Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mudik 2026 Lancar, Tapi Benarkah Sudah Bisa Disebut Sukses?
ilustrasi mudik (unsplash.com/Abdul Ridwan)
  • Survei Angkutan Lebaran 2026 mencatat sekitar 143,9 juta orang akan mudik, dengan mayoritas 69,72 persen masih memilih kendaraan pribadi dibandingkan transportasi umum.
  • Pembangunan jalan tol baru seperti Tol Trans Jawa dan tambahan ruas di Sumatra membuat arus mudik lebih lancar, menurunkan kemacetan serta meningkatkan kenyamanan dan keselamatan perjalanan.
  • Keterbatasan transportasi umum di daerah tujuan menjadi alasan utama masyarakat tetap memakai kendaraan pribadi, karena baru 42 pemerintah daerah yang memiliki layanan angkutan publik aktif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wajah mudik di Indonesia terus berubah seiring pembangunan infrastruktur jalan tol yang semakin masif. Perjalanan jarak jauh kini terasa lebih cepat dan relatif lancar dibandingkan beberapa tahun lalu. Namun di balik jalan yang semakin mulus, muncul pertanyaan baru: apakah kelancaran perjalanan sudah cukup untuk menyebut mudik sebagai sebuah keberhasilan?

Berdasarkan Survei Angkutan Lebaran 2026 yang dilakukan Kementerian Perhubungan bersama BPS, Kemenkomdigi, dan LAPI ITB, diperkirakan sekitar 143,9 juta orang akan melakukan perjalanan mudik tahun ini. Menariknya, sebagian besar pemudik masih mengandalkan kendaraan pribadi dibandingkan transportasi umum.

Fenomena ini memunculkan perdebatan baru tentang bagaimana sebenarnya mengukur keberhasilan mudik di Indonesia. Berikut beberapa hal penting yang patut diperhatikan.

1. Mayoritas pemudik masih mengandalkan kendaraan pribadi

Ilustrasi mudik Lebaran 2026. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Data survei menunjukkan sekitar 69,72 persen pemudik atau sekitar 100,32 juta orang menggunakan kendaraan pribadi. Mobil pribadi menjadi moda paling dominan dengan 52,98 persen, sementara sepeda motor mencapai 16,74 persen.

Di sisi lain, penggunaan transportasi umum masih lebih rendah. Bus menjadi moda transportasi publik yang paling banyak digunakan dengan 16,22 persen atau sekitar 23,34 juta penumpang. Setelahnya ada kapal penyeberangan 4,45 persen, pesawat 3,46 persen, kereta api antarkota 3,33 persen, kereta perkotaan 1,51 persen, kapal laut 0,64 persen, hingga kereta cepat 0,47 persen.

Tingginya penggunaan kendaraan pribadi menunjukkan bahwa masyarakat masih menganggap moda tersebut sebagai pilihan paling praktis untuk perjalanan mudik.

2. Jalan tol bikin perjalanan mudik makin terkendali

Kendaraan melintas di Jalan Tol Trans Jawa di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Sejak tersambungnya Tol Trans Jawa dari Jakarta hingga Surabaya, arus mudik kini jauh lebih terkendali dibandingkan beberapa tahun lalu. Kemacetan panjang yang dulu kerap membuat pemudik harus bermalam di jalan kini sudah jarang terjadi.

Selama ini, kesuksesan mudik Lebaran biasanya diukur dari terpenuhinya aspek kenyamanan, keamanan, dan keselamatan pengguna jalan. Dalam beberapa tahun terakhir, indikator tersebut memang menunjukkan perbaikan. Tingkat kenyamanan perjalanan meningkat, keamanan lebih terjaga, dan angka kecelakaan juga cenderung menurun.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan berbagai rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way untuk mengurai kepadatan kendaraan selama periode mudik.

Untuk Mudik Lebaran 2026, pemerintah menyiagakan enam ruas tol fungsional baru. Di Pulau Jawa terdapat Jakarta-Cikampek || Selatan (54,75 km), Tol Probolinggo-Banyuwangi (49,68 km), serta dua akses kunci di Jawa Tengah, Tol Jogja-Solo segmen Prambanan-Purwomartani (11,48 km) dan Tol Jogja-Bawen segmen Ambarawa-Bawen (4,85 km).

