang sebelum meneruskannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Anak Krakatau meletus pada Jumat malam. Abu sampai ke Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Ada pesawat yang batal terbang. Ibu Meutya Hafid bilang orang-orang harus tenang dan tetap hati-hati. Jangan langsung kirim pesan atau video yang belum pasti. Lihat kabar resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB, atau pemerintah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, tersedianya rujukan dari PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, dan instansi terkait memberi masyarakat landasan yang jelas untuk memahami perkembangan situasi. Penekanan pada ketenangan, kewaspadaan, serta verifikasi informasi juga menempatkan media sosial sebagai sarana yang dapat membantu penyebaran kabar bertanggung jawab, bukan memperbesar keresahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, meminta masyarakat tidak mudah menyebarkan informasi mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau di media sosial tanpa memastikan kebenarannya. Imbauan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Meutya mengajak masyarakat tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dan dampaknya perlu diperoleh melalui kanal resmi pemerintah agar masyarakat tidak terpengaruh kabar yang keliru.

“Yang paling penting adalah tetap tenang, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan. Masyarakat perlu mengikuti arahan dari otoritas terkait dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipercaya,” ujar Meutya dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).

1. Gunung Anak Krakatau erupsi pada Jumat (4/9/2026)

Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi (Dok. esdm.go.id)

Gunung Anak Krakatau erupsi pada Jumat (4/9/2026) malam. Status gunung tersebut kini berada pada Level III atau siaga. Aktivitas vulkanik juga berdampak pada sebaran abu yang terdeteksi mencapai sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Situasi tersebut turut memengaruhi aktivitas penerbangan. Sejumlah penerbangan mengalami pembatalan akibat kondisi yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Di tengah kondisi tersebut, informasi mengenai kemungkinan tsunami juga beredar dan memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.

Selain itu, dentuman serta getaran yang dirasakan di beberapa wilayah Jawa Barat menambah keresahan warga. Kondisi ini membuat penyebaran informasi yang akurat menjadi semakin penting agar masyarakat tidak mengambil keputusan berdasarkan kabar yang belum terkonfirmasi.

2. Cek aktivitas erupsi di BMKG hingga PVMBG

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (IDN Times/Misrohatun)

Meutya pun meminta masyarakat untuk mengikuti informasi terbaru mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pergerakan abu vulkanik melalui lembaga yang memiliki kewenangan di bidang kebencanaan.

Sumber yang dapat dijadikan rujukan antara lain Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya.

“Pastikan keakuratan informasi dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan terkait kebencanaan gunung berapi demi menghindari misnformasi atau misleading yang dapat menyebabkan keresahan,” kata dia.

3. Jangan sebarkan informasi yang belum terverifikasi

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (IDN Times/Misrohatun)

Meutya juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati ketika menerima pesan, video, foto atau informasi lain mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau. Informasi yang belum diketahui sumber dan kebenarannya, kata dia, sebaiknya tidak langsung diteruskan kepada orang lain.

Menurut dia, media sosial memiliki peran penting dalam penyebaran informasi saat terjadi bencana. Namun, kecepatan distribusi informasi juga dapat menjadi persoalan jika masyarakat tidak melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

“Dalam situasi seperti ini, informasi yang tidak benar dapat menimbulkan kepanikan. Karena itu, saring sebelum sharing. Pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Meutya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article