Militer Pakistan Tembak Mati 48 Militan dalam Operasi di Balochistan

- Pasukan keamanan Pakistan menewaskan sedikitnya 48 militan dalam operasi 48–72 jam di Balochistan, termasuk 36 orang di Mastung, Quetta, Kalat, dan Sibi.
- Militer mengaitkan para militan dengan separatis Baloch dan TTP, menuduh mereka proksi India; New Delhi konsisten membantah tudingan dukungan terhadap militansi.
- Balochistan dilanda pemberontakan separatis puluhan tahun, sementara kekerasan meningkat tajam: Juli 2026 mencatat 606 kematian nasional dan 372 korban di provinsi itu.
Jakarta, IDN Times - Pasukan keamanan Pakistan menembak mati sedikitnya 48 militan di berbagai distrik Provinsi Balochistan dalam kurun 48 hingga 72 jam terakhir. Sayap media militer Pakistan, Inter-Services Public Relations (ISPR), mengumumkan capaian operasi antiteror tersebut pada Jumat (4/9/2026).
Operasi penindakan berskala intensif ini dilancarkan menyusul lonjakan aksi kekerasan kelompok militan dan separatis di wilayah barat daya negara tersebut. Militer menyebut tindakan tegas diambil untuk menjaga stabilitas keamanan dari ancaman milisi bersenjata di wilayah tersebut.
1. Perincian operasi penyerbuan di empat distrik

ilustrasi senjata api (pixabay.com/Piotr Zakrzewski) Dalam operasi 12 hingga 24 jam terakhir, aparat keamanan menewaskan 36 militan di Mastung, Quetta, Kalat, dan Sibi. Di Mastung, enam milisi tewas setelah pergerakan mereka dicegat aparat dan timbunan bom rakitan di lokasi langsung dihancurkan. Sementara itu, baku tembak sengit di area Shaban, Distrik Quetta, melumpuhkan 26 anggota milisi yang bersembunyi di empat tempat persembunyian.
Penggerebekan di Kalat menewaskan dua militan saat tempat persembunyian mereka digeledah pasukan keaamanan. Di Distrik Sibi, aparat bersama warga setempat menggagalkan upaya penyerbuan kantor polisi di Bhag hingga menewaskan dua pelaku. Dilansir The Express Tribune, sebanyak 12 militan lainnya telah lebih dulu dilumpuhkan di Kalat pada Rabu (2/9/2026).
2. Pernyataan militer dan tuduhan jaringan proksi

ilustrasi tentara (pexels.com/Pixabay) Pihak militer Pakistan mengelompokkan para militan yang tewas ke dalam kelompok separatis etnis Baloch dan Taliban Pakistan atau Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP). ISPR menyebut kedua kelompok bersenjata itu masing-masing dengan label Fitna al-Hindustan dan Fitna al-Khawarij. Militer Pakistan menyatakan kedua kelompok ini bertindak sebagai proksi yang didukung oleh India.
Terkait penindakan ini, ISPR merilis pernyataan resmi mengenai hasil kontak senjata tersebut. “Dalam empat puluh delapan hingga tujuh puluh dua jam terakhir, 48 teroris milik proksi India, Fitna al-Hindustan dan Fitna al-Khwarij, telah dilumpuhkan di seluruh Balochistan,” kata ISPR. Namun, pihak New Delhi secara konsisten membantah tudingan bahwa mereka mendukung aktivitas militansi di dalam wilayah Pakistan.
Operasi terpadu ini dijalankan di bawah visi kampanye nasional Azm-e-Istehkam yang disahkan oleh komite federal. Presiden Pakistan Asif Ali Zardari menegaskan komitmen pemerintah untuk menuntaskan perlawanan bersenjata hingga ke akar. “Operasi berkelanjutan oleh lembaga penegak hukum dan pasukan keamanan bertujuan untuk sepenuhnya melenyapkan terorisme yang dilindungi oleh elemen-elemen eksternal,” kata Zardari.
3. Akar konflik dan eskalasi kekerasan di Balochistan

Balochistan (Bjoertvedt, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Balochistan merupakan provinsi terluas di Pakistan namun memiliki kepadatan penduduk paling rendah. Wilayah ini telah dilanda pemberontakan separatis selama beberapa dekade yang dipimpin kelompok seperti Baloch Liberation Army dan Baloch Liberation Front. Kelompok separatis menuding pemerintah federal mengeksploitasi sumber daya gas dan mineral lokal tanpa memberikan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat setempat.
Pemerintah Pakistan membantah tudingan sengaja menelantarkan kawasan itu dan menyoroti alokasi belanja pembangunan serta proyek Koridor Ekonomi China-Pakistan. Dilansir Arab News, eskalasi pertempuran di Pakistan meningkat tajam dengan Juli 2026 tercatat sebagai bulan paling mematikan dengan total 606 korban jiwa secara nasional. Khusus di Balochistan, angka kematian melonjak hingga 241 persen dari 109 jiwa pada Juni menjadi 372 jiwa pada Juli.


