Sementara itu, di Pulau Sumatra diperkuat dengan tambahan 77,55 km jalan tol melalui Sigli–Banda Aceh Seksi 1 (22,95 km) serta Palembang–Betung Seksi 1 dan 2 (53,6 km)

Dengan jalur tol, pemudik dapat terhindar dari berbagai hambatan di jalan arteri seperti pasar tumpah, lalu lintas lokal, hingga kendaraan tradisional seperti becak atau delman.

3. Transportasi daerah masih terbatas, ini daftar wilayah yang sudah punya layanan

42 pemerintah daerah yang mengalokasikan anggaran untuk mengoperasikan angkutan umum. (MTI)

Salah satu alasan masyarakat masih mengandalkan kendaraan pribadi adalah transportasi umum di daerah tujuan yang belum merata. Saat ini baru 42 pemerintah daerah yang mengalokasikan anggaran untuk mengoperasikan angkutan umum.

Berikut wilayah yang sudah memiliki layanan transportasi tersebut:

Provinsi (12 daerah):

  • DKI Jakarta – TransJakarta

  • Aceh – Trans Koetaradja

  • Jawa Tengah – Trans Jateng

  • DI Yogyakarta – Trans Jogja

  • Jawa Timur – Trans Jatim

  • Jambi – Trans Siginjai

  • Bali – Trans Sarbagita / Trans Metro Dewata

  • Kalimantan Selatan – Trans Banjarbakula

  • Gorontalo – Trans NKRI

  • Sulawesi Selatan – Trans Sulsel

  • Jawa Barat – Jabar Metro Trans

  • Banten – Trans Banten

Kota (18 daerah):

  • Kota Medan – Trans Metro Deli

  • Kota Binjai – Trans Binjai

  • Kota Padang – Trans Padang

  • Kota Pekanbaru – Trans Pekanbaru

  • Kota Batam – Trans Batam

  • Kota Palembang – Trans Musi Jaya

  • Kota Tangerang – Trans Tayo

  • Kota Bogor – Trans Pakuan

  • Kota Bekasi – Trans Beken

  • Kota Bandung – Trans Metro Bandung

  • Kota Surakarta – Batik Solo Trans

  • Kota Semarang – Trans Semarang

  • Kota Banjarmasin – Trans Banjarmasin

  • Kota Surabaya – Suroboyo Bus

  • Kota Kediri – Trans Kediri

  • Kota Banjarbaru – Angkutan Juara

  • Kota Palu – Trans Palu

  • Kota Jambi – Trans Bahagia

Kabupaten (12 daerah):

  • Kabupaten Aceh Besar – Trans Jantho

  • Kabupaten Bekasi – Trans Wibawa Mukti

  • Kabupaten Trenggalek – Trans Trenggalek

  • Kabupaten Tuban – Si Mas Ganteng

  • Kabupaten Bangkalan – Trans Bangkalan

  • Kabupaten Gianyar – Trans Gianyar

  • Kabupaten Tanah Laut – Trans Lakatan

  • Kabupaten Banjar – Trans Intan

  • Kabupaten Tabalong – Trans Langsat Manis

  • Kabupaten Balangan – Trans Sanggam

  • Kabupaten Donggala – Trans Donggala

  • Kabupaten Kotabaru – Trans Saijaan

Selain itu, terdapat lima daerah yang masih mendapat dukungan APBN dan berpotensi beralih ke pembiayaan APBD, yaitu Kota Depok (Trans Depok), Kota Balikpapan (Balikpapan City Trans), Kota Manado (Trans Manado), Kota Bekasi (Trans Patriot), serta Kabupaten Banyumas (Trans Banyumas).

Menurut akademisi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, keberhasilan memindahkan pemudik ke transportasi umum sangat bergantung pada pembenahan layanan di daerah.

Selama mobilitas di daerah tujuan masih sulit tanpa kendaraan pribadi, penggunaan mobil dan sepeda motor untuk mudik kemungkinan besar akan tetap tinggi.

Editorial Team